Selasa, 19 Agustus 2014

Sadarlah Akan Kenyataan

Sadarlah Akan Kenyataan

Uttiṭṭhe nappamajjeyya, dhammaṁ sucaritaṁ care.
Dhammacārī sukhaṁ seti, asmiṁ loke paramhi ca.

Bangun! Jangan lengah! Tempuhlah kehidupan benar. Orang yang menjalani kehidupan benar akan berbahagia, di kehidupan ini maupun di kehidupan selanjutnya. 
(Dhammpada168)

Dalam benak setiap orang, jika terjadi hal-hal yang kurang menyenangkan atau tidak menguntungkan sering menganggap  kehidupan itu sebagai sebuah musibah atau bencana. Apalagi di saat memilih di antara beberapa pilihan dan yang dipilih tidak sama dengan harapan yang ada pada dirinya, maka ia akan mulai timbul rasa menyesal dan mengatakan “seharusnya saya memilih bukan yang ini…”. Demikian pula ketika apa yang dimiliki mulai berubah atau berpisah dari dirinya, sebagian orang juga akan mengatakan “Seharusnya ini tidak boleh begini…”.

Demikian pula sebaliknya, ketika seseorang dalam hidupnya penuh kemudahan, kenyamanan, dan kesenangan, bahkan apa yang diinginkan terlaksana dengan baik, orang tidak lagi memandang hidup ini sebagai musibah atau penderitaan. Dalam hidup yang nyaman dan menyenangkan orang tidak pernah mengatakan “seharusnya saya memilih bukan yang ini…”. Demikian pula ketika apa yang dimiliki belum berubah atau belum berpisah darinya, seseorang juga tidak pernah mengatakan” seharusnya ini tidak boleh begini….”.

Bangunlah
Dalam hidup ini tidak ada yang “seharusnya” karena kehidupan ini adalah tidak ada yang pasti. Sang Buddha nyatakan maraṇaæ niyataṁ, jîvitaṁ aniyataṁ artinya kematian itu pasti, tetapi kehidupan itu tidak pasti. Dari sini kita yang belajar Dhamma berusaha untuk melihat hidup ini sebagaimana adanya sesuai hakikatnya, sehingga kita tidak lagi mengatakan: “seharusnya hidup saya begitu, bukan begini”. Mengapa? Karena kita mengerti bahwa kehidupan kita ini tergantung dari apa yang kita lakukan. Demikian pula apa yang kita dapatkan dalam hidup saat ini, juga merupakan hasil dari apa yang pernah kita lakukan sebelumnya yang merupakan salah satu pengkondisi.

Jalanilah Hidup yang Benar
Setelah kita memahami kehidupan kita yang tidak pasti, maka kita seyogyanya mengisi kehidupan kita dengan benar. Mengapa kita perlu menjalani hidup dengan benar? Di dalam Dhammapada syair 168: “Dhammaṁ sucaritaṁ care, dhammacārī sukhaṁ seti, asmiṁ loke paramhi ca, artinya: tempuhlah kehidupan benar,  orang yang menjalani kehidupan benar akan berbahagia, di kehidupan ini maupun di kehidupan selanjutnya”. Dari sini kita tahu bahwa betapa bermanfaatnya cara hidup yang benar. Orang yang hidup dengan benar tidak akan pernah ada penyesalan ataupun merasa sia-sia di waktu hidupnya. Karena siapapun yang menjalankan hidup yang benar, akan senantiasa membawa kedamaian dan ketentraman bagi siapa pun di sekitarnya.

Seandainya kehidupannya itu singkat atau tidak panjang, hidupnya itu sudah sangat beruntung sekali. Karena telah membuat sebuah perbuatan baik. Oleh karenanya, apa yang akan kita lakukan senantiasa kita mengisinya dengan kebajikan, menjauhkan diri dari hal-hal yang buruk serta mengembangkan keluhuran batin kita.

Hari-Hari yang Bahagia; 
Dalam kitap Aṅguttara Nikāya bagian Tikanipāta (III, 150) Sang Buddha memberikan nasehat atau petunjuk tentang: Hari-hari yang bahagia; bagaimana hari-hari yang bahagia itu:

“Para bhikkhu, makhluk apapun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang pagi hari, maka pagi hari yang bahagia akan menjadi milik mereka.
Makhluk apapun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang siang hari, maka siang hari yang bahagia akan menjadi milik mereka.

Makhluk apapun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang malam hari, maka malam hari yang bahagia akan menjadi milik mereka.”

Inilah pesan Sang Buddha kepada kita dalam mengisi hidup dalam keseharian. Ternyata untuk memilih hari-hari yang bahagia itu bukan tergantung dari hitungan perbintangan atau bertanya pada peramal, tetapi hari akan menjadi hari yang benar-benar bahagia, jika kita berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran kita dalam keseharian kita.

Kesimpulan 
Karena kehidupan kita tidak ada yang selalu pasti, maka sadarilah kenyataan ini sebagai mana adanya. Serta pahamilah bahwa apa yang kita perbuat akan menjadi tanaman kita dan apa yang kita dapatkan tidak lepas dari buah yang pernah kita lakukan sebelumnya. Oleh karena itu, isilah hari-hari kita dengan berperilaku benar apakah melalui tubuh, ucapan, dan pikiran.

Semoga anda semakin  maju dalam praktik Dhamma dan berbahagia di dalam Dhamma.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia dan damai.

http://www.dhammacakka.org/?channel=ceramah&mode=detailbd&id=335

Mengikis Keakuan Di Dalam Diri

Mengikis Keakuan Di Dalam Diri

Sabbe tasanti daṇḍassa, sabbesaṁ jīvitaṁ piyaṁ
Attānaṁ upamaṁ katvā, na haneyya na ghātaye.

Semua makhluk gemetar karena cambuk, hidup sangatlah berharga 
bagi semuanya. Dengan membandingkan orang lain dengan diri kita, 
kita seharusnya tidak menyiksa atau membunuh makhluk lain.
(Dhammapada, 130)

Pada umumnya setiap orang yang belum mencapai tataran kesucian batin, nampaknya keakuan, keegoisan akan menjadi dilema bagi kehidupan manusia. Keakuan akan menjadi wabah penyakit bagi batin, berbahaya bagi semua makhluk hidup, dunia menjadi tidak aman, dan kesejehteraan akan memudar.

Seringnya menilai seseorang dan menganggap dirinya di atas kemampuan orang lain, mudah sekali menghina, mencela ataupun menghujat karena merasa dirinya paling pandai, sehingga kita dikuasai oleh pikiran buruk, namun sebenarnya kitalah yang mampu mengendalikan pikiran itu. Karena kita masih dibayangi oleh bayangan kita sendiri, kita mudah sekali melakukan tindakan yang negatif. Misalkan "kamu jelek, bodoh, hitam, miskin". Secara langsung, sesungguhnya kita mengembangkan keakuan bukan mengurangi keakuan/keegoan itu sendiri.

Sang Buddha selalu mengajarkan untuk merenung akan setiap kejadian yang kita lakukan. Misalkan merenungkan tentang hakikat kehidupan yang sesungguhnya dengan apa adanya. Konflik di mana-mana pasti ada, walau bersembunyi di goa, gunung, bahkan di dasar laut, dengan maksud supaya tidak terganggu dengan problem yang ada. Namun, kenyataannya konflik terus menimpa dan membakar ia yang masih mempunyai keserakahan (lobha), amarah (dosa), dan kegelapan batin (avijja/moha).

Keakuan yang ada di dalam diri kita hendaknya berusaha dikikis dengan penuh perjuangan. Lantas, bagaimana cara mengikis keakuan di dalam diri kita?
1.    Memiliki Pengertian Tentang Konsep Anattā
Sang Buddha menyatakan dalam Anattalakkhaṇa Sutta tentang konsep anatta, bahwa; 
"O para bhikkhu, bagaimanakah pandangan kalian terhadap tubuh jasmani, perasaan, persepsi, bentuk-bentuk pikiran, dan kesadaran indra, apakah hal ini kekal (nicca), atau tidak kekal (anicca)?"
"Tidak kekal bhante," jawab para bhikkhu. 
Apakah sesuatu yang tidak kekal itu kebahagiaan (sukha), atau penderitaan (dukkha)?"
"Penderitaan, bhante."
"Sekarang, sesuatu yang tidak kekal, penderitaan, dan senantiasa berubah itu, apakah patut dipandang sebagai, 'ini milikku, ini aku, ini diriku.?"
"Tidak patut, bhante." 
Jadi, apa yang perlu kita banggakan di dalam diri? Pada hakekatnya tidak ada aku di dalam diri, lalu mengapa harus membenci, harus mencela, dan membuat orang lain terpuruk dan sakit hati. 
Seyogyanya berusaha untuk menjadi manusia yang berkualitas bukan makhluk manusia yang hanya sekadar bernafas.
Konsep ajaran Sang Buddha tentang anattā yang menyatakan bahwa ini bukan aku, ini bukan diriku, ini bukan milikku sangat dalam dan membuat seseorang akan menjadi sadar dan bijaksana. Manusia dan makhluk-makhluk hidup ataupun benda hidup hanya tunduk pada hukum kebenaran anicca, dukkha, dan anattā. Jika direnungkan akan sangat bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.

2.    Berlatih untuk Rela Melepas
Solusi mengikis keakuan di dalam diri adalah dengan mengembangkan sifat murah hati, mau membagi sebagian harta milik, memiliki jiwa kedermawanan, dan tidak melekat dengan apa yang dimiliki. Karena apa yang diperoleh dengan usaha yang semangat bukanlah menjadi milik yang sesungguhnya. Harta, tahta, dan lain-lain hanya sebagai kebutuhan dan pelengkap di masa sekarang, namun bukan menjadi milik mutlak.

3.    Praktik Meditasi
Meditasi merupakan praktik Dhamma yang mulia, yang akan menjadikan seseorang memiliki pikiran yang jernih, merubah perilaku seseorang yang tidak baik menjadi baik dan yang sudah baik akan menjadi lebih baik dan mampu melihat dengan jelas fenomena/realita kehidupan sebagaimana adanya.

Kesimpulan
Secara umum, tidak ada aku (attā) yang menjadi milik permanen. Berusahalah untuk menjadi manusia yang sadar dan bijaksana dalam menilai setiap kondisi dan situasi yang ada. Sehingga kedamaian  dan kemakmuran akan ada pada setiap langkah di manapun kita berada. Baik dalam situasi bekerja, berbisnis, dan beraktifitas yang lainnya.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Referensi: 
1.    Http://www.Accesstoinsight.Org/Tipitaka/ Sn/Sn22/Sn22.059. Nymo.Html
2.    Saṁyutta Nikāya, Bagian Buku Besar (Mahāvagga), Bhojjhaṅgasaṁyutta

http://www.dhammacakka.org/?channel=ceramah&mode=detailbd&id=336

Merenungkan Kematian

Merenungkan Kematian

Ajjeva kiccamātappaṁ, Ko jaññā maraṇaṁ suve’ti

“Berusahalah hari ini juga!Siapa tahu kematian ada di esok hari”
(Bhaddekaratta Sutta, Majjhima Nikāya)

DalamAṅguttara Nikāya, Pañcakanipata Pāḷi, Buddha mengajarkan kita agar kerap kali melakukan lima perenungan. Salah satu dari lima perenungan itu adalah merenungkan kematian. Bagi sebagian orang yang memiliki pandangan materialis, membicakan kematian adalah sesuatu yang dianggap tabu, padahal secara Dhamma , kematian adalah hal yang wajar, alami yang pasti terjadi pada setiap makhluk yang terlahirkan.

Buddha mengajarkan kita melakukan perenungan terhadap kematian adalahmemiliki tujuan agar kitatidak sombong dalam menjalanikehidupan, tidak melakukan kejahatan dan melakukan lebih banyak lagi kebajikan yang pasti akan memberi manfaat ketika hidup kita ini berakhir.

Singkatnya Kehidupan
Dalam Aṅguttara Nikāya, Sattakanipata Pāḷi, Buddha menjelaskan betapa kehidupan ini amat sangat singkat dengan tujuh perumpamaan yang ada di sekitar kita.
1.    Bagaikan setetes embun diujung rumput akan lenyap dengan cepat pada saat matahari terbit,demikian pula kehidupan manusia ini bagaikan setetes embun, pendek, terbatas dan singkat.
2.    Bagaikan saat hujan turun, airnya jatuh di kolam membuat gelembung air (riak lingkaran) akan lenyap dengan cepat, demikian pula, kehidupan manusia ini bagaikan gelembung air, pendek, terbatas dan singkat.
3.    Bagaikan garis yang digores di atas air dengan tongkat akan lenyap dengan cepat dan tidak berumur panjang, demikian pula, kehidupan manusia ini bagaikan garis yang digores di atas air, pendek, terbatas dan singkat.
4.    Bagaikan aliran sungai di gunung, yang airnya mengalir cepat, tidak diam sesaat, sedetikpun, terus bergerak, dan mengalir maju, demikian pula, kehidupan manusia ini bagaikan aliran sungai di gunung, pendek, terbatas dan singkat.
5.    Bagaikan seorang pria yang kuat dapat membentuk segumpal ludah di ujung lidahnya dan meludahkannya keluar denganmudah, demikian pula, kehidupan manusia ini bagaikan segumpalludah, pendek, terbatas dan singkat.
6.    Bagaikan sepotong daging yang dibuang ke dalam panci besi yang dipanaskan sepanjang hari akan terbakar habis dengan cepat dan tidak bertahan lama, demikian pula, kehidupan manusia ini bagaikan sepotong daging yang dibuang ke panci panas, pendek, terbatas dan singkat.
7.    Bagaikan sapi potong akan dibawa ke tempat penyembelihan (rumah jagal), setiap satu kakinya diangkat dia akan semakin dekat dengan kematian, demikian pula, kehidupan manusia ini bagaikan ternak yang dibawa untuk disembelih, pendek, terbatas dan singkat.

Hal Yang Harus Dilakukan
Menyadari bahwa kita bakal mengalami kematian, maka hal yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan bekal sebelum kematian itu tiba.Seperti halnya bilamana kita akan bepergian, melakukan perjalanan, kita akan mempersiapkan segala perbekalan; baju, makanan, kendaraan, tempat menginap, dan sebagainya(pergi untuk kembali lagi). Begitu juga kita hendaknya menyiapkan bekal untuk kita pergi selamanya dari kehidupaan saat ini (pergi tidak kembali lagi).

Dalam Dhammapada 53, Buddha menyatakan:“Seperti dari setumpuk bunga dapat dibuat banyak karangan bunga, demikian pula banyak kebajikan dapat dilakukan oleh manusia di dunia ini.”Bait Dhamma ini menyadarkan kita, bahwa kesempatan saat ini banyak sekali kesempatan berbuat baik yang bisa kita lakukan; berdana, melatih sila, mengembangkan Samadhi.

Jangan Menunda Berbuat Bajik
Kadang kita malas berbuat baik, selalu menunda dan menunda lagi.Kita harus ingat kesempatan tidak datang dua kali, maka setiap kali ada kesempatan berbuat baik,manfaatkanlah dengan sebaikbaiknya. Ingat pula kalimat yang terdapat pada Bhaddekaratta Sutta, Majjhima Nikāya:  Ajjeva kiccamātappaṁ, ko jaññā maraṇaṁ suve’ti.“Berusahalah hari ini juga! Siapa tahu kematian ada di esok hari”

Kesimpulan
Kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan, kematian adalah sesuatu yang sifatnya alami, tidak perlu ditakuti.Menyadari bahwa kita bakal mati, yang perlu kita lakukan adalah memperbaiki diri. Memperbaiki, mengendalikan pikiran, ucapan dan perbuatan kita, karena  pikiran, ucapan, dan perbuatan yang baik akan menjadi “juru selamat sejati” pada saat kita mati nanti.

“Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri, karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya?Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat sukar dicari”. (Dhammapada 160)

Sumber :
-    Petikan Aïguttara Nikāya, Vihāra Bodhivaṁsa –Klaten
-    Dhammapada, Yayasan Dhammadipa Arama
-    Paritta Suci, Yayasan Saïgha Theravada Indonesia.

http://www.dhammacakka.org/?channel=ceramah&mode=detailbd&id=334

Perbuatan Kita Menjadi Penyelamat Kita dan pertanyaan 7 pemuda Subha

Perbuatan Kita Menjadi Penyelamat Kita

Yassa pāpaṁ kataṁ kammaṁ kusalanena pahīyati
Somaṁ lokaṁ pabhāseti abhā muttova candimā

Barang siapa meninggalkan perbuatan jahat yang pernah dilakukan dengan jalan berbuat kebajikan, maka ia akan menerangi dunia ini bagaikan bulan yang terbebas dari awan.
(Dhammapada 173)

Kondisi lingkungan sekitar membuat kita tahu berbagai macam hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan di alam semesta. Jika kita perhatikan betapa banyak sekali manusia yang lahir di muka bumi ini. Tahun 2012 saja jumlah penduduk hampir mencapai 7 miliyar.

Dari sekian banyak jumlah penduduk dunia tersebut masing-masing individu punya ciri-ciri fisik dan mental yang berbeda. Kalau pun ada seorang kembar yang terlahir dari satu rahim seorang ibu yang sama, tetap saja hanya bentuk fisiknya saja yang tampak mirip, namun secara mental mereka berbeda. Secara fisik dan mental tiap-tiap orang terlihat berbeda-beda. Ada yang memiliki fisik rupawan namun ada yang tidak. Ada yang bisa menikmati usia panjang namun ada yang berusia pendek. Ada yang selalu segar bugar namun ada yang sakit-sakitan. Ada yang punya pengaruh besar di lingkungannya namun ada yang terkucil. Ada yang sukses secara materi dan berkelimpahan harta namun ada yang hidup serba kekurangan. Ada yang lahir dengan kecerdasan dan kebijaksanaan tetapi ada yang agak lamban. Pernahkah kita merenungkan kenapa hal-hal tersebut bisa terjadi? Bagi kita yang sedikit banyak sudah belajar Dhamma akan tahu, itu terjadi karena berbagai macam sebab dan kondisi. Nah, pertanyaan-pertanyaan seperti ini juga pernah diajukan oleh seorang pemuda bernama Subha kepada Sang Buddha yang tertulis dalam kitab Majjhima Nikāya 135, petikan sutta tersebut adalah sebagai berikut:
"Samana Gotama, apakah alasan dan penyebabnya sehingga di antara manusia ada yang inferior dan superior? Begitu pula, ada orang yang berusia pendek dan ada yang berusia panjang, ada yang sakit-sakitan dan ada yang sehat, ada yang buruk rupa dan ada yang elok rupawan, ada yang tidak berpengaruh dan ada yang berpengaruh, ada yang miskin dan ada yang kaya, ada yang lahir di kalangan rendah dan ada yang di kalangan atas, ada yang bodoh dan ada yang bijaksana. Apakah penyebab dan kondisinya, Samana Gotama, sehingga manusia terlihat inferior dan superior?”

"Subha, makhluk-makhluk adalah pemilik perbuatan mereka sendiri, pewaris perbuatan mereka sendiri, lahir dari perbuatan mereka sendiri, terikat pada perbuatan mereka sendiri, dan terlindungi oleh perbuatan mereka sendiri. Perbuatan/tindakan itulah yang membedakan makhluk-makhluk menjadi inferior dan superior.”

Mendapatkan jawaban seperti ini Subha belum paham,  lantas dia memohon penjelasan yang lebih rinci. Kemudian Sang Buddha menjelaskan hukum sebab dan akibat yang nantinya akan dipahami oleh Subha. 
1.    Mengapa ada orang yang berusia pendek dan ada yang berusia panjang? Jalan yang membawa pada usia pendek, yaitu orang yang membunuh makhluk hidup dan berjiwa pembunuh, tangannya bernoda darah, suka berkelahi dan suka kekerasan, tidak berbelas kasih pada makhluk hidup. Sedangkan jalan yang membawa pada usia panjang yaitu meninggalkan pembunuhan, tidak melakukan pembunuhan, menyingkir dari tongkat dan senjata, dengan lembut menyebarkan belas kasih kepada semua makhluk.
2.    Mengapa ada orang yang berpenyakitan tapi di sisi lain ada yang sehat? Jalan yang membawa seseorang menjadi sakit-sakitan, yaitu orang yang suka melukai makhluk-makhluk dengan tangan, dengan bungkahan, dengan tongkat, atau dengan pisau. Sedangkan jalan yang membawa seseorang menjadi sehat, yaitu orang yang tidak melukai makhluk-makhluk dengan tangan, dengan bungkahan, dengan tongkat, atau dengan pisau.
3.    Mengapa ada orang yang lahir degan wajah buruk dan ada yang elok rupawan? Jalan yang membawa orang terlahir buruk rupa, yaitu orang yang memiliki watak pemarah dan mudah marah, bahkan bila dikritik sedikit saja dia tersinggung, menunjukkan kemarahan, kebencian, dan permusuhan. Sedangkan jalan yang membawa seseorang menjadi elok rupawan, adalah orang yang memiliki sifat sebaliknya, tidak pemarah, sabar, mudah memaafkan.
4.    Mengapa ada orang yang tidak berpengaruh dan ada yang berpengaruh? Jalan yang membawa seseorang tidak terpengaruh, yaitu orang yang bersifat iri hati, membenci, tidak senang terhadap perolehan orang lain. Sedangkan jalan yang membawa seseorang menjadi berpengaruh, yaitu orang yang mengembangkan sifat sebaliknya, ikut berbahagia atas perolehan orang lain.
5.    Mengapa ada orang yang miskin dan ada yang kaya? Jalan yang membawa seseorang menjadi miskin, yaitu orang yang kikir, tidak mau berbagi barang kebutuhan kepada para petapa dan brahmana. Sedangkan jalan membawa seseorang menjadi kaya, yaitu orang yang dermawan, gembira dalam berbagi barang kebutuhan kepada para petapa dan brahmana.
6.    Mengapa ada orang yang lahir di kalangan rendah dan ada orang yang lahir di kalangan atas? Jalan yang membawa seseorang terlahir di kalangan rendah, yaitu orang bersifat keras kepala dan sombong, tidak menghormat mereka yang patut dihormati. Sedangkan jalan yang membawa seseorang terlahir di kalangan atas, yaitu orang yang rendah hati, tidak sombong, menghormat mereka yang patut dihormati.
7.    Mengapa ada orang yang bodoh dan ada orang yang bijaksana? Jalan yang membawa seseorang terlahir sebagai orang bodoh adalah orang yang tidak mau mengunjungi para petapa atau brahmana untuk menanyakan hal-hal mana yang patut dilakukan dan hal-hal apa yang tidak patut dilakukan. Sedangkan jalan yang membawa seseorang menjadi bijaksana, yaitu orang yang suka mengunjungi para petapa dan brahmana, menanyakan hal-hal apa yang patut dilakukan dan hal-hal apa yang tidak patut dilakukan.

Kepiawaian Sang Buddha dalam menjawab pertanyaan, membuat pemuda Subha mengerti sebab-sebab kenapa kelahiran tiap-tiap orang tidak ada yang sama, sehingga dia mempunyai keyakinan kuat dan pergi berlindung pada Tiratana.

Semoga Dhamma yang telah dipelajari dan dipraktikkan akan menjadi kondisi untuk terwujudnya kebaikan dan kebahagiaan. Oleh karena itu mulailah dari sekarang pupuk perbuatan yang baik dalam kehidupan ini dan jadikanlah Dhamma sebagai pedoman hidup kita. Semoga selalu maju dalam Dhamma.

Sumber: 
Dhammapada 173 & Sutta Pitaka, Majjhima Nikāya 135.

http://www.dhammacakka.org/?channel=ceramah&mode=detailbd&id=348

Ini Lima Kesalahan Agen Properti dalam Pemasaran via Online

Ini Lima Kesalahan Agen Properti dalam Pemasaran via Online

Reporter : Ramdania | Senin, 18 Agustus 2014 14:29

Ini Lima Kesalahan Agen Properti dalam Pemasaran via Online
Banyak agen yang meremehkan masalah kecil dalam menjual propertinya melalui online. Padahal, hal kecil ini jika diperhatikan mampu mengalahkan pesaing lain dalam bisnis properti.

Dream - Portal properti global Lamudi mencatat beberapa kesalahan yang terjadi dalam bisnis properti online. Begitu banyak daftar properti baru yang muncul di internet membuat Anda selaku agen properti perlu berpikir keras agar menonjol dari pesaing Anda.
Salah satu caranya dengan mengindentifikasi beberapa kesalahan yang sering dilakukan para agen properti. Lamudi melihat ada sekitar 5 kesalahan yang sering dilakukan agen properti. Berikut kesalahan tersebut yang dikutip dari  Arab News, Senin, 18 Agustus 2014:
1. Tidak memiliki atau hanya sedikit memiliki foto properti yang dijual. Sebagai agen properti yang memasarkan properti melalui online, sangat membutuhkan daftar yang menarik pembaca. Caranya, dengan menampilkan foto yang bagus dan lengkap yang menggambarkan setiap sudut properti tersebut.
2. Ketidakmampuan berbahasa yang baik. Bahasa memiliki peran penting dalam memasarkan real estate. Jadi pastikan Anda memeriksa penggunaan bahasa Anda sebelum memasukkannya ke dalam daftar penjualan properti. Deskripsikan properti dengan cara persuasif tanpa membuat pembeli bertanya-tanya.
3. Tidak memberikan penjelasan yang lengkap, termasuk penggambaran mengenai lingkungan sekitar. Banyak agen properti hanya menggambarkan kondisi properti tanpa menjelaskan keadaan lingkungannnya. Jika agen menyebutkan keadaan lingkungan ini maka akan menarik pemburu properti.
4. Tidak mencantumkan kelebihan properti yang dijual. Banyak agen yang meremehkan kelebihan rumah dalam deskripsi properti yang akan dijualnya. Padahal, hemat energi karena cahaya yang masuk ke dalam rumah cukup, atau rumah mampu menahan dingin di musim dingin merupakan daya tarik untuk pembeli.
5. Tidak menyediakan manfaat tambahan. Agen properti tidak memberikan tambahan manfaat seperti pemberian asuransi atau alat keamanan rumah. Jika mereka mampu menyediakan manfaat tambahan ini maka properti yang dijualnya memiliki nilai tambah dibandingkan properti yang dijual pesaingnya.


http://www.dream.co.id/dinar/lima-kesalahan-agen-properti-dalam-pemasaran-via-online-1408184.html

Pernikahan Potensial Berujung Cerai Kalau Muncul Empat Pertanda Ini

Pernikahan Potensial Berujung Cerai Kalau Muncul Empat Pertanda Ini

Selasa, 19 Agustus 2014 03:45 WIB

Pernikahan Potensial Berujung Cerai Kalau Muncul Empat Pertanda Ini

TRIBUNNEWS.COM - Seorang penulis, John Gottman, dapat menebak pasangan suami istri akan bercerai atau bertahan. Tingkat akurasi Gottman mencapai 91 persen.
Lewat bukunya yang bertajuk The Seven Principles for Making Marriage Work, Gottman menyimpulkan terdapat empat sinyal yang mengindikasikan hubungan yang tidak sehat, dan berkemungkinan besar gagal. Penjelasan lebih rinci, seperti terurai berikut ini:
Sering lempar kritik
Hati-hati dalam memberikan kritik pada pasangan. Sebab, kritikan selalu berkonotasi sebagai media untuk menyerang seseorang. Jadi, saat akan melontarkan kritikan pada suami atau istri, pastikan kata-kata yang Anda ucapkan terdengar lebih bijak dan positif. Selain itu, ciptakan nuansa seperti berdiskusi, bukan bertengkar.
Merendahkan
Gerakan bola mata yang memutar, mengejek, mengolok-olok, dan meremehkan adalah tanda-tanda sikap yang merendahkan orang lain. Salah satu pemicu hancurnya rumahtangga adalah pasangan yang tidak saling menghargai dan menghormati satu sama lain.
Defensif
Saat Anda dan pasangan terlibat masalah, sebaiknya segera bicarakan dan hindarilah untuk saling menuduh. Sebab, sifat defensif tidak menyelesaikan persoalan!
Diam seribu bahasa
Menyerah atau pasrah bukan pilihan yang dapat menyelesaikan konflik pada pasangan. Sifat yang demikian hanya membuat Anda dan suami semakin berjarak dan membuat hubungan semakin tegang.


http://www.tribunnews.com/lifestyle/2014/08/19/pernikahan-potensial-berujung-cerai-kalau-muncul-empat-pertanda-ini

Selain Makanan, Ini Lima Pemicu Asam Urat Cepat Muncul

Selain Makanan, Ini Lima Pemicu Asam Urat Cepat Muncul

Selasa, 19 Agustus 2014 04:44 WIB

Selain Makanan, Ini Lima Pemicu Asam Urat Cepat Muncul
TRIBUNNEWS.COM - Asam urat menyulitkan aktivitas kita. Selain karena makanan, ada lima faktor penyebab asam urat. Apa saja itu?
1. Usia
Gout lebih banyak ditemukan pada orang berusia 45 tahun ke atas, meski tak sedikit juga orang yang baru menginjak usia 30 tahun sudah menderita asam urat.
"Semakin tua seseorang, risiko menderita asam urat akan semakin besar," kata Theodore Fields, MD, profesor dan ahli sendi. Pasalnya, usia yang menua berarti fungsi ginjal berkurang. Hal ini berakibat pada kadar asam urat yang bertambah. Obat-obat yang dipakai seiring bertambahnya usia juga dapat meningkatkan risiko terkena asam urat.
2. Kondisi kesehatan
Orang yang mengidap penyakit lain cenderung terkena asam urat, misalnya kegemukan atau diabetes. Penderita obesitas punya risiko empat kali lebih besar menderita asam urat dibanding yang berberat badan normal.
Resistensi insulin dan diabetes juga memicu terbentuknya asam urat karena kondisi tersebut mengganggu fungsi ginjal. Penderita tumor ganas pun juga dapat mempunyai kadar asam urat yang tinggi.
3. Jenis kelamin
Penderita penyakit ini kebanyakan memang laki-laki. Ketika gout menyerang di usia muda, penyakit ini bisa berkelanjutan hingga seumur hidup. Laki-laki memang memiliki asam urat yang lebih tinggi ketimbang wanita, kata Dr Fields. Hormon estrogen pada wanita cenderung melindunginya dari asam urat sejak anak-anak. Namun, setelah menopause, risiko terkena asam urat menjadi sama dengan kaum pria. Ini adalah faktor penyebab asam urat yang penting.
4. Obat-obatan
Beberapa jenis obat-obatan juga dapat meningkatkan risiko terserang gout. Misalnya, obat diuretik, aspirin, atau obat untuk keperluan transplantasi. Memang beberapa jenis obat tersebut penting dan tidak bisa dihentikan. Solusinya adalah mengonsumsi obat tambahan yang bisa menurunkan kadar asam urat. Konsultasikan hal ini kepada dokter.
5. Konsumsi alkohol
Minuman beralkohol juga bisa membuat Anda merasakan sengatan nyeri asam urat. Walau wine tidak membuat asam urat, tapi tidak demikian halnya dengan bir. Jika Anda sudah terdiagnosis memiliki kadar asam urat yang tinggi, mulailah menghentikan kebiasaan minum.
Lima faktor penyebab asam urat ini sangat umum didapati dan bisa dicegah.

http://www.tribunnews.com/kesehatan/2014/08/19/selain-makanan-ini-lima-pemicu-asam-urat-cepat-muncul