(Dijual sebuah Counter di dalam City Mall Tangerang, ukuran 2 x 2 meter. Harganya sangat murah, hanya Rp 110 juta saja. Cocok untuk usaha di dalam Mall. Hubungi: 0818111368 / 02190450533. Pin bb: 7dfe719a. Foto counter menyusul. Bagi yang membantu memasarkan, akan dapat komisi.)
======================================================
Dijual biji jagung Popcorn ukuran:
1. 200 gram = Rp. 8.000,-
2. 250 gram = Rp. 10.000,-
3. 500 gram = Rp. 20.000,-
4. 1000 gram = Rp. 40.000,-
Bagi yang berminat hubungi : 089652569795 / pin bb:
7dfe719a
======================================================
1. 200 gram = Rp. 8.000,-
2. 250 gram = Rp. 10.000,-
3. 500 gram = Rp. 20.000,-
4. 1000 gram = Rp. 40.000,-
Bagi yang berminat hubungi : 089652569795 / pin bb: 7dfe719a
Survei: Kaum Muda Asia Lebih Suka
Melajang
Mereka merasa hidup melajang jauh lebih menyenangkan.
Senin, 22
Agustus 2011, 14:35 WIB
Renne R.A
Kawilarang, Indrani Putri

Para
pekerja kantoran di Kuala Lumpur, Malaysia, berjalan bersama (AP Photo/Vincent Thian)
BERITA
TERKAIT
- Periode Cinta & Pertengkaran Dapat
Diprediksi
- Ketika Suami Memutuskan Jadi Wanita
- Usia Pernikahan Masa Kini: 8 Tahun
- Misteri 'Cinta Buta' Terungkap
- Studi: Cinta Tetap Awet Hingga Usia Tua
VIVAnews - Pernikahan kini dipandang berbeda
oleh generasi muda modern Asia. Dulu pernikahan dianggap sebagai tahap yang
harus dijalani, sekarang malah makin banyak yang cenderung menganggapnya
sebagai beban yang harus dihindari.
Menurut laporan dari majalah The Economist, 20 Agustus 2011, tren itulah yang melanda kaum muda di kawasan Asia Timur, Selatan, dan Tenggara. Sebelumnya, masalah itu juga telah dihadapi warga di negara-negara Barat.
Menurut laporan dari majalah The Economist, 20 Agustus 2011, tren itulah yang melanda kaum muda di kawasan Asia Timur, Selatan, dan Tenggara. Sebelumnya, masalah itu juga telah dihadapi warga di negara-negara Barat.
Angka
pernikahan di Asia dari tahun ke tahun menurun karena semakin banyak orang yang
memutuskan untuk menunda menikah. Banyak orang Asia yang bahkan memutuskan
untuk tidak menikah karena merasa hidup melajang jauh lebih menyenangkan.
Hampir seperlima wanita Korea berusia akhir 30an berstatus lajang, dan sebagian besar memutuskan untuk tak menikah. Fenomena yang sama juga terlihat di Thailand, Jepang, dan Singapura, di mana banyak wanita berusia di atas 25 tahun yang memutuskan melajang. Dua raksasa Asia, yaitu China dan India, nampak masih belum terkena imbas.
Hampir seperlima wanita Korea berusia akhir 30an berstatus lajang, dan sebagian besar memutuskan untuk tak menikah. Fenomena yang sama juga terlihat di Thailand, Jepang, dan Singapura, di mana banyak wanita berusia di atas 25 tahun yang memutuskan melajang. Dua raksasa Asia, yaitu China dan India, nampak masih belum terkena imbas.
Dua
Faktor
Faktor
ekonomi diduga menjadi penyebab utama munculnya tren melajang, terutama di
kalangan wanita. Wanita lebih memilih mengabdikan sebagian besar waktunya untuk
berkarir daripada harus berkeluarga dan mengurus suami serta anak.
Fenomena
ini terutama terlihat di Jepang, di mana wanita menghabiskan 40 jam per minggu
untuk bekerja dan 30 jam per minggu di rumah. Sebuah penelitian bahkan
menunjukkan bahwa wanita Jepang lebih pesimis terhadap pernikahan dibandingkan
wanita AS.
Faktor pendidikan juga ditengarai menjadi penyebab seseorang menolak menikah, karena semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin ragu orang itu untuk menikah. Tren ini berkembang terutama di kalangan wanita, menyebabkan anjloknya tingkat kesuburan secara drastis. Di Asia Timur, tingkat kesuburan bahkan menurun dari 5,3 anak per wanita pada tahun 1960an menjadi 1,6 saja di zaman sekarang.
Pelonggaran hukum cerai di Asia, secara paradoks, bisa dilakukan untuk mendongkrak angka pernikahan. Wanita-wanita yang menghindari menikah mungkin akan berpikir ulang jika mereka tahu ikatan tersebut dapat diputuskan. Pemberian uang tunjangan kepada mantan istri juga seharusnya ditingkatkan lagi.
Selama ini, prioritas terhadap keluarga adalah salah satu kelebihan negara-negara Asia dibanding negara-negara Barat. Namun melihat fenomena yang ada sekarang, Asia perlu mengantisipasi perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakatnya dan menghadapi segala konsekuensinya. (umi)
Faktor pendidikan juga ditengarai menjadi penyebab seseorang menolak menikah, karena semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin ragu orang itu untuk menikah. Tren ini berkembang terutama di kalangan wanita, menyebabkan anjloknya tingkat kesuburan secara drastis. Di Asia Timur, tingkat kesuburan bahkan menurun dari 5,3 anak per wanita pada tahun 1960an menjadi 1,6 saja di zaman sekarang.
Pelonggaran hukum cerai di Asia, secara paradoks, bisa dilakukan untuk mendongkrak angka pernikahan. Wanita-wanita yang menghindari menikah mungkin akan berpikir ulang jika mereka tahu ikatan tersebut dapat diputuskan. Pemberian uang tunjangan kepada mantan istri juga seharusnya ditingkatkan lagi.
Selama ini, prioritas terhadap keluarga adalah salah satu kelebihan negara-negara Asia dibanding negara-negara Barat. Namun melihat fenomena yang ada sekarang, Asia perlu mengantisipasi perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakatnya dan menghadapi segala konsekuensinya. (umi)
http://kosmo.vivanews.com/news/read/242368-survei--kaum-muda-asia-lebih-suka-melajang
No comments:
Post a Comment