Pasang Iklan Di Sini

Friday, August 3, 2012

Anatta-lakkhana Sutta (The Discourse on the Not-self Characteristic)

DIBUTUHKAN SEGERA KARYAWAN UNTUK MENJAGA TOKO PRIA / WANITA MINIMAL LULUSAN SMP
KIRIM CV KE ALAMAT EMAIL :
ricky_kurniawan02@yahoo.com
PALING LAMBAT TANGGAL 31 DESEMBER 2014


======================================================
Dijual biji jagung Popcorn ukuran:
1. 200 gram   = Rp. 8.000,-
2. 250 gram   = Rp. 10.000,-
3. 500 gram   = Rp. 20.000,-
4. 1000 gram = Rp. 40.000,-

Bagi yang berminat hubungi : 089652569795 / pin bb: 7dfe719a


Anatta-lakkhana Sutta
(The Discourse on the Not-self Characteristic)



[Evam-me sutam,] Ekam samayam Bhagava, Baranasiyam viharati isipatane migadaye. Tatra kho Bhagava pañca-vaggiye bhikkhu amantesi. 

Demikianlah yang kudengar, pada suatu ketika Sang Bhagavà sedang berdiam di Vanarasi, di Taman Rusa di Isipatana. Di sana Beliau berkata kepada Kelompok Lima Bhikkhu:

“Rupam bhikkhave anatta. Rupañca hidam bhikkhave atta abhavissa, Nayidam rupam abadhaya samvatteyya, Labbhetha ca rupe, Evam me rupam hotu evam me rupam ma ahositi.

Badan jasmani ini, para bhikkhu, adalah bukan aku. Jika badan jasmani ini adalah aku, maka badan jasmani ini tidak akan menyerah pada ketidak-nyamanan. Adalah mungkin (untuk mengatakan) sehubungan dengan badan-jasmani, ‘Biarlah badan-jasmaniku seperti ini. Biarlah badan-jasmaniku tidak seperti ini.’

Yasma ca kho bhikkhave rupam anatta, Tasma rupam abadhaya samvattati, Na ca labbhati rupe, Evam me rupam hotu evam me rupam ma ahositi. 

Tetapi tentu saja, karena badan-jasmani ini bukan aku, maka badan jasmani ini menyerah pada ketidak-nyamanan. Dan adalah tidak mungkin (untuk mengatakan) sehubungan dengan badan-jasmani, ‘Biarlah badan-jasmaniku seperti ini. Biarlah badan-jasmaniku tidak seperti ini.’

Vedana anatta. Vedana ca hidam bhikkhave atta abhavissa, Nayidam vedana abadhaya samvatteyya, Labbhetha ca vedanaya, Evam me vedana hotu evam me vedana ma ahositi. 

Perasaan adalah bukan aku. Jika perasaan adalah aku, maka perasaan tidak akan menyerah pada ketidak-nyamanan. Adalah mungkin (untuk mengatakan) sehubungan dengan perasaan, ‘Biarlah perasaanku seperti ini. Biarlah perasaanku tidak seperti ini.’

Yasma ca kho bhikkhave vedana anatta, Tasma vedana abadhaya samvattati, Na ca labbhati vedanaya, Evam me vedana hotu evam me vedana ma ahositi. 

Tetapi tentu saja, karena perasaan bukan aku, maka perasaan menyerah pada ketidak-nyamanan. Dan adalah tidak mungkin (untuk mengatakan) sehubungan dengan perasaan, ‘Biarlah perasaanku seperti ini. Biarlah perasaanku tidak seperti ini.’

Sañña anatta. Sañña ca hidam bhikkhave atta abhavissa, Nayidam sañña abadhaya samvatteyya, Labbhetha ca saññaya, Evam me sañña hotu evam me sañña ma ahositi.

Persepsi adalah bukan aku. Jika persepsi adalah aku, maka persepsi tidak akan menyerah pada ketidak-nyamanan. Adalah mungkin (untuk mengatakan) sehubungan dengan persepsi, ‘Biarlah persepsiku seperti ini. Biarlah persepsiku tidak seperti ini.’

Yasma ca kho bhikkhave sañña anatta, Tasma sañña abadhaya samvattati, Na ca labbhati saññaya, Evam me sañña hotu evam me sañña ma ahositi. 

Tetapi tentu saja, karena persepsi bukan aku, maka persepsi menyerah pada ketidak-nyamanan. Dan adalah tidak mungkin (untuk mengatakan) sehubungan dengan persepsi, ‘Biarlah persepsiku seperti ini. Biarlah persepsiku tidak seperti ini.’

Sankhara anatta. Sankhara ca hidam bhikkhave atta abhavissamsu, Nayidam sankhara abadhaya samvatteyyum, Labbhetha ca sankharesu, Evam me sankhara hontu evam me sankhara ma ahesunti. 

Proses-proses batin adalah bukan aku. Jika proses-batin adalah aku, maka proses-batin tidak akan menyerah pada ketidak-nyamanan. Adalah mungkin (untuk mengatakan) sehubungan dengan proses-batin, ‘Biarlah proses-batinku seperti ini. Biarlah proses-batinku tidak seperti ini.’

Yasma ca kho bhikkhave sankhara anatta, Tasma sankhara abadhaya samvattanti, Na ca labbhati sankharesu, Evam me sankhara hontu evam me sankhara ma ahesunti. 

Tetapi tentu saja, karena proses-batin bukan aku, maka peroses-batin menyerah pada ketidak-nyamanan. Dan adalah tidak mungkin (untuk mengatakan) sehubungan dengan proses-batin, ‘Biarlah proses-batinku seperti ini. Biarlah proses-batinku tidak seperti ini.’

Viññanam anatta. Viññanañca hidam bhikkhave atta abhavissa, Nayidam viññanam abadhaya samvatteyya, Labbhetha ca viññane, Evam me viññanam hotu evam me viññanam ma ahositi. 

Kesadaran adalah bukan aku. Jika kesadaran adalah aku, maka kesadaran tidak akan menyerah pada ketidak-nyamanan. Adalah mungkin (untuk mengatakan) sehubungan dengan kesadaran, ‘Biarlah kesadaranku seperti ini. Biarlah kesadaranku tidak seperti ini.’

Yasma ca kho bhikkhave viññanam anatta, Tasma viññanam abadhaya samvattati, Na ca labbhati viññane, Evam me viññanam hotu evam me viññanam ma ahositi. 

Tetapi tentu saja, karena kesadaran bukan aku, maka kesadaran menyerah pada ketidak-nyamanan. Dan adalah tidak mungkin (untuk mengatakan) sehubungan dengan kesadaran, ‘Biarlah kesadaranku seperti ini. Biarlah kesadaranku tidak seperti ini.’

Tam kim maññatha bhikkhave rupam niccam va aniccam vati.” 

“Bagaimanakah menurut kalian, para bhikkhu – Apakah badan jasmani kekal atau tidak kekal?”

“Aniccam bhante.” 

“Tidak kekal, Bhagavà”

“Yam-pananiccam dukkham va tam sukham vati.” 

“Dan apakah yang tidak kekal itu kebahagiaan atau penderitaan?”

“Dukkham bhante.”

“Penderitaan, Bhagavà.”

“Yam-pananiccam dukkham viparinama-dhammam, Kallam nu tam samanupassitum, Etam mama eso’ham-asmi eso me attati.” 

“Dan apakah layak menganggap apa yang tidak kekal, penuh penderitaan, mengalami perubahan sebagai : ‘Ini milikku. Ini diriku. Ini aku’?”

“No hetam bhante.” 

“Tidak, Bhagavà.”

“Tam kim maññatha bhikkhave vedana nicca va anicca vati.” 

“Bagaimanakah menurut kalian, para bhikkhu – apakah perasaan kekal atau tidak kekal?”

“Anicca bhante.” 

“Tidak kekal, Bhagavà”

“Yam-pananiccam dukkham va tam sukham vati.” 

“Dan apakah yang tidak kekal itu kebahagiaan atau penderitaan?”

“Dukkham bhante.” 

“Penderitaan, Bhagavà.”

“Yam-pananiccam dukkham viparinama-dhammam, Kallam nu tam samanupassitum, Etam mama eso’ham-asmi eso me attati.” 


“Dan apakah layak menganggap apa yang tidak kekal, penuh penderitaan, mengalami perubahan sebagai : ‘Ini milikku. Ini diriku. Ini aku’?”

“No hetam bhante.” 

“Tidak, Bhagavà.”

“Tam kim maññatha bhikkhave sañña nicca va anicca vati.” 

“Bagaimanakah menurut kalian, para bhikkhu – apakah persepsi kekal atau tidak kekal?”

“Anicca bhante.” 

“Tidak kekal, Bhagavà”

“Yam-pananiccam dukkham va tam sukham vati.” 

“Dan apakah yang tidak kekal itu kebahagiaan atau penderitaan?”

“Dukkham bhante.” 

“Penderitaan, Bhagavà.”

“Yam-pananiccam dukkham viparinama-dhammam, Kallam nu tam samanupassitum, Etam mama eso’ham-asmi eso me attati.” 

“Dan apakah layak menganggap apa yang tidak kekal, penuh penderitaan, mengalami perubahan sebagai : ‘Ini milikku. Ini diriku. Ini aku’?”

“No hetam bhante.” 

“Tidak, Bhagavà.”

“Tam kim maññatha bhikkhave sankhara nicca va anicca vati.” 

“Bagaimanakah menurut kalian, para bhikkhu – apakah proses batin kekal atau tidak kekal?”

“Anicca bhante.” 

“Tidak kekal, Bhagavà”

“Yam-pananiccam dukkham va tam sukham vati.” 

“Dan apakah yang tidak kekal itu kebahagiaan atau penderitaan?”

“Dukkham bhante.” 

“Penderitaan, Bhagavà.”

“Yam-pananiccam dukkham viparinama-dhammam, Kallam nu tam samanupassitum, Etam mama eso’ham-asmi eso me attati.” 


“Dan apakah layak menganggap apa yang tidak kekal, penuh penderitaan, mengalami perubahan sebagai : ‘Ini milikku. Ini diriku. Ini aku’?”

“No hetam bhante.” 

“Tidak, Bhagavà.”

“Tam kim maññatha bhikkhave viññanam niccam va aniccam vati.”“Bagaimanakah menurut kalian, para bhikkhu – apakah kesadaran kekal atau tidak kekal?”

“Aniccam bhante.” 

“Tidak kekal, Bhagavà”

“Yam-pananiccam dukkham va tam sukham vati.” 

“Dan apakah yang tidak kekal itu kebahagiaan atau penderitaan?”

“Dukkham bhante.” 

“Penderitaan, Bhagavà.”

“Yam-pananiccam dukkham viparinama-dhammam, Kallam nu tam samanupassitum, Etam mama eso’ham-asmi eso me attati.” 

“Dan apakah layak menganggap apa yang tidak kekal, penuh penderitaan, mengalami perubahan sebagai : ‘Ini milikku. Ini diriku. Ini aku’?”

“No hetam bhante.” 

“Tidak, Bhagavà.”

“Tasmatiha bhikkhave yankiñci rupam atitanagata-paccuppannam, Ajjhattam va bahiddha va, Olarikam va sukhumam va, Hinam va panitam va, Yandure santike va, Sabbam rupam, 

Demikianlah, para bhikkhu, badan jasmani apapun – di masa lampau, masa depan atau masa sekarang; kasar atau halus, biasa atau mulia; jauh atau dekat; setiap badan jasmani –

Netam mama neso’ham-asmi na meso attati, Evam-etam yathabhutam sammappaññaya datthabbam. 

Harus dilihat sebagaimana adanya dengan pandangan benar sebagai: ‘Ini bukan milikku. Ini bukan diriku. Ini bukan aku.’ 

Ya kaci vedana atitanagata-paccuppanna, Ajjhatta va bahiddha va, Olarika va sukhuma va, Hina va panita va, Ya dure santike va, Sabba vedana,

perasaan apapun – di masa lampau, masa depan atau masa sekarang; kasar atau halus, biasa atau mulia; jauh atau dekat; setiap perasaan –

Netam mama neso’ham-asmi na meso attati, Evam-etam yathabhutam sammappaññaya datthabbam. 

Harus dilihat sebagaimana adanya dengan pandangan benar sebagai: ‘Ini bukan milikku. Ini bukan diriku. Ini bukan aku.’

Ya kaci sañña atitanagata-paccuppanna, Ajjhatta va bahiddha va, Olarika va sukhuma va, Hina va panita va, Ya dure santike va, Sabba sañña, 

persepsi apapun – di masa lampau, masa depan atau masa sekarang; kasar atau halus, biasa atau mulia; jauh atau dekat; setiap persepsi –

Netam mama neso’ham-asmi na meso attati, Evam-etam yathabhutam sammappaññaya datthabbam. 

Harus dilihat sebagaimana adanya dengan pandangan benar sebagai: ‘Ini bukan milikku. Ini bukan diriku. Ini bukan aku.’

Ye keci sankhara atitanagata-paccuppanna, Ajjhatta va bahiddha va, Olarika va sukhuma va, Hina va panita va, Ye dure santike va, Sabbe sankhara, 

Proses batin apapun – di masa lampau, masa depan atau masa sekarang; kasar atau halus, biasa atau mulia; jauh atau dekat; setiap proses batin –

Netam mama neso’ham-asmi na meso attati, Evam-etam yathabhutam sammappaññaya datthabbam. 

Harus dilihat sebagaimana adanya dengan pandangan benar sebagai: ‘Ini bukan milikku. Ini bukan diriku. Ini bukan aku.’

Yankiñci viññanam atitanagata-paccuppannam, Ajjhattam va bahiddha va, Olarikam va sukhumam va, Hinam va panitam va, Yandure santike va, Sabbam viññanam, 

Kesadaran apapun – di masa lampau, masa depan atau masa sekarang; kasar atau halus, biasa atau mulia; jauh atau dekat; setiap kesadaran –

Netam mama neso’ham-asmi na meso attati, Evam-etam yathabhutam sammappaññaya datthabbam. 

Harus dilihat sebagaimana adanya dengan pandangan benar sebagai: ‘Ini bukan milikku. Ini bukan diriku. Ini bukan aku.’

Evam passam bhikkhave sutava ariya-savako, Rupasmim pi nibbindati, Vedanaya pi nibbindati, Saññaya pi nibbindati, Sankharesu pi nibbindati, Viññanasmim pi nibbindati. 

Melihat demikian, siswa terlatih dari para mulia mengembangkan kekecewaan terhadap badan jasmani, kekecewaan terhadap perasaan, kekecewaan terhadap persepsi, kekecewaan terhadap proses batin, dan kekecewaan terhadap kesadaran.

Nibbindam virajjati, Viraga vimuccati, 

Karena kecewa, ia menjadi bosan. Melalui kebosanan ia terbebaskan.

Vimuttasmim vimuttam-iti ñanam hoti, Khina jati, Vusitam brahma-cariyam, Katam karaniyam, Naparam itthattayati pajanatiti.” 

Dengan terbebaskan, muncullah pengetahuan, ‘Terbebaskan.’ Ia melihat bahwa, ‘Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah dipenuhi, tugas telah diselesaikan. Tidak ada lagi yang lebih jauh di dunia ini.’ 

Idam-avoca Bhagava, Attamana pañca-vaggiya bhikkhu Bhagavato bhasitam abhinandum.

Demikianlah Sang Bhagavà berkata. Merasa puas, Kelompok Lima Bhikkhu gembira mendengar kata-kata Beliau.

Imasmiñca pana veyya-karanasmim bhaññamane, Pañca-vaggiyanam bhikkhunam anupadaya, Asavehi cittani vimuccimsuti. 

Dan ketika penjelasan ini sedang dibabarkan, batin kelompok lima bhikkhu itu, karena meluruhnya kemelekatan, terbebaskan dari kekotoran batin.

Read more: http://www.forumkami.net/buddha/16058-discourse-not-self-characteristic.html#ixzz22UJoUUib

No comments:

Post a Comment