Pasang Iklan Di Sini

Friday, March 13, 2015

Ceramah Dhamma (22) : MERAJUT MIMPI MERAIH ASA DI TAHUN BARU IMLEK

MERAJUT MIMPI MERAIH ASA DI TAHUN BARU IMLEK

Yo ca vassasatam jive, Kusito hinaviriyo
Eka ham jivitam heyyo, Viriyamarabhato dalham ‘ ti
“Dari pada hidup selama 100 tahun bermalas-malasan dan kurang berusaha, lebih baik hidup satu hari yang penuh dengan semangat perjuangan”
(Dhammapada VIII: 112)

Pendahuluan
      Apabila kita bertanya kepada seorang anak kecil yang masih polos, tentang cita-cita mereka kalau sudah besar nanti. Kemungkinan mereka akan menjawab dengan lantang “aku ingin menjadi presiden” atau “aku ingin jadi dokter” dan lain sebagainya. Setiap manusia besar maupun kecil, kaya ataupun miskin , terpelajar ataupun yang kurang terpelajar, pasti memiliki impian cita-cita yang ingin dicapai kelak di kemudian hari. Sebagai manusia biasa, wajarlah kita masih memiliki impian. Karena impian itulah , maka kita bisa berjuang untuk hidup. Sejak dahulu kala ketika manusia masih sangat primitive, manusia selalu berpikir untuk berupaya menemukan sesuatu yang akan menjadikan hidupnya senang dan nyaman. Tidak bisa dipungkiri, bahwa sepanjang hidup manusia selalu mengejar apa yang menjadi impian mereka. “Hidup berawal dari mimpi”, itulah sepenggal syair dari  sebuah lagu yang bisa menjadi motivasi bagi kita untuk berjuang meraih apa yang menjadi keinginan kita di masa mendatang. Kalau kita memperhatikan setangkai bunga mawar,kelopaknya yang mekar idah menyenangkan hati bagi siapa saja yang melihatnya. Nmun dibalik keindahannya itu ada duri-duri tajam yang siap menusuk mereka yang tidak hati-hati memegang tangkainya. Demikian juga ada tiga jenis manusia dalam memandang hidup dan kehidupan ini sebagai :

1.      Bagai seseorang yang kaya raya, mapan dalam perekonomian, terpandang karena jabatan, orang yang optimis, ia yakin bahwa di dunia yang ia tempati hanya ada kebahagiaan, kesenangan dan kemewahan. Tidak ada ruang bagi kesedihan dan ratap tangis. Baginya hidup seperti berada di alam surga.

2.      Bagi seseorang yang didera kemiskinan, kesulitan ekonomi, berada di kelas bawah dalam masyarakat, tidak terdidik. Seorang pesimis yang memandang kehidupan ini sebagai neraka penuh


 Sumber : dikutip dari Berita Dhammacakka

No comments:

Post a Comment