Minggu, 31 Januari 2016

SEHAT LUAR DAN DALAM

                                                              SEHAT LUAR DAN DALAM

                                           Arogya parama laba, Santutthi paramam dhanam
                                          Vissasa parama nati, Nibbanam parmaam sukham'ti.

            Kesehatan adalah keuntungan terbesar. Merasa puas adalah kekayaan paling berharga.
         Dipercaya adalah sanak keluarga yang terbaik. Nibbana adalah kebahagiaan yang tertinggi
                                                                 (Dhammapada syair 204)

      Sakit adalah hal yang sukar diterima oleh semua mahluk hidup dan tidak ada pengecualian selain orang-orang yang memiliki kebijaksanaan. Dalam hal yang sederhana hingga ke hal yang sulit sekalipun, rasa sakit itu seakan-akan membuat menderita. Kesehatan dari jasmani dan batin itulah yang sukar diperoleh, namun juga tidak sulit untuk didapat. Hidup sebagai manusia tidak semudah yang dibayangkan, bahagia, gembira setiap waktu dan bebas dari penderitaan fisik maupun batin.

      Dalam Dhamma dijelaskan, hidup ini tidak pasti dan selalu berubah oleh karena itu kesehatan jasmani dan batin itu penting untuk kita jaga dan kita rawat. Maka dari itu sebelum sakit atau penderitaan itu terkondisi dan muncul kita harus berusaha mencegah sejak dini, alangkah lebih baik mencegah sakit itu datang daripada sudah sakit baru berobat, artinya adalah lebih baik mencegah daripada berobat. Andaikan saja kita sudah sakit, lekaslah kita segera berobat sebelum sakit itu semakin parah.
 
      Dalam Anguttara Nikaya, Sang Buddha memberikan lima uraian atau hal - hal yang akan menjamin kesehatan batin dan jasmani, mengkondisikan timbulnya suatu kebahagiaan dalam hidup ini. Kelima uraian tersebut adalah :

1) Sappayakari yaitu kita mengetahui cara menyenangkan atau menenangkan batin, membuat batin senantiasa santai, rileks , tidak tegang. Demikian pula dengan keadaan batin yang tidak seimbang, selalu membuat ketegangan. Ada tiga penyakit batin yang berbahaya yaitu; Pertama adalah serakah, keinginan yang tidak bisa dibendung selalu melekat dengan hal-hal yang membuat penderitaan itu muncul. Kedua adalah kebencian yang terus membara, terus bergejolak, merasa tidak nyaman dengan hidupnya, ketika hal yang tidak menyenangkan muncul timbul amarah yang tidak terhingga. Sebagai contoh, ketika dicacimaki, dihina, difitnah, dijelek-jelekkan di depan orang banyak, inilah, itulah, dan seterusnya. Batin yang belum siap menerima akan selalu berontak, marah , dan hal buruk pun muncul dalam batin. Ketiga, adalah ego atau keakuan, muncul karena ada ancaman mental dari dalam. Ketiga penyakit tersebut harus kita sembuhkan, kita jaga diri kita dengan cara bermeditasi, dan mawas diri dengan benar, hingga akhirnya penyakit batin akan berkurang dan sembuh.

2) Sappaye Mattannuta yaitu mengetahui cara memilih atau menyaring keinginan , tidak semua keinginan harus dituruti. Ada dua jenis keinginan yang membedakan antara keinginan yang baik dan keinginan yang tidak baik. Tanha adalah keinginan yang bersifat negatif, selalu kurang , dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang diperoleh. Sedangkan Chanda adalah keinginan yang baik dan positif dalam langkah dan tindakan dalam memilih suatu keinginan, pada saat kita punya keinginan yang harus kita dapat. Jika kita tidak mendapat apa yang kita inginkan, maka tidaklah timbul hal-hal yang negatif, marah dengan orang lain, iri hati, dan tidak melampiaskan amarah. Akan tetapi merasa puas dengan apa yang dimiliki santutthi, jika kita memiliki sedikit keinginan maka sedikit pula masalah yang ada dalam hidup ini, puas dan cukup selalu bersyukur.

3) Parinatabhojji adalah kita mengetahui makanan atau minuman yang cocok atau sesuai dengan badan kita. Jika memiliki suatu penyakit yang dikatakan penyakit membahayakan, maka kita harus ingat dengan pola makan, menjaga supaya penyakit yang ada tidak semakin parah. Bagi yang belum terjangkit penyakit adalah suatu renungan untuk selalu mengkonsumsi makanan yang sehat. Tujuan makan sejatinya bukan untuk kesenangan tetapi untuk menjaga berlangsungnya tubuh ini, dimana penyakit jasmani ini akan menimbulkan penderitaan baru yang bisa merusak suasana gembira. Kegembiraan akan hilang jika penderitaa yang tidak diharapkan datang secara tiba-tiba.

4) Kalacari yaitu kita mengetahui cara mempergunakna waktu dengan sebaik mungkin Jangan biarkan waktu mengatur kita tetapi kita sendirilah yang mengatur waktu itu, dengan tujuan membawa manfaat untuk diri sendiri maupun orang lain. Beberapa contoh penggunaan waktu;
a. Waktu untuk diri sendiri digunakan untuk kepentingan pribadi seperti makan, istirahat, dan lain-lain.
b. Waktu untuk keluarga adalah saat kebersamana dengan orangtua, anak , istri, suami, mertua dan semua keluarga yang menjadi kerabat.
c. Waktu untuk sosial atau bermasyarakat dengan lingkungan, semua saling menolong dan membantu satu sama lainnya. Sebagai contoh bergotong royong, kerja bakti dan menjaga hubungan yang baik.
d. Waktu untuk spiritual, datang ke vihara melakukan kebajikan, melaksanakan sila, samadhi, panna dengan baik.

5) Brahmacari yaitu kita mengetahui cara mengendalikan nafsu indria yang muncul dan menyelimuti keinginan untuk terus mengejar dan mendapatkan.
a. Pada saat mencium bau yang tidak sedap yang tidak diinginkan , maka tugas kita untuk bisa mengendalikan, dan jika bau yang sedap muncul ingat hanya sekadar membau.
b. Mendengar suara yang tidak merdu juga pengendalian, demikian pula suara yang membuai hati.
c. Lidah yang merasakan rasa yang tidak enak juga belajar mengendalikannya, begitu pula dengan rasa yang enak.
d. Pada saat mata kontak dengan objek tidak menyenangkan kita belajar mengendalikan, sama halnya dengan yang menyenangkan sekalipun.
e. Kulit bersentuhan dengan yang menyenangkan ataupun yang tidak adalah kita masih belajar mengendalikan.
f. Bentuk-bentuk pikrian kita yang menyenangkan  dan tidak menyenangkan itulah yang sesaat membuat terlena dan pada akhirnya muncul derita baru.

Keenam indria inilah yang harus kita kendalikan , agar tidak muncul derita baru, dan perasaan yang tidak nyaman akan berkurang.

Kelima uraian tersebut terdapat dalam Anguttara Nikaya yang dibabarkan oleh Sang Buddha, sangat bermanfaat tentunya untuk hidup dalam kesehatan batin dan jasmani. Kesehatan itu sangat mahal jika kita nilai dengan mata uang, akan tetapi mata uang itu belum tentu bisa membeli sebuah kesehatan dari dalam dan luar.

Ceramah oleh : Bhikhu Silayatano , hari Minggu tanggal 24 Januari 2016
Sumber : Berita Dhammacakka No. 1124



Jumat, 15 Januari 2016

TERGELINCIR DALAM BATIN YANG RAPUH



TERGELINCIR DALAM BATIN YANG RAPUH

Atapino samvegino bhavatha, saddhaya silena ca viriyena ca
Samadhina dhammavinicchayena ca, sampannavijjacarana patissata
Pahassatha dukkhamidam anappakam, asso yatha bhadro kasanivittho.

Seseorang yang menyesali kekeliruannya, penuh semangat, penuh bakti, selalu disiplin, selalu tekun dengan ketenangan batin. Meneliti pengalaman hidup sebelumnya, memiliki kesadaran yang terlatih baik, melalui mawas diri, akhirnya ia dapat melepaskan diri dari penderitaan yang tidak ringan ini seperti seekor kuda yang terlatih dengan pukulan cemeti.
(Danda Vagga, Syair Dhammapada 144)

      Pernahkah anda melakukan kesalahan ? Jujur, bahwa kita pernah melakukan kesalahan. Dari kesalahan yang kecil sampai kesalahan yang besar. Pernah juga ada yang bertanya, “Mengapa ada orang yang secara ilmu agama piawai tetapi masih melakukan kesalahan ?” Berbicara mengenai kesalahan tentu tidak dapat dipisahkan dari batin yang kita nodai sendiri. Batin yang ternodai inilah yang sebenernya sumber dari kejahatan yang kita lakukan. Sekarang yang akan saya tanyakan; “Bagaimanakah cara kita untuk menghindari kesalahan?”

Perasaan bersalah sebenernya suatu bentuk perasaan yang tidak nyaman atau tidak menyenangkan karena mengetahui atau mempercayai bahwa seseorang telah melakukan suatu kesalahan. Kata bersalah dalam bahasa asing disebut  dengan kata “guilt” berasal dari kata Anglo-Saxon “gylt” yang berarti “menyerang”. Dalam beberapa agama, perasaan bersalah digunakan sebagai alat untuk mengendalikan perilaku orang dan sebagian hukuman yang pantas bagi perilaku bersalah. Setiap perilaku salah tentu kita ingin menghindari kesalahan tersebut, namun kesalahan ini tetap dilakukan.

Manusia seringkali tergelincir dalam kehidupan yang tidak benar, batin yang ternodai cenderung lebih kuat dibandingkan dengan kewaspadaan atau kehati-hatian karakter di dalam  diri kita.  Manusia yang lengah akan mudah dalam melakukan kesalahan, namun manusia yang sudah sangat berhati-hati dalam kehidupan ini tetapi karena batin yang masih ternodai akan lebih kuat dan akibatnya kesalahan pun tidak bisa dihindari. Seringkali kita hanya bisa melihat kesalahan orang lain dan jarang sekali melihat kesalahan diri sendiri. Sebagai contoh, ketika orang lain salah yang ada di benak kita hanya pikiran negative tanpa kita pernah berpikir, “Kenapa orang itu melakukan kesalahan”. Jika pikiran semacam itu yang ada pada diri kita. Kesalahan bisa dilakukan oleh siapa saja bahkan diri kita juga bisa melakukan kesalahan. Setiap manusia tentu berharap agar hidupnya selalu lurus dan tidak melakukan kesalahan. Alhasil yang terkadang muncul manusia seringkali tergelincir. Selama pikiran kita masih ternodai oleh noda batin, maka kesalahan akan selalu terus dilakukan.

Jika manusia tidak berhati-hati, maka mudah tergelincir dan akan jatuh dalam keterpurukan. Lalu, bagaimanakah cara kita untuk terhindar dari kesalahan? Dalam Psikologi Buddhist, rasa bersalah merupakan suatu akibat dari perbuatan di massa lalu bukan berfokus pada saat ini dan sekarang. Walaupun demikian, Guru Buddha berkata bahwa perasaan malu (hiri) dan menghargai diri sendiri (ottappa) terkadang dapat membantu sebagai faktor pengendalian diri (A.I, 51) bagi seseorang yang belum mengembangkan kematangan kualitas spiritual, rasa malu (terhadap pendapat orang lain) dan menghargai diri sendiri (berkaitan dengan pendapat seseorang tentang dirinya) dapat memberikan suatu motivasi tambahan untuk menghindari yang salah dan melakukan yang baik.

Kesalahan tidak luput dari batin yang masih ternodai  di dalam diri kita. Masing-masing dari api keserakahan, kebencian dan kegelapan batin yang akan terus mendorong dan membakar manusia setiap saat. Tidak heran jika ada orang besar dan terhormat bisa melakukan kesalahan, kenapa? Karena api yang ada di dalam diri seseorang tersebut belum bersih total sehingga membuat setiap orang mudah tergelincir. Mengapa ini terjadi? Semua yang terjadi karena manusia masih kurang dalam latihan. Manusia sering melupakankebutuhan batiniha, padahal kebutuhan ini sangat penting untuk membuat batin ini menjadi awas.

Setiap manusia seringkali terjebak pada kenikmatan dan kebahagiaan sesaat (duniawi) dan menganggapnya sebagai suatu kebahagiaan yang tinggi. Bukan berarti Dhamma mengajaka kita untuk menghindari materi. Materi merupakan kebutuhan dan penunjang kehidupan ini. Materi merupakan alat untuk menuju tercapainya kebahagiaan, baik itu kebahagiaan duniawi maupun kebahagiaan batiniah. Ketika materi bisa dinikmati, maka akan muncul kebahagiaan batiniah.

Di dalam diri setiap orang tentu kesalahan disebut sebagai perasaan yang tidak menyenangi orang lain jika ia berbuat salah. Perasaan tersebut dikatakan sbeagai anittharammana. Ketika perasaan tidak menyukai atau menyenangi orang tersebut, akan menimbulkan ketidakpuasan yang disebut sebagai perasaan tidak bahagia (Domanassa). Setiap orang yang memiliki kesalahan maka perasaan yang timbul bukan perasaan bahagia (somanassa). Ketika batin yang rapuh dari perasaan bahagia (somanassa) yang ada di dalam dirinya akan muncul perasaan yang tidak disukai karena kurangnya pengendalian dalam dirinya. Makanya di dalam Dhamma dikatakan , mereka yang memiliki kekayaan batin akan selalu tenang (passaddhi) dan seimbang dan netral (upekkha).

Seperti yang tertulis di dalam Anguttara Nikaya 82:1 mengenai batin yang rapuh disebabkan oelh kelengahan dan akan menimbulkan bahaya yang besar akibat batin kita yang lengah. Bahaya yang besar dari kelengahan salah satunya diakibatkan karena kurangnya kewaspadaan. Kewaspadaan yang dimaksud ialah ketika kita mengalami suatu kesalahan bisa disebabkan oleh adanya kemalasan di dalam diri kita sehingga kurangnya suatu kegigihan, adanya hasrat atau keinginan yang kuat padahal dianjurkan sedikit keinginan akan bahagia. Adanya ketidakpuasan terhadap apa yang kita miliki, kurangnya pengamatan, dan pemahaman terhadap kebaikan orang lain terhadap kita, dan tidak adanya kecocokan dalam pertemanna sehingga menjadi musuh dalam keseharian kita. Pengertian semacam ini harus dimunculkan agar kebutuhan batiniha setiap orang tidak terus dilupakan. Jika dilupakan maka setiap manusia di dunia ini akan selalu tergelincir dalam khidupan ini dan kesalahan akan mudah untuk terus dilakukan. Meskipun adanya dorongan yang kuat dalam kehidupan kita yang kita ketahui sebagai keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin.

Ketiga api inilah yang akan membawa manusia terperosot ke dalam jurang penderitaan mental. Agar batin kita tidak mudah rapuh, cobalah dan berusahalan terus untuk tidak melupakan kebutuhan batiniah, dan teruslah berjuang untuk membawa batin agar tetap awas.

Kualitas manusia ditentukan oleh perilakunya. Perilaku manusia akan menjadi beragam dan sepadan dengan latihan yang dilakukan. Semakin kuat manusia dalam mempraktikkan Dhamma maka ia akan memiliki kualitas batin yang semakin kuat. Sebaliknya jika dalam praktik Dhamma seseorang tidak kuat maka kualitas batin orag tersebut akan semakin merosot dan memburuk. Seseorang yang mantap dalam latihannya maka pikirannya tidak akan kotor, ucapan buruk tidak akan terlontarkan, dan jasmaninya  pun akan tetap terkendali baik di pagi hari, siang maupun malam hari. Seseorang tidak ada yang bersalah jika dalam kesehariannya melakukan kebaikan dan memulainya terlebih dahulu untuk membuat orang lain bahagia.

Ceramah Dhamma oleh : Bhikkhu Gunaseno , hari Minggu tanggal 10 Januari 2016
Sumber : Berita Dhammacakka No. 1122 tanggal 10 Januari 2016

Minggu, 03 Januari 2016

MANUSIA SAMPAH



MANUSIA SAMPAH

Kayappakopam rakkheyya, kayena samvuto siya
Kayaduccaritam hitva, kayena sucaritam care.

Janganlah menggunakan kekerasan fisik, sebagai lanjutan dari ledakan emosi.
Kendalikan perbuatan melalui badan jasmani, janganlah melakukan kejahatan dengan badan jasmani, berbuatlah kebajikan dengan badan jasmani.
(Dhammapada Kodha Vagga: 231)

Pandangan Umum

      Manusia sampah adalah manusia yang perilakunya jauh dari moralitas. Istilah lain adalah orang yang merosot moralnya. Mereka lebih cenderung selalu melakukan tindakan kejahatan kepada orang lain. Sifat buruk seperti menebar ketakutan kepada orang lain dikenal dengan sebutan “Terroris”. Teroris merupakan suatu kumpulan orang yang tidak bermoral dengan memiliki paham untuk menghancurkan orang lain demi mencapai tujuan yang diharapkan. Namun, kita hanya akan membahas secara global sifat buruk yang dimiliki manusia. Terkait dengan isi Dhammapada Kodha Vagga: 231, tidak sedikit orang apabila marah kekuatan fisik akan menjadi kekuatan untuk meluaokan emosinya. Hal itupun membuat orang lain menjadi takut, tidak nyaman bersahabat dengannya.

      Pandangan keliru itulah yang sangat berbahaya apabila tidak diakhiri. Buddha menjelaskan dalam Anguttara Nikaya I: 17; “Bagi seseorang yang berpandangan salah melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Ketiga hal itu pula akan dilakukan dengan pandangan, kehendak, hasrat, harapan, serta bentukan. Semua yang muncul adalah hal yang tidak dikehendaki dan membawa pada keinginan dan penderitaan, karena pandangan buruk tersebut.”

Pandangan Buddhis tentang Manusia

A.      Empat kondisi yang sulit diperoleh guna mencapai Dhamma

      Guru Agung pernah mengajarkan Dhamma, bahwa kehidupan manusia yang telah diperoleh saat ini adalah yang terbaik dan termulia. Sebab empat hal yang teramat jarang telah tercapai sekaligus. Buddha pernah menjelaskan hal ini dalam kitab komentar Dhammapada 182. Buddha menjelaskan tentang empat hal tersebut kepada Erakapatta sang Raja Naga, bahwa mereka yang terlahir menjadi seekor hewan tidak dapat mencapai tingkat kesucian Sottapatti. Empat kondisi itu adalah :
1.       Sangat sulit untuk menjadi manusia;
2.       Sangat sulit untuk bertahan hidup;
3.       Sangat sulit untuk mendengarkan Dhamma mulia untuk merealisasi Nibbana;
4.       Sangat sulit berada dalam Buddha Sasana.

B.      Tipe Manusia Menurut Dhamma

      Manusia berasal dari kata Mano yang memiliki pengertian pikiran, kesadaran atau dalam hal ini adalah batin dan Ussa memiliki pengertian yang telah maju atau berkembang dan maju. Manusia dalam pandangan agama Buddha dapat dibedakan menjadi empat tipe:

1.       Manusia binatang
Ciri khasnya manusia ini adalah dipenuhi dengan kebodohan batin (moha), tidak dapat membedakan amna yang baik dan buruk, pantas, tidak pantas. Tidak berbakti pada orangtua, keras hati, sombong, hanya menuruti hawa nafsu keinginan.

2.       Manusia setan
Ciri khasnya manusia ini adalah selalu diliputi oleh keserakahan (lobha), kikir, tidak pernah puas, hanya emmikirkan keuntungan diri sendiri, tidak mengenal kebaikan, senang memuaskan nafsu inderanya saja.

3.       Manusia seutuhnya
Ciri khasnya orang ini adlaah senang membantu orang lain yang menderita, tidak kikir, memiliki hiri dan ottapa, hidup yang berpedoman kepada Dhamma.

4.       Manusia Dewa
Manusia ini selalu suka membantu orang lain yang menderita , memiliki pengendalian diri (sila), metta, karuna, mudita, upekkha, panna yang sangat kuat.

C.      Manusia Sampah
Buddha menjelaskan tentang manuia sampah dalam Vasala-Sutta; Sutta Nipata , yaitu kepada Brahmana Aggika-Baradvaja salah satunya adalah:
(1.)  “Siapapun yang marah, niat buruk, berpikiran jahat, dan iri hati, pandangan salah, tipu muslihat, dialah disebut sampah.”
(2.)  “Siapapun yang merusak atau agresif (suka menyerang) di kota dan didesa dikenal sebagai perusak atau penjahat yang kejam, dialah disebut sampah.”
(3.)  “Siapapun yang tidak menyokong ayah atau ibunya, yang sudah tua dan lemah, padahal dia hidup dalam keadaan berkecukupan, dial ah disebut sampah.”

      Buddha menjelaskan dalam Dhamma bahwa seseorang yang ingin hidup bahagia, selayaknya menjaga jasmani, ucapan, dan pikirannya sepanjang siang dan malam, maka kebahagiaan akan selalu menyertai mereka yang melakukannya.

Ceramah Dhamma oleh : Bhikkhu Atthadiro tanggal 3 Januari 2016
Sumber : Berita Dhammacakka No. 1191

Jumat, 25 Desember 2015

MEMBANGUN BUDAYA SANTUN DALAM AGAMA BUDDHA

MEMBANGUN BUDAYA SANTUN DALAM AGAMA BUDDHA

Sukarani asadhuni, attano ahitani ca
Yam ve hitan ca saddhun ca, tam ve paramadukkaram.

Sungguh mudah untuk melakukan hal-hal yang buruk dan tidak bermanfaat, tetapi sungguh sulit untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat.
(Dhammapada Atta-Vagga; 163)

      Secara umum banyak orang telah melupakan nilai-nilai keluhuran yang telah diajarkan dalam ilmu perilaku yang dikenal dengan sebutan “Agama”. Nilai keluhuran tertuang dalam norma budaya dengan istilah budaya santun. Budaya santun meruapakan ajaran yang telah diwariskan oleh para leluhur. Budaya santun secara buddhos juga telah diajarkan oleh Buddha dalam Dhamma yang dikenal dengan etika atau moralitas. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia arti dari santun adalah (1) halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya); sabar dan tenang; sopan;  (2) penuh rasa belas kasihan; suka menolong.

      Terkait dengan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa satun merupakan suatu ilmu yang mengajarkan seseorang untuk menjadi lebih halus lemah lembut. Pernyataan ini telah Buddha jelaskan dalam bait Mangala Sutta yaitu “terlatih baik dalam tata susila”. Manusia pada umumnya wajar melakukan tindakan kesalahan,akan tetapi menjadi tidak wajar apabila selalu melakukan keburukan tanpa adanya tindakan untuk menyadari perbuatan buruknya.

      Perbuatan buruk merupakan kebiasaan (budaya0 yang sering dilakukan dari tiga pintu indria, yaitu pikiran, ucapan, dan perilaku badan jasmani. Budaya santun akan terbentuk apabila seseorang dapat menjalankan isi dari Mangala Sutta yang ebrbunyi sbeagai berikut :
Bahusaccanca sippanca
Vinayo ca susikkhito
Subhasita cay a vaca
Etammangalamuttamanti
Berpengetahuan luas, berketerampilan, terlatih baik dalam tata susila, dan bertutur kata dengan baik, itulah Berkah Utama.

a.       Santun Berpikir
Keburukan yang dilakukan dari pikiran seering terjadi dengan berpikir buruk terhadap orang lain, berpikir keliru, memiliki pandangan salah. Hal-hal tersebut sudah menjadi budaya yang tidak baik dalam diri seseorang yang seharusnya mampu berpikir jernih. Santun dalam berpikir akan terbentuk apabila seseorang memiliki pengetahuan dalam berpikir yang ditembus dalam pengembanagn meditasi, yaitu mengetahui dengan jelas pikiran baik dan buruk yang sedang muncul. Secara bijaksana seseorang memotong pikiran buruknya dengan kesadaran, perhatian dan kewaspadaan. Selanjutnya adalah  memiliki keterampilan dalam berpikir, yaitu mampu terampil dalam menata pikiran, disamping seseorang terampil dalam segi kerajinan tangan. Keterampilan yang sesuai dengan Dhamma merupakan bagian dari seni yang juga dipuji oleh Sang Buddha. Orang yang tidak terampil dalam emnata pikiran , maka ia akan dengan serampangan berpikir hal-hal yang buruk dan tidak bermanfaat dengan mudah. Terkait pikiran, tertuang dalam Dhammapada Yamaka – vagga, 1; pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu. Pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk”. Bila seseorang berbicara dan berperilaku dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya. Begitu pula sebaliknya, apabila seseorang memiliki pikiran, ucapan, dan perilaku  yang murni, maka perbuatan baiknya akan mengikuti seperti baying-bayang yang tidak pernah mengikuti bendanya.

b.      Santun Bertutur Kata
Ucapan yang tidak baik terkadang seseorang melakukannya dengan sengaja. Hal ini merupakan tindakan dari keburukan yang sering dilakukan. Terkadang orang mengucapkan istilah salam “Namo Buddhaya”, akan tetapi kelanjutan dari rentetan pembicaraannya berisikan ucapan yang buruk dan tidak bermanfaat. Umat Buddha yang terkadang sering ke vihara justru menjadi pelaku dalam ucapan yang tidak baik, seperti memarahi orang dengan kata kata kasar, gossip dan memfitnah. Hal-hal ini tidak sesuai dengan isi Mangala Sutta yaitu bertutur kata dengan baik (vinayo ca susikkhito)”. Santun dalam berucap adalah seseorang dengan pengetahuannya dapat mengendalikan ucapannya untuk tidak melontarkan kata-kata yang buruk dan tidak bermanfaat. Sehingga perasaan orang lain terluka karenanya.

c.       Santun Berperilaku
Perilaku yang dilakukan oleh badan jasmani dituntut untuk diwaspadai. Banyak orang yang melupakan budaya santun dalam berperilaku. Erperilaku dapat dikategorikan dalam ebberapa bagian, yaitu berperilaku dalam tindakan dan berperilaku dalam berbusana. Realita yang dapat dilihat apabila melakukan perbandingan umat Buddha di daerah , desa, pedalaman jauh lebih santun dalam berperilaku dalam tindakan , seperti contoh mereka ke vihara selalu memberi salam Anjali pada sahabat-sahabatnya, memberikan perhatian di kala sakit, membantu pada saat ada kegiatan, tahu malu pada saat di vihara dengan mendengarkan ceramah Dhamma secara serius, tidak berbicara sendiri, tidak bermain handphone, tahu batas ukuran makan, sebagai intinya rasa toleransi masih terpelihara dengan baik.

      Selain itu berbudaya santun dalam berpakaian, semua serba tertutup dalam berpakaian, punya rasa enggan ke vihara dengan busana yang serba kekurangan. Kalau dibandingkan dengan umat Buddha di kota, meskipun tidak semuanya. Akan tetapi ada diantara mereka ke vihara tidak beretika dalam berbusana, hal ini juga kurang terampil dalam memilih pakaian. Selain itu juga perasaan malu dalam menyapa orang yang ditemui dengan bersikap Anjali. Budaya Anjali seolah-olah bukan tradisi Buddhis, sehingga malu untuk melakukannya. Buddha juga menjelaskan dalam Mangala Sutta :
Attasamapanidhi ca
Etammangalamuttamam
(membimbing diri dengan benar, merupakan bagian dari berkah utama).

Apabila seseorang semasa hidupnya tidak membimbing diri dengan benar, justru menjerumuskan duru ke dalam liang derita, maka dalam waktu yang panjang pula penderitaan yang dirasakan pada dirinya. Berbuat buruk dan hal yang tidak bermanfaat adalah suatu hal yang mudah dan sulit bagi mereka yang mau berbuat baik dan hal yang bermanfaat.

Hidup seseorang akan bermanfaat, bahagia, tenteram, damai, apabila mampu menerapkan budaya santun dalam berpikir, berucap dan berperilaku. Hal ini telah dijelaskan oelh Sang Buddha dalam Anguttara Nikaya III; 50, yaitu : “Mahluk apapun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. Sepanjang pagi, siang, dan malam, maka sepanjang itupula mereka akan bahagia dan kebahagiaan itu akan menjadi milik mereka”.

Ceramah Dhamma oleh : Bhikkhu Uggaseno tanggal 24 Mei 2015

Sumber : Berita Dhammacakka no. 1089 tanggal 24 Mei 2015 

MENGHADAPI KEGELISAHAN DAN KETAKUTAN DALAM HIDUP

MENGHADAPI KEGELISAHAN DAN KETAKUTAN DALAM HIDUP

Ratiya jayati soko, ratiya jayati bhayam
Ratiya vippamuttassa, natthi soko kuto bhayam

Dari kemelekatan timbul kesedihan, dari kemelekatan timbul ketakutan
Bagi orang yang telah terbebas dari kemelekatan
Tiada lagi kesedihan maupun ketakutan (Dhammapada ; 214)

      Dalam menjalani kehidupan sehari hhari, banyak cara yang ditempuh orang untuk memperoleh kedamaian. Apapun yang dilakukan demi mencapai keinginannya tersebut, tetapi pada kenyataannya tidak semua keinginan itu dapat terpenuhi. Sebaliknya kegelisahan dan ketakutan dalam hiduplah yang didapat akibat dari ketidakmampuan membedakan dengan jelas, apakah yang dijalaninya itu benar-benar menghasilkan kedamaian atau malah sebaliknya mendatangkan kegelisahan dan ketakutan. Dalam hal ini seseorang harus berjuang untuk mempertahankan kehidupannya agar kegelisahan dan ketakutan dapat teratasi. Mempunyai materi yang cukup atau bahkan berlebihan dan tidak menjamin bahwa hidupnya selalu damai. Apalagi yang kekurangan materi, mungkin merasa beban hidupnya semakin bertambah sehingga kegelisahan dan ketakutan menjadi bagian dan hidupnya. Kita sebagai manusia yang belum terbebas dari belenggu kekotoran batin tentunya tidak bisa terhindar sepenuhnya dari kegelisahan dan ketakutan.

      Kegelisahan dan ketakutan sesungguhnya bersumber dari pikiran kita sendiri. Dalam Anguttara Nikaya 184, terdapat empat sebab munculnya kegelisahan dan kettakutan:
1.       Kemelekatan terhadap nafsu kesenangan indera.
Setiap orang tentu mendambakan kesenangan kesenangan duniawi, seperti melihat hal-hal yang indah atau menyenangkan, mendengarkan suara yang merdu, mencium aroma yang wangi, makan makanan enak, memiliki rumah yang bagus, pakaian yang indah, alat tranpsortasi yang bagus, serta memiliki keluarga yang harmonis. Kesenangan indera tersebut merupakan kesenangan yang menyimpan derita, karena banyak orang yang tidak bisa melepas kesenangan-kesenangan tersebut.

2.       Kemelekatan terhadap tubuh
Tubuh yang sehat adalah dambaan setiap orang. Namun, tubuh pun akan berproses sesuai dengan sifatnya yaitu akan mengalami perubahan. Apabila kita tidak menyadari perubahan dari tubuh maka melekat pada keindahan tubuh akan memunculkan kegelisahan dan ketakutan.

3.       Merasa belum melakukan perbuatan bajik dan bermanfaat
Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu dikejar oleh kebutuhan hidup, baik yang sudah berumah tangga maupun yang belum berumah tangga. Sehingga apabila kita sibuk mencari ekebutuhan hidup saja da tidak menghiraukan perbuatan bajik dan bermanfat dalam hidup, maka pada saat mengalami sakit yang kritis, kita tidak memiliki bekal kebajikan yang cukup. Sehingga membuat kita gelisah dan takut akan kehidupan selanjutnya.

4.       Masih memiliki keraguan dan kebingungan terhadap Dhamma
Di lingkungan tempat kita tinggal kita sendiri dari berbagai macam suku yang mempunyai tradisi masing masing. Kehidupan kita tidak bisa terlepas dari tradisi. Setiap daerah memiliki tradisinya masing masing. Apabila kita hidup dalam tradisi yang kuat, maka orang yang sering belajar Dhamma dan tidak mempraktikkannya akan mempunyai keyakinan yang lemah. Sehingga kemelekatan pada tradisi inilah yang menyebbakan seseorang mengalami kegelisahan dan ketakutan.

      Sebab-sebab kegelisahan dan ketakutan yang sudah kita ketahui ini bisa kita hadapi dengan lima perenungan yang terdapat dalam Anguttara Nikaya, 57 :

1.       Perenungan terhadap usia tua
Aku wajar mengakami usia tua. Aku takkan mampu menghindari usia tua. Ketika masih muda dengan rambut yang berwarna hitam, kulit yang masih kencang, tenaga yang masih kuat serta indera-indera yang masih normal. Kita sering membuang waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Tetapi bagi kita yang mengerti tentang perenungan terhadap usia tua, maka kita tidak akan membuang-buang waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat dan ketika kita mengalami perubahan pada jasmani seperti; rambut menjadi putih, kulit menjadi keriput, tenaga menjadi berkurang serta inderanya sudah tidak berfungsi dengan baik lagi. Kita akan tetap tenang dan tidak gelisah serta tidak takut akan perubahan itu.

2.       Perenungan terhadap penyakit
Aku wajar menyandang penyakit. Aku takkan mampu menghindari penyakit. Terlahir menjadi manusia tidak akan lepas dari sakit. Sakit merupakan bagian dari kehidupan yang akan kita alami. Dengan sering merenungkan bahwa kita tidak akan terhindar dari sakit maka kegelisahan dan ketakutan yang merupakan penyakit pikiran akan bisa teratasi. Sehingga, pada saat sakit fisik datang, kita tidak akan menambah dengan penyakit pikiran.

3.       Perenungan terhadap kematian
Aku wajar mengalami kematian. Aku takkan mampu menghindari kematian. Setiap kelahiran pasti akan diakhiri dengan kematian. DEngan kita merenungkan tentang kematian, kita akan hidup dengan waspada dan hati-hati dalam berpikir, berucap, dan berperilaku, sehingga kegelisahan dan ketakutan bisa kita kurangi.

4.       Perenungan terhadap perubahan
Segala milikku yang kucintai dan kusenangi wajar berubah, wajar berpisah dariku. Manusia dalam menjalani hidup memerlukan kebutuhan hidup seperti apakaian, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan. Kita juga memiliki orang tua, keluarga, serta teman-teman. Tetapi yang harus kita pahami bahwa suatu saat apa yang kita miliki, cintai, dan senangi akan berubah dan berpisah dengan kita. Oleh karena itu, perenungan tentang perubahan ini mengajarkan kita agar tidak melekat pada apapun yang selama ini kita anggap miliki kita.

5.       Perenungan tentang hukum kamma
Hukum kamma merupakan hukum yang berlaku universal kepada siapa saja, kapan saja, serta dimana saja. Dengan kita merenungkan tentang hukum kamma, maka kita akan lebih berhati-hati lagi dalam bertindak.
Pengertian yang benar tentang Dhamma dan mau mempraktikkannya akan emmbantu kita dalam mengimbangi kesenangan-kesenangan duniawi. Sehingga kemelekatan yang membawa kita pada penderitaan seperti kegelisahan dan ketakutan akan dapat kita kurangi. Semoga kita semua tetap terus mempraktikan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga semua mahluk hidup berbahagia.

Sumber : Berita Dhammacakka No. 1090
Ceramah Dhamma Oleh : Bhikkhu Ratanaviro, Minggu  tanggal 31 Mei 2015
   


Sabtu, 24 Oktober 2015

WARISKAN DHAMMA , BUKAN HARTA



WARISKAN DHAMMA , BUKAN HARTA

Sabbadanam dhammadanam jinati
Pemberian Dhamma mengalahkan segala pemberian
(Dhammapada XXIV.354)

      Pada umumnya orang-orang memiliki keturunan sebagai penerus agar silsilah keluarga tidak terputus. Kalaupun tidak memiliki keturunan, orang-orang kadang mengadopsi anak orang lain dan dijadikan layaknya anak kandung. Salah satu tujuan mempunyai keturunan adalah apabila kelak mereka meninggal akan ada pewaris. Pewaris akan diwarisi berbagai hal seperti kebiasaan-kebiasaan atau tradisi keluarga, dan yang tidak ketinggalan adalah mewariskan harta kekayaan (materi). Namun demikian, tidak semua warisan diwariskan setelah meninggalnya seseorang, ketika seseorang masih hidup pun warisan sudah diwariskan kepada penerusnya.

Hanya Mewariskan Harta Sangat Berbahaya

      Mewariskan kebiasaan atau tradisi yang baik tentu bermanfaat. Mewariskan harta pun hal yang baik. Tetapi akan lebih baik lagi apabila orangtua dapat mewariskan nasihat-nasihat atau pedoman-pedoman yang bisa dijadikan pegangan oleh anak-anaknya kelak. Janganlah orangtua  hanya berpikir mewariskan harta materi saja, sebab hal itu akan sangat membahayakan masa depan anak-anak atau penerus.

      Sebagai contoh, semasa Sang Buddha, terdapat suatu keluarga yang memiliki harta kekayaan berlimpah, warisan dari orang tua dan leluhur-leluhurnya. Dengan harta yang sangat banyak itu, yang tidak akan habis walaupun digunakan sampai tujuh generasi berikutnya, mereka berpikir, anaknya yang semata wayang tidak perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan karena hal itu hanya akan membuat anaknya kesepian, kelelahan karena harus bersusah payah dalam menuntut ilmu pengetahuan. Dengan harta yang banyak itu, mereka memastikan bahwa, anaknya dapat hidup bahagia sampai akhir hayatnya. Namun, setelah kepergian kedua orangtuanya, anak ini tidak tahu bagaimana cara menggunakan hartanya dengan bijak. Ia menggunakan hartanya untuk berfoya-foya, dihamburkan untuk bersenang-senang bersama sahabat-sahabatnya. Sebelu ia meninggal, hartanya sudah habis, rumahnya pun djual dan menjadi gelandangan. Bahkan di kemudian hari, ia menjadi komplotan perampok. Karena tidak pernah diajarkan berbagai pengetahuan maupun keterampilan, dalam urusan merampok pun dia tidak paham, sehingga dengan mudah penduduk menangkapnya dan dibawa kehadapan raja untuk diadili. Akhirnya ia dijatuhi hukuman pancung (Dhammapada Atthakatha).

Lebih Berharga dari Harta

      Lebih penting dari harta materi yang perlu diwariskan kepada  keturunan adalah ilmu pengetahuan. Jika memiliki bekal ilmu pengetahuan, seseorang masih dapat bertahan hidup meskipun tidak memiliki harta yang melimpah. Pekerjaan dapat dicari untuk mendapatkan penghasilan. Jika seseorang tidak memiliki pengetahuan, tntu kehidupan akan sulit, lebih-lebih tidak memiliki harta warisan juga. Bisa saja orang akan menjadi pengemis atau gelandangan. Di samping pengetahuan, ada hal yang disebut keterampilan. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui, kepandaian atau bisa disebut teori. Sedangkan keterampilan adalah kecakapan untuk menyelesaikan tugas. Terlihat bahwa antara pengetahuan berbeda dengan keterampilan, tetapi dua hal ini pada umumnya dapat dianggap sama. Seseorang yang memiliki keterampilan berawal dari memiliki pengetahuan. Meski demikian tidak semua yang memiliki pengetahuan diiringi dengan memiliki keterampilan. Namun hanya berbekal pengetahuan dan keterampilan saja belumlah cukup. Ada sesuatu yang lebih bernilai, yaitu tata krama. Tata krama menyangkut perilaku jasmani dan tutur kata. Tata karma dalam KBBI diartikan sebagai adat sopan santun ; basa basi. Kata lain untuk tata karma adalah tata susila, yang berarti adat sopan santun ; etika. Dalam Dhamma, tata karma atau tata susila ini disebut dengan istilah “sila” (kemoralan). Orang yang memiliki pengetahuan atau keterampilan belum tentu memiliki kemoralan.

      Banyak orang berpikir , dengan memiliki pengetahuan yang luas, bahkan disertai jabatan yang tinggi, mereka layak dihormati. Tetapi jika mereka memiliki perilaku yang tidak terpuji, penghormatan bukanlah menjadi hak mereka. Sebaliknya orang yang memiliki sedikit pegetahuan, bahkan tidak menyandang status apapun, tetapi memiliki sopan santun ; perilaku dan tutur kata yang baik, akan menjadi teladan bagi yang lainnya. Orang-orang seperti itulah sebenarnya yang layak mendapat penghormatan. Oleh karena itu, orang-orang bijak lebih memuji orang yang memiliki tata karma atau sila dibandingkan dengan orang yang hanya memiliki pengetahuan.  Dalam Anguttara Nikaya IV.6 dinyatakan :

      “Jika seseorang memiliki sedikit pengetahuan, dan sembrono dengan silanya, orang-orang akan mencelanya dalam dua hal, karena kurangnya sila dan kurangnya pengetahuan.”

      “Tetapi walaupun seseorang memiliki sedikit pengetahuan, namun berhati-hati dengan silanya, orang-orang akan memuji karena silanya, seolah-olah ia berpengatahuan juga.”

      “Jika seseorang memiliki banyak pengetahuan, namun sembrono dengan silanya, orang-orang akan mencela karena silanya, seolah-olah ia tidak memiliki pengetahuan.”

      “Tetapi jika seseorang memiliki banyak pengetahuan, dan berhati-hati dengan silanya, orang-orang akan memujinya karena dua hal, karena sila dan pengetahuannya.”

      Memiliki banyak pengetahuan adalah hal yang baik, tetapi apabila pengetahuan itu tidak diimbangi dengan tata susila, itu bisa menjadi bahaya. Maka sila diperlukan sebagai rem agar tidak terjadi hal-hal diluar ranah tata karma atau tata susila. “Memiliki banyak pengetahuan dan keterampilan, terlatih baik dalam tata susila, bertutur kata dengan baik, itula berkah utama.” (Mangala Sutta).

Warisan yang Paling Berharga

      Segala jenis harta benda, apapun bentuknya, yang menurut anggapan kita merupakan sesuatu yang berharga, bernilai tinggi. Semua itu hanyalah materi yang bersifat fana, tidak bisa bertahan selamanya. Suatu saat materi-materi itu akan pergi, hilang, lenyap meninggalkan kita, atau kita sendiri yang akan pergi meninggalkan mereka. Ada harta yang nilainya melampaui harta benda. Harta ini dikatakan sebagai harta mulia karena apabila kita memilikinya, kita secara otomatis menjadi orang yang mulia. HArta mulia terdiri dari : keyakinan, kemoralan, malu ebrbuat jahat, takut akibat perbuatan jahat, pembelajaran, kedermawanan, dan kebijaksanaan (AN VII.6). Tujuh harta mulia itulah yang hendaknya orangtua dapat wariskan kepada keturunan atau penerusnya karena pasti akan membawa pada kebahagiaan, tidak seperti harta materi yang jika disalahgunakan, bisa membawa pada kesengsaraan.

      Untuk dapat mewariskan harta benda, seseorang haruslah memilikinya terlebih dahulu. Demikian juga dalam mewariskan harta mulia, seseorang seyogianya memilikinya terlebih dahulu. Itu idealnya. Siapapun akan lebih mudah meniru dari apa yang dilihat, tidak sekedar dari apa yang didengar saja. Begitu pula dengan anak-anak akan lebih cepat dan mudah mewarisi dari contoh atau teladan daripada melalui nasihat semata.

Sumber : Berita Dhammacakka No. 1110 tanggal 18 Oktober 2015
Ceramah Dhamma oleh Bhikkhu Sakkhadhammo