Pasang Iklan Di Sini

Monday, December 1, 2014

KEBAHAGIAAN UMAT AWAM

KEBAHAGIAAN UMAT AWAM

Di dunia ini ia berbahagia, di dunia sana ia berbahagia; Pelaku kebajikan berbahagia di kedua dunia itu. Ia akan berbahagia ketiak berpikir, “Aku telah berbuat bajik”; dan ia akan lebih berbahagia lagi ketika berada di alam bahagia. (Dhammapada 18).


      Hidup di jaman modern ini memang tidak mudah, persaingan di mana-mana, akibatnya banyak masalah. Meskipun faktanya standar hidup secara umum telah meningkat, seseorang masih tetap menderita karena beban kehidupan masa kini. Dampaknya, fisik seseorang menjadi menurun hingga pada level yang begitu menyedihkan. Penyakit yang menyebabkan kematian lebih awal datangnya seperti kanker, gagal jantung, kencing manis dan lain-lain. Secara batiniah, hal itu akibat dari ketegangan yang berlebihan, karena orang sekarang melupakan seni mengendalikan pikiran dan tak jarang tidak dapat menikmati tidur nyenyak tanpa bantuan obat penenang.

      Selain itu, dalam hubungan antar pribadi menjadi begitu rapuh dan rentannya akibat dari kesibukan dan melupakan komunikasi yang baik antar pribadi, sehingga muncullah kebosanan dan banyak perbedaan membuat tingkat perceraian tinggi, dan karenanya menimbulkan masalah social lainnya seperti anak terlantar, kenakalan remaja, dan lain-lain. Demikianlah kehidupan saat ini yang penuh beban dan sangat sulit.

      Dalam Anguttara Nikaya kelompok empat (catukanipata), Buddha membabarkan sutta kepada  Anathapindika tentang kebahagiaan perumah tangga.  Pada sutta ini menawarkan pandangan terang yang cukup jelas bagi kita untuk menjawab masalah pada kondisi saat ini. Empat jenis kesenangan tersebut yaitu: atthisukha, kesenangan dari memiliki kekayaan materi; bhogasukha, kesenangan dari menikmati kekayaan materi; ananasukha, kesenangan dari tidak memiliki hutang; dan anavajjasukha, kesenangan dari menjadi tidak tercela.

1.       Atthisukha – Kesenangan dari memiliki kekayaan materi.
Perumah tangga dalam memperoleh kekayaan materi harus memiliki sebuah mata pencaharian yang benar, menghindari perdagangan yang tercela. Seseorang juga seharusnya tidak menipu atau memanfaatkan yang lain dalam melaksanakan pekerjaannya. Dengan mengerahkan diri sendiri dengan sikap tekun-ulet, menjaga apa yang telah diperoleh, bergaul dengan teman yang baik dan hidup seimbang. Hal ini adalah cara dalam mengumpulkan kekayaan materi. Sekali lagi, namun jika seseorang tidak memiliki rasa puas dengan yang dimilikinya, maka dia tidak dapat benar-benar menikmati atthisukha atau kesenangan dari memiliki. Ketidakpuasan adalah salah satu penyakit yang tersebar luas, yang dapat kita lihat dalam masyarakat masa kini. Pengumpulan kekayaan yang berlebihan bukan menjadi sumber kebahagiaan, melainkan kegelisahan. Oleh karena itu dalam mengharap kekayaan hendaknya mengerti dan memahami secara jelas agar muncul kebahagiaan yang utuh.

2.       Bhogasukha – Kesenangan dari menikmati kekayaan materi.
Kekayaan adalah alat untuk pengantar menuju kebahagiaan perlu digunakan secara tepat, pantas dan juga hati-hati. Dalam Budhisme menyayangkan sikap berfoya-foya maupun kekikiran. Seseorang harus memperhatikan standar hidup yang sehat dan seimbang sesuai dengan kemampuannya. Apabila, dalam penikmata kekayaannya, seseorang terlalu memuaskan dirinya dalam kesenangan indria, dia pasti akan mengalami bahaya kesehatan dalam waktu yang sangat singkat. Misalnya; seseorang terlalu memuaskan dirinya dalam makanan hanya karena dia mampu membelinya, dia akan segera terserang penyakit seperti gagal jantung, tekanan darah tinggi, dan kencing manis. Seseorang yang demikian akan dihadapkan pada situasi “Memotong leher dengan lidahnya sendiri”. Kesahajaan dalam makanan adalah suatu kebajikan yang terpuji dalam Buddhisme dan ini adalah kebiasaan yang sehat. Sering kali dalam rangka menikmati kekayaan, seseorang mengembangkan kebiasaan yang tidak sehat seperti merokok dan minum-minuman keras. Jika saja seseorang berhenti sejenak utuk merenungkan kesejahteraannya sendiri, dia tidak akan masuk ke dalam cengkeramana kebiasaan-kebiasaan buruk ini. Orang yang sudah melimpah terkadang berakhir dalam keadaan menyedihkan seperti semut yang jatuh ke dalam gelas yang berisi madu. Seseorang yang demikian tidak mengetahui seni boghasukha.

3.       Ananasukha – Kesenangan karena tidak memiliki hutang.
Kesenangan karena tidak memiliki hutang adalah kualitas ketiga yang dibahas dalam sutta ini. Secara ekonomi, jika seseorang dapat benar-benar bebas dari hutang, dia sungguh merupakan orang yang sangat beruntung. Untuk menjadi benar-benar tidak memiliki hutang dalam masyarakat, seseorang harus melaksanakan kewajiban-kewajibannya dengan sangat teliti. Oleh karenanya jangan sampai terjebak dalam hutang. Dalam masyarakat modern hutang dibuat dan ditawarkan dengan cara yang mudah dan menggiurkan , tetapi kalau tidak memahami akhirnya akan terjerat dan membuat batin tidak tenang, karena khawatir jika penagih datang, akibatnya menderita dalam hidupnya. Lalu, kalau seandainya terpaksa melakukan hutang untuk usaha atau untuk hal penting lainnya  - hendaknya mempertimbangkan untuk bagaimana nanti membayarnya atau mengangsurnya.

4.       Anavajjasukha – Kebahagiaan dari menjalani hidup tanpa cela adalah bentuk tertinggi dari kebahagiaan yang dapat dimiliki umat perumah tangga. Dalam masyarakat Buddhis, memiliki sebuah kode etik yang harus diikuti yaitu dengan mempraktikkan pancasila (lima sila). Apabila seseorang kebajikan-kebajikan ini, ia dapat memiliki kebahagiaan yang luar biasadari menjalani kehidupan yang benar. Siapapun yang menjalankan sila dengan baik akan memiliki hiri (rasa malu) dan ottappa (takut untuk berbuat salah). Dengan kualitas ini maka seseorang akan memiliki  kualitas deva dhamma atau kualitas kualitas surgawi. Dengan sila inilah yang akan mengantar seseorang kea lam bahagia. Ini adalah kualitas-kualitas dasar manusia yang membedakan manusia dengan dunia hewan. Jadi, sungguh menjadi suatu kebahagiaan bagi perumah tangga apabila dapat menjalankan hidup tanpa cela. Kemanapun ia pergi tidak pernah takut dan tidak khawatir karena ia mnyadari bahwa ia tidak memiliki kesalahan yang membuat dia khawatir.

      Selain itu hidup tanpa cela dapat juga dikembangkan dengan seiring meditasi karena dengan meditasi niat-niat buruk dalam pikirna segera diketahui. Dan ketika merasa tidak bahagia, dia sadar dan tidakpernah mencari kesalahan kepada pihak lain. Dengan demikian ia dapat terbebas dari hal-hal yang tercela. Pikirannya akan dipenuhi dengan sifat-sifat yang luhur seperti cinta kasih, welas asih, kegembiraan simpati, dan keseimbangan batin akhirnya kehidupan yang bahagia akan tercapai. Mereka yang hidup dengan dengan kebiasaan perilaku yang demikian adalah orang-orang yang menyenangkan dan damai, yang dapat berbahagia, baik diri sendiri maupun di dalam masyarakat.

      Dengan memahami pentingnya empat jenis kebahagiaan yang dijelaskan dalam sutta ini, kita dapat menerapkan ke dalam tindakan yang bijak, sehingga hidup akan jauh lebih menyenangkan dan bahagia bahkan di jaman modern ini.

Ceramah : Oleh Bhikkhu Atthadiro tanggal 30 November 2014
Sumber : Berita Dhammacakka No. 1064 tanggal 30 November 2014  




No comments:

Post a Comment