Rabu, 26 November 2014

DN 12 Lohicca Sutta

DN 12
Lohicca Sutta
Tentang Lohicca
Guru Yang Baik dan Yang Buruk
Diterjemahkan dari bahasa Pāi ke bahasa Inggris oleh
Maurice O’Connell Walshe

[224] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Suatu ketika, Sang Bhagavā sedang mengunjungi Kosala bersama lima ratus bhikkhu, dan, sampai di Sālavatikā, Beliau menetap di sana. Dan pada saat itu, Brahmana Lohicca sedang menetap di Sālavatikā, tempat yang ramai, banyak rumput, kayu, air, dan jagung, yang dianugerahkan kepadanya oleh Raja Pasenadi dari Kosala sebagai anugerah kerajaan lengkap dengan kekuasaan kerajaan.
2. Saat itu, suatu pemikiran buruk muncul dalam benak Lohicca: ‘Andaikan seorang petapa atau Brahmana menemukan suatu ajaran yang baik,1 setelah menemukannya, ia tidak harus menyatakannya kepada orang lain; karena apakah yang dapat dilakukan seseorang untuk orang lain? Bagaikan seseorang, setelah memutuskan belenggu lama, membuat belenggu yang baru. Aku menyatakan bahwa hal demikian adalah suatu perbuatan buruk yang berakar pada kemelekatan, karena apakah yang dapat dilakukan seseorang untuk orang lain?’
3. Kemudian Lohicca mendengar bahwa Petapa Gotama telah tiba di Sālavatikā, dan bahwa sehubungan dengan Sang Bhagavā, suatu berita baik telah beredar … (seperti Sutta 4, paragraf 2). [225] ‘Dan sesungguhnya adalah baik sekali menemui Arahat demikian.’
4. Dan Lohicca berkata kepada Bhesika si tukang cukur: ‘Teman Bhesika, pergilah temui Petapa Gotama, tanyakan mengenai kesehatan-Nya atas namaku, kemudian katakan: “Sudilah Yang Mulia Gotama memenuhi undangan makan besok, bersama para bhikkhu, dari Brahmana Lohicca!”’
5. ‘Baiklah, Tuan,’ jawab Bhesika, dan menyampaikan pesan itu. Sang Bhagavā menerima undangan itu dengan berdiam diri.
6. Kemudian Bhesika, memahami penerimaan Sang Bhagavā, bangkit dari duduknya dan berjalan dengan sisi kanannya menghadap Sang Bhagavā. Ia kembali ke Lohicca dan memberitahukan kepadanya [226] mengenai penerimaan Sang Bhagavā.
7. Dan Lohicca, saat malam berakhir, mempersiapkan berbagai pilihan makanan keras dan lunak di rumahnya. Kemudian ia mengutus Bhesika untuk memberitahu Sang Bhagavā bahwa makanan sudah siap. Dan Sang Bhagavā, setelah bangun pagi dan membawa jubah dan mangkuk-Nya, pergi bersama para bhikkhu menuju Sālavatikā.
8. Dan Bhesika si tukang cukur mengikuti persis di belakang Sang Bhagavā. Dan ia berkata: ‘Bhagavā, pikiran jahat ini muncul dalam benak Brahmana Lohicca … sungguh, Bhagavā, ini adalah apa yang pernah dipikirkan oleh Brahmana Lohicca.’ ‘Tidak apa-apa, Bhesika, tidak apa-apa.’
9. Maka Sang Bhagavā datang ke kediaman Lohicca, dan duduk di tempat [227] yang telah disediakan. Lohicca secara pribadi melayani Sang Buddha dan para bhikkhu dengan berbagai makanan keras dan lunak hingga mereka puas dan kenyang. Ketika Sang Bhagavā menarik tangan-Nya dari mangkuk, Lohicca mengambil bangku kecil dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya: ‘Lohicca, benarkah bahwa suatu pikiran jahat muncul dalam benakmu … (seperti paragraf 2)?’ ‘Benar, Yang Mulia Gotama.’
10. ‘Bagaimana menurutmu, Lohicca? Bukankah engkau menetap di Sālavatikā?’ ‘Ya, Yang Mulia Gotama.’ ‘Sekarang, jika seseorang mengatakan: “Brahmana Lohicca menetap di Sālavatikā, dan ia menikmati seluruh buah dan penghasilan dari Sālavatikā, tidak membaginya kepada siapa pun” – Bukankah orang yang mengatakan hal ini akan menjadi sumber bahaya bagi wargamu?’ ‘Ia dapat menjadi sumber bahaya, Yang Mulia Gotama.’
‘Dan dengan demikian, apakah ia memerhatikan kesejahteraan mereka atau tidak?’ ‘Tidak, Yang Mulia Gotama.’
‘Dan, dengan tidak memerhatikan kesejahteraan mereka, apakah hatinya dipenuhi cinta kasih terhadap mereka, ataukah kebencian?’ ‘Kebencian, Yang Mulia Gotama.’
‘Dan dengan hati penuh kebencian, apakah ada pandangan salah ataukah pandangan benar?’ ‘Pandangan salah, Yang Mulia Gotama.’ [228]
‘Tetapi, Lohicca, Aku menyatakan bahwa pandangan salah akan mengarah menuju salah satu dari dua alam tujuan kelahiran – neraka atau alam binatang.2
11. ‘Bagaimana menurutmu, Lohicca? Bukankah Raja Pasenadi dari Kosala menetap di Kāsi-Kosala?’ ‘Ya, Yang Mulia Gotama.’ ‘Sekarang, jika seseorang mengatakan: “Raja Pasenadi dari Kosala menetap di Kāsi-Kosala, dan ia menikmati seluruh buah dan penghasilan dari Kosala, tidak membaginya kepada siapa pun” – Bukankah orang yang mengatakan hal ini akan menjadi sumber bahaya bagi warganya? … bukankah hatinya penuh dengan kebencian … dan bukankah itu adalah pandangan salah?’ ‘Itu adalah pandangan salah, Yang Mulia Gotama.’
12. ‘Maka tentu saja, jika seseorang mengatakan hal yang sama tentang Brahmana Lohicca … itu adalah pandangan salah.’
13. ‘Demikian pula, Lohicca, jika seseorang mengatakan: “Andaikan seorang petapa atau Brahmana menemukan suatu ajaran yang baik, setelah menemukannya, ia tidak harus menyatakannya kepada orang lain, [229] karena apakah yang dapat dilakukan seseorang untuk orang lain?” ia akan menjadi sumber bahaya bagi para pemuda dari keluarga yang baik yang, mengikuti Dhamma dan disiplin yang diajarkan oleh Tathāgata, mencapai keluhuran seperti buah Memasuki-Arus, Yang-Kembali-Sekali, Yang-Tidak- Kembali, Kearahatan – dan kepada semua yang mematangkan benih kelahiran kembali di alam dewa.3 Sebagai sumber bahaya, ia tidak berbelas kasih, dan hatinya dipenuhi kebencian, dan itu merupakan pandangan salah, yang mengarah menuju … neraka atau alam binatang.’
14. ‘Dan jika seseorang berbicara demikian tentang Raja Pasenadi, ia akan menjadi sumber bahaya bagi warga Raja, dirimu, dan orang-orang lainnya ….’
15. (seperti paragraf 13) [230]
16. ‘Lohicca, tiga jenis guru di dunia ini layak dicela, dan jika siapa pun mencela guru-guru demikian, celaannya adalah pantas, benar, sesuai dengan kenyataan dan tidak salah. Apakah tiga itu? Di sini, Lohicca, seorang guru yang telah meninggalkan keduniawian dan menjalani kehidupan tanpa rumah, tetapi belum mencapai buah pertapaan. Dan tanpa mencapai tujuan ini, ia mengajarkan muridnya suatu ajaran,4 dengan mengatakan: “ini untuk kebaikanmu, ini untuk kebahagiaanmu.” Namun muridnya tidak ingin memerhatikan, mereka tidak mendengar, mereka tidak membangkitkan pikiran untuk mencapai pencerahan, dan nasihat si guru dicemooh. Ia harus dicela, dengan mengatakan: “Yang Mulia ini telah meninggalkan keduniawian …, nasihatnya dicemooh. Ini bagaikan seseorang laki-laki yang terus-menerus mendekati seorang perempuan yang menolaknya dan merangkulnya walaupun ia telah berpaling.” Aku menyatakan ini sebagai ajaran jahat yang berdasarkan pada kemelekatan, karena apakah yang dapat dilakukan seseorang untuk orang lain?5 Ini adalah guru pertama yang layak dicela ….’
17. ‘Kemudian, ada seorang guru yang telah meninggalkan keduniawian … tetapi belum mencapai buah pertapaan. Dan tanpa mencapai tujuan ini, ia mengajarkan muridnya suatu ajaran, dengan mengatakan: “ini untuk kebaikanmu, ini untuk kebahagiaanmu.” Muridnya ingin memerhatikan, mereka mendengarkan, [231] mereka membangkitkan pikiran untuk mencapai pencerahan, dan nasihat si guru tidak dicemooh. Ia harus dicela, dengan mengatakan: “Yang Mulia ini telah meninggalkan keduniawian …” Ini bagaikan, meninggalkan ladangnya sendiri, ia memikirkan ladang orang lain yang perlu dikerjakan. Aku menyatakan ini sebagai ajaran jahat yang berdasarkan pada kemelekatan … ini adalah guru ke dua yang layak dicela ….’
18. ‘Kemudian, ada seorang guru yang telah meninggalkan keduniawian … dan yang telah mencapai buah pertapaan. Setelah meninggalkan keduniawian, ia mengajarkan … tetapi murid- muridnya tidak ingin memerhatikannya … nasihatnya dicemooh. Ia juga harus dicela … bagaikan, setelah memotong satu belenggu lama, seseorang membuat sebuah belenggu baru, Aku menyatakan ini sebagai ajaran jahat yang berdasarkan pada kemelekatan, karena apakah yang dapat dilakukan seseorang untuk orang lain? Ini adalah guru ke tiga yang layak dicela …. [232] Dan ini adalah tiga jenis guru yang Kukatakan layak dicela.’
19. ‘Kemudian Lohicca berkata: ‘Yang Mulia Gotama, adakah guru di dunia ini yang tidak layak dicela?’
20-55. ‘Di sini, Lohicca, seorang Tathāgata telah muncul di dunia ini, seorang Arahat, Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna, memiliki kebijaksanaan dan perilaku yang Sempurna, telah sempurna menempuh Sang Jalan, Pengenal seluruh alam, penjinak manusia yang harus dijinakkan yang tiada bandingnya, Guru para dewa dan manusia, Tercerahkan dan Terberkahi. Beliau, setelah mencapainya dengan pengetahuan-Nya sendiri, menyatakan kepada dunia bersama para dewa, māra dan Brahma, para raja dan umat manusia. Beliau membabarkan Dhamma, yang indah di awal, indah di pertengahan, indah di akhir, dalam makna dan kata, dan menunjukkan kehidupan suci yang sempurna dan murni sepenuhnya. Seorang siswa pergi meninggalkan keduniawian dan mempraktikkan moralitas, menjaga pintu-pintu indrianya, mencapai jhāna pertama (Sutta 2, paragraf 41-76). [233] Dan jika seorang murid dari seorang guru mencapai keluhuran demikian, guru itu adalah yang di dunia ini tidak boleh dicela. Dan jika seseorang mencela guru itu, celaannya tidak pantas, tidak benar, dan tidak sesuai dengan kenyataan, dan salah.’
56-62. ‘Ia mencapai tiga jhāna lainnya (seperti Sutta 2, paragraf 77-82) dan berbagai pandangan terang (Sutta 2, paragraf 83-84). Jika seorang murid dari seorang guru mencapai keluhuran demikian, guru itu adalah yang di dunia ini tidak boleh dicela ….’
63-77. ‘Ia menembus Empat Kebenaran Mulia, sang jalan, dan lenyapnya kekotoran … (seperti Sutta 2, paragraf 85-97).
Jika seorang murid dari seorang guru mencapai keluhuran demikian, guru itu adalah yang [234] di dunia ini tidak boleh dicela. Dan jika seseorang mencela guru itu, celaannya tidak pantas, tidak benar, dan tidak sesuai dengan kenyataan, dan salah.’
78. Mendengar kata-kata ini, Brahmana Lohicca berkata kepada Sang Bhagavā: ‘Yang Mulia Gotama, ini bagaikan menarik rambut seseorang yang terpeleset dan jatuh ke dalam lubang,6 dan meletakkannya di atas tanah yang kokoh – demikian pula, aku, yang sedang terjatuh ke dalam lubang, telah diselamatkan oleh Yang Mulia Gotama! ‘Sungguh indah, Yang Mulia Gotama, sungguh menakjubkan! Bagaikan seseorang yang menegakkan apa yang terjatuh, atau menunjukkan jalan bagi ia yang tersesat, atau menyalakan pelita di dalam gelap, sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat apa yang ada di sana. Demikian pula Yang Mulia Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara.’
‘Aku berlindung kepada Gotama Sang Bhagavā, Dhamma, dan Sangha. Sudilah Yang Mulia Gotama menerimaku sebagai seorang siswa awam yang telah menerima perlindungan sejak hari ini
  • 1. Kusala dhammam
  • 2. Niraya vā tiracchāna-yoni vā. Pernyataan yang menyatakan bahwa mereka yang berpandangan salah akan terlahir kembali di alam neraka atau alam binatang cukup mengganggu bagi para pembaca masa kini. Tidak diragukan bahwa kedua istilah ini awalnya dimaksudkan seperti yang dimengerti saat ini. Baca pendahuluan ‘Kelahiran kembali yang menyakitkan atau menjadi binatang’ akan mengungkapkan makna lebih baik. Ini harus dipahami, juga, bahwa ‘pandangan salah’ yang dimaksud berarti yang tidak ada imbalan atau hukuman atas perbuatan baik atau jahat – karena tidak bekerjanya hukum moral. Jenis pandangan ini selalu dinyatakan oleh Sang Buddha sebagai patut dicela.
  • 3. Mereka yang karena perbuatan baiknya (puñña) akan menyebabkan kelahiran kembali di alam dewa, kehidupan yang sangat menyenangkan, tetapi tentu saja, tidak kekal. Kejahatan dari pandangan jahat Lohicca pasti akan merintangi pencapaian keluhuran demikian.
  • 4. Dhamma: Tetapi belum tentu Dhamma Buddhis.
  • 5. Sang Buddha mengulangi kata-kata Lohicca.
  • 6. Naraka: sinonim dari niraya, neraka.

http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/lohicca-sutta/

Senin, 24 November 2014

DN 13 Tevijja Sutta

DN 13
Tevijja Sutta
Tiga Pengetahuan
Jalan Menuju Brahma
Diterjemahkan dari bahasa Pāi ke bahasa Inggris oleh
Maurice O’Connell Walshe

[235] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Suatu ketika, Sang Bhagavā sedang berkunjung ke Kosala bersama lima ratus bhikkhu. Beliau datang ke suatu desa Brahmana Kosala yang bernama Manasākaa, dan menetap di utara desa itu di sebuah hutan mangga di tepi Sungai Aciravatī.
2. Dan pada saat itu, ada banyak Brahmana yang terkenal dan makmur sedang berada di Manasākaa, termasuk Canki, Tārukkha, Pokkarasāti, Jāussoni, dan Todeyya.
3. Dan Vāseṭṭha dan Bhāradvāja sedang berjalan-jalan di sepanjang jalan, dan pada saat itu, terjadi perdebatan antara mereka mengenai topik jalan yang benar dan yang salah.
4. Brahmana muda Vāseṭṭha berkata: ‘Ini adalah satu-satunya jalan yang lurus dan benar, ini adalah jalan langsung, jalan keselamatan yang mengarahkan seseorang yang mengikutinya pergi bergabung dengan Brahma, seperti yang diajarkan oleh Brahmana Pokkharasāti!’1
5. Dan Brahmana muda Bhāradvāja berkata: ‘Ini adalah jalan lurus satu-satunya … [236] seperti yang diajarkan oleh Brahmana Tārukkha!’
6. Dan Vāseṭṭha tidak dapat meyakinkan Bhāradvāja, dan sebaliknya Bhāradvāja tidak dapat meyakinkan Vāseṭṭha.
7. Kemudian Vāseṭṭha berkata kepada Bhāradvāja: ‘Petapa Gotama sedang menetap di utara desa, dan sehubungan dengan Sang Bhagavā telah beredar berita baik … (seperti Sutta 4, paragraf 2). Marilah kita menemui Petapa Gotama dan bertanya kepada-Nya, dan apa pun jawaban yang Beliau berikan, kita harus menerimanya.’ Dan Bhāradvāja setuju.
8. Maka kedua orang itu pergi menemui Sang Bhagavā. Setelah saling bertukar sapa dengan Beliau, mereka duduk di satu sisi, dan Vāseṭṭha berkata: ‘Yang Mulia Gotama, sewaktu kami berjalan- jalan, kami berdiskusi tentang jalan yang benar dan yang salah. Aku berkata: “Ini adalah jalan langsung satu-satunya … seperti yang diajarkan oleh Brahmana Pokkharasāti,” dan Bhāradvāja berkata: “Ini adalah jalan langsung satu-satunya … seperti yang diajarkan oleh Brahmana Tārukkha.” Inilah perselisihan kami, pertengkaran kami, perbedaan kami.’ [237]
9. ‘Jadi, Vāseṭṭha, engkau mengatakan bahwa cara untuk bergabung dengan Brahmā adalah seperti yang diajarkan oleh Brahmana Pokkharasāti, dan Bhāradvāja mengatakan seperti yang diajarkan oleh Brahmana Tarukkha. Mengenai apakah perselisihannya, pertengkarannya, perbedaannya?’
10. ‘Jalan yang benar dan yang salah, Yang Mulia Gotama. Ada begitu banyak Brahmana yang mengajarkan jalan yang berbeda- beda: Addhariya, Tittiriya, Chandoka, Chandāva, para Brahmana Brahmacariya2 – apakah semua cara ini mengarah menuju penggabungan bersama Brahmā? Seperti halnya di dekat desa atau kota terdapat banyak jalan yang berbeda? – apa semua jalan ini berakhir di tempat yang sama? Dan demikian pula, apakah cara-cara dari berbagai Brahmana ini … mengarahkan orang yang mengikutinya, menuju penggabungan bersama Brahmā?’
11. ‘Engkau mengatakan “Mereka mengarahkan”, Vāseṭṭha?’ ‘Aku mengatakan: “Mereka mengarahkan”, Yang Mulia Gotama.’
‘Engkau mengatakan “Mereka mengarahkan”, Vāseṭṭha?’ ‘Aku mengatakan: “Mereka mengarahkan”, Yang Mulia Gotama.’
‘Engkau mengatakan “Mereka mengarahkan”, Vāseṭṭha?’ ‘Aku mengatakan: “Mereka mengarahkan”, Yang Mulia Gotama.’ [238]
12. ‘Tetapi Vāseṭṭha, adakah satu dari para Brahmana yang terpelajar dalam Tiga Veda ini yang pernah menemui Brahma secara langsung?’ ‘Tidak, Yang Mulia Gotama.’
‘Pernahkah guru dari guru dari satu di antara mereka yang terpelajar dalam Tiga Veda ini yang pernah menemui Brahma secara langsung?’ ‘Tidak, Yang Mulia Gotama.’
‘Pernahkah para leluhur selama tujuh generasi sebelumnya dari guru dari satu di antara mereka yang pernah menemui Brahma secara langsung?’ ‘Tidak, Yang Mulia Gotama.’
13. ‘Kalau begitu, Vāseṭṭha, bagaimana dengan para bijaksana masa lampau dari para Brahmana yang terpelajar dalam Tiga Veda ini, pembuat mantra-mantra, pembabar mantra-mantra, yang syair-syair kuno mereka dihafalkan, dibacakan, dan dikumpulkan oleh para Brahmana masa kini, dan dinyanyikan, dan dibicarakan – seperti Aṭṭhaka, Vāmaka, Vāmadeva, Vessāmitta, Yamataggi, Angirasa, Bhāradvāja, Vāseṭṭha, Kassapa, Bhagu3 – apakah mereka pernah mengatakan: “Kami mengetahui dan melihat kapan, bagaimana dan di mana Brahmā muncul?”’4 ‘Tidak, Yang Mulia Gotama.’
14. ‘Jadi, Vāseṭṭha, tidak satu pun dari para Brahmana yang terpelajar dalam Tiga Veda ini yang pernah menemui Brahma secara langsung, juga tidak satu di antara guru mereka, atau guru dari guru mereka, [239] juga tidak para leluhur mereka selama tujuh generasi sebelumnya. Juga tidak para bijaksana masa lampau, yang mengatakan: “Kami mengetahui dan melihat kapan, bagaimana, dan di mana Brahmā muncul.” Maka apa yang dikatakan oleh para Brahmana yang terpelajar dalam Tiga Veda ini adalah: “Kami mengajarkan jalan ini untuk bergabung dengan Brahmā yang tidak kita ketahui atau tidak kita lihat, ini adalah jalan langsung satu-satunya … yang mengarah menuju penggabungan bersama Brahmā.” Bagaimana menurutmu, Vāseṭṭha? Kalau demikian halnya, bukankah apa yang dinyatakan oleh para Brahmana ini terbukti tidak masuk akal?’ ‘Ya, sesungguhnya demikian, Yang Mulia Gotama.’
15. ‘Baiklah, Vāseṭṭha, ketika para Brahmana yang terpelajar dalam Tiga Veda ini mengajarkan jalan yang tidak mereka ketahui dan tidak mereka lihat, dengan mengatakan: “Ini adalah jalan langsung satu-satunya …” ini tidak mungkin benar. Bagaikan sebarisan orang buta yang berjalan, saling bergandengan, dan yang pertama tidak melihat apa-apa, yang tengah tidak melihat apa-apa, dan yang terakhir tidak melihat apa-apa5 – demikian pula halnya dengan ucapan para Brahmana yang terpelajar dalam Tiga Veda ini: yang pertama [240] tidak melihat apa-apa, yang tengah tidak melihat apa-apa, dan yang terakhir tidak melihat apa-apa. Ucapan dari para Brahmana yang terpelajar dalam Tiga Veda ini terbukti akan menjadi bahan tertawaan, hanyalah sekadar kata-kata, kosong dan sia-sia.’
16. ‘Bagaimana menurutmu, Vāseṭṭha? Apakah para Brahmana yang terpelajar dalam Tiga Veda ini melihat matahari dan bulan seperti orang-orang lain, dan ketika matahari dan bulan terbit dan terbenam, apakah mereka berdoa, menyanyikan pujian, dan menyembah dengan merangkapkan tangan?’ ‘Ya, Yang Mulia Gotama.’
17. ‘Bagaimana menurutmu, Vāseṭṭha? Para Brahmana yang terpelajar dalam Tiga Veda ini, yang melihat matahari dan bulan seperti orang-orang lain, … dapatkah mereka menunjukkan jalan untuk bergabung dengan matahari dan bulan, dengan mengatakan: “Ini adalah satu-satunya jalan langsung … yang mengarah menuju penggabungan dengan matahari dan bulan?”’ ‘Tidak, Yang Mulia Gotama.’
18. ‘Jadi, Vāseṭṭha, Para Brahmana yang terpelajar dalam Tiga Veda ini tidak dapat menunjukkan jalan untuk bergabung dengan matahari dan bulan, yang telah mereka lihat. Dan, juga, tidak ada seorang pun dari mereka yang pernah melihat Brahmā secara langsung, … [241] bahkan tidak leluhur dari guru mereka selama tujuh generasi sebelumnya. Juga tidak para bijaksana masa lampau, mengatakan: “Kami mengetahui dan melihat kapan, bagaimana, dan di mana Brahmā muncul?” Bukankah apa yang dinyatakan oleh para Brahmana ini terbukti tidak masuk akal?’ ‘Ya, sesungguhnya demikian, Yang Mulia Gotama.’
19. ‘Vāsettha, ini seperti seorang laki-laki yang mengatakan: “Aku akan mencari dan mencintai seorang perempuan paling cantik di negeri ini.” Mereka akan berkata kepadanya: “ … apakah engkau tahu dari kasta apa ia berasal?” “Tidak.” “Apakah engkau tahu [242] namanya, sukunya, apakah ia tinggi atau pendek, …, berkulit gelap atau cerah …, atau dari mana asalnya?” “Tidak.” Dan mereka akan berkata: “Jadi, engkau tidak mengetahui dan tidak melihat orang yang engkau cari dan engkau inginkan?” dan ia akan berkata: “Tidak.” Bukankah kata-kata orang itu terbukti bodoh?’ ‘Tentu saja, Yang Mulia Gotama.’
20. ‘Kemudian, Vāseṭṭha, ini seperti ini: tidak satu pun dari para Brahmana itu … yang pernah melihat Brahmā secara langsung, juga tidak satu di antara guru mereka ….’ ‘Demikianlah, Yang Mulia Gotama.’
‘Maka, Vāsetha, ketika para Brahmana yang terpelajar dalam Tiga Veda ini [243] mengajarkan jalan yang tidak mereka ketahui dan tidak mereka lihat, ini tidak mungkin benar.’
21. ‘Vāseṭṭha, ini seperti seseorang yang membangun sebuah tangga untuk sebuah istana di persimpangan jalan. Orang-orang akan berkata kepadanya: “Tangga ini, untuk istana, yang sedang engkau bangun – tahukah engkau apakah istana ini akan menghadap ke timur, atau barat, atau utara, atau selatan, atau apakah istana ini akan tinggi, rendah, atau sedang?” dan ia akan mengatakan: “Tidak.” Dan mereka akan mengatakan: “Jadi, engkau tidak mengetahui atau melihat bentuk istana yang tangganya sedang engkau bangun?” dan ia akan menjawab: “Tidak.” Bukankah kata- kata orang itu terbukti bodoh?’ ‘Tentu saja, Bhagavā.’
22-23. (seperti paragraf 20) [244]
24. ‘Vāseṭṭha, ini bagaikan Sungai Aciravatī yang penuh dengan air sampai ke tepinya sehingga burung-burung gagak dapat meminum airnya, dan seseorang datang ingin menyeberang, berdiri di tepi sebelah sini, ia memanggil: “Datanglah, tepi sebelah sana, datanglah ke sini!” Bagaimana menurutmu, Vāseṭṭha, apakah tepi sebelah sana dari Sungai Aciravatī akan datang ke tepi sebelah sini atas panggilan, permohonan, permintaan, atau bujukan orang itu?’ ‘Tidak, Yang Mulia Gotama.’
25. ‘Sekarang, Vāsetha, para Brahmana yang terpelajar dalam Tiga Veda itu yang terus-menerus mengabaikan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang Brahmana, dan terus-menerus melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang Brahmana, menyatakan: “Kami mengunjungi Indra, Soma, Varua, Pajāpati, Brahmā, Mahiddhi, Yama.” Tetapi para Brahmana demikian yang terus-menerus [245]mengabaikan apa yang seharusnya dilakukan oleh para Brahmana, … akan, sebagai akibat dari pemanggilan, permohonan, permintaan, atau bujukan mereka, setelah kematian, saat hancurnya jasmani, berkumpul bersama Brahmā – itu mustahil.’
26. ‘Vāseṭṭha, ini bagaikan Sungai Aciravatī yang penuh dengan air sampai ke tepinya sehingga burung-burung gagak dapat meminum airnya, dan seseorang datang ingin menyeberang, … tetapi ia terikat dan terbelenggu oleh rantai yang kuat dengan tangan di belakang punggungnya di tepi sebelah sini. Bagaimana menurutmu, Vāseṭṭha? Dapatkah orang itu menyeberang ke tepi sebelah sana?’ ‘Tidak, Yang Mulia Gotama.’
27. ‘Demikian pula, Vāseṭṭha, dalam disiplin Ariya, lima helai kenikmatan-indria ini disebut belenggu atau rantai. Apakah lima itu? Bentuk-bentuk yang terlihat oleh mata, yang disukai, indah, menarik, menyenangkan, memunculkan gairah; suara-suara yang terdengar oleh telinga … ; bau-bauan yang tercium oleh hidung … ; rasa kecapan yang dikecap oleh lidah; kontak yang dirasakan oleh badan yang disukai, … , memunculkan gairah. Lima ini dalam disiplin Ariya disebut belenggu dan rantai. Dan, Vāseṭṭha, para Brahmana yang terpelajar dalam Tiga Veda itu diperbudak, tergila- gila akan lima helai kenikmatan-indria ini, yang secara salah mereka nikmati, tidak menyadari bahayanya, tidak mengetahui jalan keluar darinya.’
28. ‘Tetapi para Brahmana yang terpelajar dalam Tiga Veda itu, yang terus-menerus mengabaikan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang Brahmana, … [246] yang diperbudak oleh lima helai kenikmatan-indria ini, … tidak mengetahui jalan keluar darinya, akan mencapai, setelah kematian, saat hancurnya jasmani, penggabungan dengan Brahmā – itu mustahil.’
29. ‘Vāseṭṭha, ini bagaikan Sungai Aciravatī yang penuh dengan air sampai ke tepinya sehingga burung-burung gagak dapat meminum airnya, dan seseorang datang ingin menyeberang, … dan berbaring di tepi sebelah sini, menutup kepalanya dengan selendang. Bagaimana menurutmu, Vāseṭṭha? Dapatkah orang itu menyeberang ke tepi sebelah sana?’ ‘Tidak, Yang Mulia Gotama.’
30. ‘Demikian pula, Vāsetha, dalam disiplin Ariya, lima rintangan ini disebut halangan, rintangan, selubung, pembungkus. Apakah lima itu? Rintangan indriawi, kebencian, kelambanan-dan- ketumpulan, kekhawatiran dan kebingungan, keragu-raguan. Lima rintangan ini disebut halangan, rintangan, selubung, pembungkus. Dan para Brahmana yang terpelajar dalam Tiga Veda itu tertangkap, terkurung, terhalang, terjerat dalam lima rintangan ini. Tetapi para Brahmana yang terpelajar dalam Tiga Veda itu, yang terus-menerus mengabaikan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang Brahmana … dan yang tertangkap … terjerat dalam lima rintangan ini. Akan mencapai, setelah kematian, saat hancurnya jasmani, [247] penggabungan dengan Brahma – itu mustahil.’
31. ‘Bagaimana menurutmu, Vāseṭṭha? Apakah yang engkau dengar yang dikatakan oleh para Brahmana yang terhormat, tua, guru dari para guru? Apakah Brahmā terbebani oleh istri-istri dan kekayaan,6 atau tidak terbebani?’ ‘Tidak terbebani, Yang Mulia Gotama.’
‘Apakah ia penuh kebencian atau tanpa kebencian?’ ‘Tanpa kebencian, Yang Mulia Gotama.’
‘Apakah ia penuh permusuhan atau tanpa permusuhan?’ ‘Tanpa permusuhan, Yang Mulia Gotama.’
‘Apakah ia disiplin7 atau tidak disiplin?’ ‘Disiplin, Yang Mulia Gotama.’
32. ‘Dan, bagaimana menurutmu, Vāseṭṭha? Apakah para Brahmana yang terpelajar dalam Tiga Veda itu terbebani dengan istri-istri dan kekayaan mereka? Atau tidak terbebani?’ ‘Terbebani, Yang Mulia Gotama.’
‘Apakah ia penuh kebencian atau tanpa kebencian?’ ‘Penuh kebencian, Yang Mulia Gotama.’
‘Apakah ia penuh permusuhan atau tanpa permusuhan?’ ‘Penuh permusuhan, Yang Mulia Gotama.’
‘Apakah ia disiplin8 atau tidak disiplin?’ ‘Tidak disiplin, Yang Mulia Gotama.’
33. ‘Jadi, Vāseṭṭha, para Brahmana yang terpelajar dalam Tiga Veda itu, yang terbebani dengan istri-istri dan kekayaan, dan Brahmā yang tidak terbebani. Adakah kesamaan? Adakah yang sama antara para Brahmana yang terbebani ini? Dan Brahmā yang tidak terbebani?’ ‘Tidak, Yang Mulia Gotama.’
34. ‘Benar sekali, Vāseṭṭha. Bahwa para Brahmana yang terbebani ini, yang terpelajar dalam Tiga Veda, setelah kematian, saat hancurnya jasmani, [248] akan bergabung dengan Brahmā yang tidak terbebani – ini mustahil.’
35. ‘Demikianlah, apakah para Brahmana yang terpelajar dalam Tiga Veda dan penuh kebencian … penuh permusuhan … tidak murni … tidak disiplin, memiliki kesamaan, ada yang sama dengan Brahmā yang disiplin?’ ‘Tidak, Yang Mulia Gotama.’
36. ‘Benar sekali, Vāseṭṭha. Bahwa para Brahmana yang tidak disiplin ini, setelah kematian akan bergabung dengan Brahmā yang tidak terbebani, adalah mustahil. Tetapi para Brahmana yang terpelajar dalam Tiga Veda, setelah duduk di tepi, akan tenggelam, berpikir mungkin menemukan jalan menyeberang yang kering. Oleh karena itu, tiga pengetahuan mereka disebut tiga gurun, tiga kebingungan, tiga penghancuran.’
37. Mendengar kata-kata ini, Vāseṭṭha berkata: ‘Yang Mulia Gotama, aku mendengar mereka berkata: “Petapa Gotama mengetahui jalan menuju penggabungan dengan Brahmā.”’
‘Bagaimana menurutmu, Vāseṭṭha? Misalkan ada seseorang di sini yang lahir dan dibesarkan di Manasākaa, dan seseorang yang datang dari Manasākaa dan [249] tersesat jalan bertanya kepadanya. Apakah orang itu, yang lahir dan besar di Manasākata, menjadi gugup atau bingung?’ ‘Tidak, Yang Mulia Gotama. Dan mengapa tidak? Karena orang itu pasti mengenal semua jalan.’
38. ‘Vāseṭṭha, dapat dikatakan bahwa orang itu saat ditanyai jalan mungkin akan menjadi gugup atau bingung – namun Sang Tathāgata, saat ditanyai tentang alam Brahmā dan jalan menuju ke sana, tidak akan menjadi gugup atau bingung. Karena, Vāseṭṭha, Aku mengenal Brahmā dan alam Brahmā, dan jalan menuju ke alam Brahmā, dan jalan mempraktikkan agar alam Brahmā dapat dicapai.’
39. Mendengar kata-kata ini, Vāseṭṭha berkata: ‘Yang Mulia Gotama, aku mendengar mereka berkata: “Petapa Gotama mengajarkan cara untuk bergabung dengan Brahmā, sudilah Yang Mulia Gotama membantu para pengikut Brahmā!’
‘Maka, Vāseṭṭha, dengar, perhatikanlah, dan Aku akan memberitahukan kepadamu.’ ‘Baik, Yang Mulia,’ Vāseṭṭha berkata. Sang Bhagavā berkata:
40-75. ‘Vāseṭṭha, seorang Tathāgata telah muncul di dunia ini, seorang Arahat, Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna, memiliki kebijaksanaan dan perilaku yang Sempurna, telah sempurna menempuh Sang Jalan, Pengenal seluruh alam, penjinak manusia yang harus dijinakkan yang tiada bandingnya, Guru para dewa dan manusia, Tercerahkan dan Terberkahi. Beliau, setelah mencapainya dengan pengetahuan-Nya sendiri, menyatakan kepada dunia bersama para dewa, māra dan Brahma, para raja dan umat manusia. Beliau membabarkan Dhamma, yang indah di awal, indah di pertengahan, indah di akhir, dalam makna dan kata, dan menunjukkan kehidupan suci yang sempurna dan murni sepenuhnya. [250] Seorang siswa pergi meninggalkan keduniawian dan mempraktikkan moralitas, menjaga pintu-pintu indrianya, mencapai jhāna pertama (Sutta 2, paragraf 41-75).’
76. ‘Kemudian, dengan hati dipenuhi dengan cinta kasih, ia berdiam memancarkan ke satu arah, [251] ke arah ke dua, ke tiga, ke empat. Demikianlah ia berdiam memancarkan ke seluruh dunia, ke atas, ke bawah, ke sekeliling, ke segala tempat, selalu dengan hati yang dipenuhi dengan cinta kasih, berlimpah, tanpa rintangan,9 tanpa kebencian atau permusuhan.’
77. ‘Bagaikan seorang peniup trompet yang hanya mengalami sedikit kesulitan untuk mengumumkan pengumuman ke empat penjuru, demikianlah dengan meditasi ini, Vāseṭṭha, dengan kebebasan hati melalui cinta kasih, ia meliputi seluruhnya, tidak ada bagian yang tidak tersentuh, tidak ada yang tidak terpengaruh dalam alam indria ini.10 Ini, Vāseṭṭha, adalah cara untuk bergabung dengan Brahmā.’
78. ‘Kemudian dengan hati dipenuhi dengan belas kasihan, … dengan kegembiraan simpatik, dengan keseimbangan, ia berdiam memancarkan ke satu arah, ke arah ke dua, ke tiga, ke empat. Demikianlah ia berdiam memancarkan ke seluruh dunia, ke atas, ke bawah, ke sekeliling, ke segala tempat, selalu dengan hati yang dipenuhi dengan keseimbangan, berlimpah, tanpa rintangan, tanpa kebencian atau permusuhan.’
79. ‘Bagaikan seorang peniup trompet yang hanya mengalami sedikit kesulitan untuk mengumumkan pengumuman ke empat penjuru, demikianlah dengan meditasi ini, Vāseṭṭha, dengan kebebasan hati melalui belas kasihan, … melalui kegembiraan simpatik, … melalui keseimbangan, ia meliputi seluruhnya, tidak ada bagian yang tidak tersentuh, tidak ada yang tidak terpengaruh dalam alam indria ini. Ini, Vāseṭṭha, adalah cara untuk bergabung dengan Brahmā.’
80. ‘Bagaimana menurutmu, Vāseṭṭha? Apakah seorang bhikkhu yang berdiam demikian terbebani oleh istri-istri dan kekayaan atau tidak terbebani?’ ‘Tidak terbebani, Yang Mulia Gotama. Ia tanpa kebencian …, tanpa permusuhan …, murni dan disiplin, Yang Mulia Gotama.’ [252]
81. ‘Jadi, Vāseṭṭha, bhikkhu itu tidak terbebani, dan Brahmā tidak terbebani. Adakah yang sama antara bhikkhu yang tidak terbebani dan Brahmā yang tidak terbebani?’ ‘Sesungguhnya ada, Yang Mulia Gotama.’
‘Benar sekali, Vāseṭṭha. Maka bhikkhu yang tidak terbebani itu, setelah kematian, saat hancurnya jasmani, akan bergabung dengan Brahmā yang tidak terbebani – itu mungkin. Demikian pula bhikkhu yang tanpa kebencian …, tanpa permusuhan …, murni …, disiplin … maka bhikkhu yang disiplin itu, setelah kematian, saat hancurnya jasmani, akan bergabung dengan Brahmā – itu mungkin.’
82. Mendengar kata-kata itu, Brahmana Vāseṭṭha dan Brahmana Bhāradvāja berkata kepada Sang Bhagavā: ‘Sungguh indah, Yang Mulia Gotama, sungguh menakjubkan! Bagaikan seseorang yang menegakkan apa yang terjatuh, atau menunjukkan jalan bagi ia yang tersesat, atau menyalakan pelita di dalam gelap, sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat apa yang ada di sana. Demikian pula Yang Mulia Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara.’
‘Aku berlindung kepada Yang Mulia Gotama, kepada Dhamma, dan kepada Sangha. Sudilah Yang Mulia Gotama menerimaku sebagai seorang siswa awam yang telah menerima perlindungan sejak hari ini hingga akhir hidupku!’
  • 1. Bergabung dengan Brahmā adalah tujuan tertinggi para Brahmana.
  • 2. Kata alternatif, yang digunakan oleh RD, adalah bavharijā, tetapi RD membuat catatan: ‘jika kami menggunakan kata lain, [yaitu, Brāhmacariya, yang tidak ia gunakan] sebagai yang terakhir dari daftar itu, maka para pendeta itu yang bergantung pada upacara, pengorbanan atau doa akan sangat bertentangan dengan mereka yang telah “meninggalkan keduniawian” sebagai religieux, sebagai Tāpasa atau bhikshu.’
  • 3. Sepuluh Brahmana penulis mantra Veda. Cf. MN 95.12
  • 4. Cf. DN 11.80.
  • 5. Cf. MN 95.13.
  • 6. Saparigaha. PED menuliskan ‘menikah’ dan ‘terbebani’. Keduanya termasuk.
  • 7. Vasavattī: secara harfiah berarti ‘sakti’, tetapi di sini berarti memiliki kekuasaan, atau kendali, atas diri sendiri.
  • 8. Ini (Pre-Buddhist) ‘Kediaman surgawi’ (Brahmavihāra) juga disebut kondisi tanpa batas (appamañña).
  • 9. Pamāa kata menurut DA menunjukkan alam indria (kāmaloka). Cf. SN 42.8 (=KS iv, p.227). DA mengatakan: ‘bagaikan samudera yang kuat, membanjiri sungai kecil, ia bahkan mencapai alam Brahmā’ (terjemahan Woodward, loc. Cit.).
  • 10. Baca juga Dn 27, MN 98 dan SN. 594ff. DA mengatakan Vāseṭṭha pertama kali menyatakan berlindung adalah setelah pembabaran Vāseṭṭha Sutta (MN 98), dan ini adalah ke dua kalinya. Ia ‘meninggalkan keduniawian’ dan , setelah pembabaran Aggañña Sutta (DN 27) ia menerima penahbisan dan mencapai kesucian Arahat.Komentar RD (RD I, p.299), ‘harus diingat bahwa argumentasi di sini hanyalah argumentum ad hominem. Jika anda ingin bergabung dengan Brahmā – yang sebaiknya jangan – ini adalah cara untuk mencapainya’, abaikan hasilnya seperti yang dilaporkan oleh DA. Kata-kata Sang Buddha sesungguhnya, seperti pada kasus-kasus lain, adalah ad hominem, dan memiliki, seperti pada kasus-kasus lain, hasil yang mengarahkan si pencari melampaui apa yang ia cari.Tentang ‘bergabung dengan Brahmā’ baca pendahuluan. Baca juga DN 19.61