Pasang Iklan Di Sini

Monday, March 11, 2013

Ringkasan Teknologi Bahan Alam 2

(Dijual sebuah Counter di dalam City Mall Tangerang, ukuran 2 x 2 meter. Harganya sangat murah, hanya Rp 110 juta saja. Cocok untuk usaha di dalam Mall. Hubungi: 0818111368 / 02190450533. Pin bb: 7dfe719a. Foto counter menyusul. Bagi yang membantu memasarkan, akan dapat komisi.)

======================================================
Dijual biji jagung Popcorn ukuran:
1. 200 gram   = Rp. 8.000,-
2. 250 gram   = Rp. 10.000,-
3. 500 gram   = Rp. 20.000,-
4. 1000 gram = Rp. 40.000,-

Bagi yang berminat hubungi : 089652569795 / pin bb: 7dfe719a

Untuk dapat digunakan sebagai bahan berkhasiat/ obat pada manusia, baik obat ataupun turunan turunannya (ekstrak, tingtur), harus memenuhi persyaratan: Ketaataazasan, stabilitas, kemurnian, sterilitas, batas sisa residu pelarut, dan yang paling penting diperhatikan untuk obat yang berasal dari tanaman adalah pestisida dan nilai batasnya sesuai dengan ketentuan orgaisasi kesehatan didunia.
Tahap yang menentukan kualitas meliputi: Pemilihan bahan-bahan (kualitas sering sangat bervariasi bergantung dari lokasi sumber, waktu panen, pengolahan, penyimpanan dan pengemasan), dan prosedur ekstraksi yang dilaksanakan untuk memperoleh ekstrak dari bahan berkasiat. Walaupun pemilihan pelarut untuk ekstraksi merupakan factor penting kualitas obat jadi, pilihan bahan baku alam simplisia adalah yang sangat penting. Simplisia harus diperiksa secara keseluruhan sebelum diekstraksi seperti pemeriksaan dari segi botani, fitopatologi, aspek kimia dan bahan berkhasiat. Peraturan yang paling akhir mensyaratkan agar supaya perbandingan tersebut berada pada rentang yang sempit, tetap dari suatu sediaan terhadap sediaan lain; yang berarti harus diawali dari bahan baku yang sudah distandarisasi.
Jika tanaman yang akan diekstraksi berasal dari tanaman liar, maka secara spesifik harus dinyatakan daerah asal, waktu pemanenan, kondisi pengeringan dan kondisi penyimpanan dan pada tahap ekstraksi beberapa batch harus digabungkan agar diperoleh suatu campuran homogen.
I. PENGGILINGAN TANAMAN OBAT
a. Konsep umum dan tujuan penggilingan
Penggilingan atau penghalusan tanaman obat adalah penurunan ukuran atau penghalusan secara mekanik dari bahan tanaman tertentu menjadi unit sangat kecil. Tahap ini merupakan tahap pertama dari pengolahan tanaman obat. Dalam proses penggilingan/penghalusan, homogenitas ukuran partikel merupakan parameter utama karena akan mempengaruhi keseragaman tahapan ekstraksi bahan aktif, yang tergantung pada kecepatan difusi zat aktif dari granul (serbuk) tanaman obat menuju pelarut, waktu kontak, kecepatan pelarut melewati bahan serbuk tanaman obat, dan aspek lainnya.
Apabila tidak ada hambatan teknis , misalnya terbentuk musilago (larutan enjadi kental) yang akan menghalangi filtrasi pelarut melalui bahan tanaman, maka lazimnya menurut pengalaman derajat kehalusan serbuk adalah serbuk dengan diameter lebih kurang 0,5 mm. Ukuran ini biasanya cukup sesuai bila menggunakan alat ekstraksi modern, dalam mana biasanya dilakukan ekstraksi berkesinambungan.
Untuk ekstraksi bahan tanaman segar, masalah penggilingan sangat terkait dengan masalah stabilitas kimiawi dari bahan aktif yang diekstraksi. Cukup banyak  tanaman segar yang saat dilakukan pemerasan untuk mendapat sari perasan mengalami perubahan seperti hidrolisi, oksidas, yang pada umumnya berkaitan dengan pelepasan enzim dari sel tanaman. Sebagian masalah ini masih dapat diatasi dengan penambahan inhibitor enzim spesifik terhadap obat, atau dengan menggunakan bahan yang sebelumnya telah didinginkan pada suhu 250 C.
b. Peralatan untuk penggilingan (penghalusan) tanaman obat.
Diantara alat penggiling standar yang luas digunakan adalah jenis alat standar yang dikenal dengan nama alat penggiling palu (Hammer Mill). Alat ini merupakan mesin yang kokoh untuk memecah bongkahan bahan yang rapuh dengan prinsip menggunakan pemalu yang berputar 3600 . Penggiling palu ini terdiri dari suaturotar pada mana terkait 4 pendulum penghancur.
Selain itu, ada pula penggiling pisau yang beroperasi dengan cara memotong bahan yang dimasukkan ke dalam ruang penampung, dimana pisau pisau dapat bergerak secara vertical atau horizontal. Penggiling ini sangat sesuai untuk menggiling daun, kulit (cortex) dan akar yang selanjutnya dalam diekstraksi secara maserasi dan perkolasi.
Penggiling lain untuk tanaman obat aalah dengan melewatkan bahan melalui sesuatu system yang mempunyai suatu piringan bergeligi yang apat beroperasi baik secara horizontal maupun vertical. Penggiling jenis ini sangat sesuai untuk menggiling biji biji yang keras ataupun bahan yang sebelumnya sudah dipotong.
II. EKSTRAKSI TANAMAN OBAT
A. Pengertian
Ekstraksi adalah pemisahan secara kimia atau fisika suatu bahan padat atau bahan cair dari suatu padatan, yaitu tanaman obat. Didalam proses ekstraksi padat-cair ini, berlangsung 2 proses secara parallel: Pelepasan bahan yang diekstraksi dari sel yang telah rusak dan pelepasan bahan yang diekstraksi melalui proses difusi. Proses difusi biasanya akan ditingkatkan apabilasel tanaman mengalami perlakuan dengan air, atau pelarut yang mengandung air, yang akan menyebabkan terjadinya pengembangan (swelling) sel sehingga terjadi peningkatan permeabilitas atau pecahnya dinding sel.
B Parameter yang mempengaruhi ekstraksi
1. Pengembangan bahan tanaman
Alasan utama perlakuan ini adalah:
- Untuk mencegah pengembangan/ pembengkakan tanaman di dalam kemasan (wadah proses ekstraksi) tertutup
- Untuk menjamin proses pembasahan tanaman yang akan diekstraksi secara merata dan mencegah terbentuknya gelembung udara yang akan menimbulkan pembentukan saluran udara.
- Untuk meningkatkan porositas dinding sel, dan hal tersebut akan mempermudah difusi dari zat aktif yang diekstraksi dari sel menuju pelarut atau penetrasi sel oleh pelarut.
2. Difusi, Ukuran partikel, pH, dan temperature.
Untuk ekstraksi bahan aktif dari simplisia, pelarut harus berdifusi ke dalam sel dan selanjutnyazat aktif harus cukup larut di dalam pelarut sehingga akan dicapai kesetimbangan solute-solvent. Kecepatan mencapai kesetimbangan umumnya tergantung pada temperature, pH, ukuran partikel, dan gerakan pelarut disekitar partikel. pH biasanya berperan dalam hal yang menyangkut selektivitas, sedangkan temperature dan gerakan cairan disekitar padatan akan mengubah kesetimbangan menuju saturasi pelarut. Derajat kehalusan partikel menjadi kurang bermakna apabila terdapat zat yang bersifat sebagai musilago, karena saat terjadi swelling, hal tersebut akan mencegah pelarut melewati bahan tanaman karena terhalang lapisan musilago
3. Pilihan pelarut ekstraksi
Alcohol alifatik sampai dengan 3 atom karbon (propil) atau campurannya dengan air, merupakan pelarut dengan daya ekstraktif terbesar untuk semua bahan alam berbobot molekul rendah seperti Alkaloida, Saponin dan flavonoid. Etanol menurut farmakope merupakan pelarut pilihan untuk memperoleh ekstrak secara klasik seperti tingtur, ekstrak cair, kental, dan kering yang masih digunakan secara luas dalam formulasi sediaan farmasi.
Perbandingan ideal alcohol air untuk ekstraksi dari bagian kayu atau kulit tanaman, akar dan biji berkisar antara: 7:3 atau 8:2 ; dimana perbandingan harus lebih rendah dari 1:1 untuk ekstraksi daun atau bagian hijau tanaman. DEngan perbandingan alcohol: air 1:1; dapat dicegah terjadinya ekstraksi klorofil atau zat bersifat renin dan polimer yang pada umumnya bukan merupakan bagian penting untuk aktivitas ekstrak. Flavonoid dan terpen secara selektif dapat diekstraksi pada pH netral menggunakan etilasetat atau keton alifatik.
4. Alkaloid Sebagai Model Zat Aktif
Kebanyakan di dalam tanaman, zat aktif berada dalam bentuk garam dari asam asam organic lemah
C. Prosedur Ekstraksi
1. Maserasi Statik dan Dinamik
Cara ini sesuai untuk proses jumlah kecil dan skala industry.
2. Ekstraksi Secara Perkolasi Sederhana atau Berkesinambungan
Pada  Perkolasi sederhana atau berkesinambungan, sasaran proses ini adalah untuk menarik bahan berkhasiat dari tanaman secara total menggunakan pelarut segar tetapi proses ini memakan waktu (lama) dan mahal karena dibutuhkan sejumlah besar pelarut. Namun demikian, masih dapat diatasi dengan menggunakan lebih dari satu perkolatar dan hasil perkolasi yang masih belum jenuh tersebut digunakan untuk perkolasi unit selanjutnya. Prinsip ini sebenarnya merupakan pendahuluan dari ekstraksi aliran berlawana arah secara kontinu (Continous Counter Current) yang mana tanaman segar berkontak dengan pelarut yang sudah mengandung solute dan pelarut base ditambahkan pada tanaman yang sudah diekstraksi secara parsial.
3. Perkolasi dan Reperkolasi
Dalam proses perkolasi, proses difusi yang berlangsung merupakan fungsi dari kecepatan perkolasi, kuantitas pelarut, dan konstanta difusi obat pelarut. Karena simplisia diletakkan dalam bentuk lapisan tebal dalam percolator, pertama tanaman dibasahi dengan pelarut ekstraksi dan dibiarkan membengkak sebelum dimasukkan ke dalam percolator. Simplisia yang sudah dibasahi tersebut dimasukkan ke dalam percolator dengan system pemasokan spiral, sesudah pembentukan lapisan ditutup dengan pelarut. Pada unit percolator besar, pelarut dibuat selalu dalam keadaan mengalir dengan system pompa dan aliran tersebut bergerak dari bawah menuju bagian atas untuk secepatnya mencapai kesetimbangan dan ekstraksi dapat disempurnakan dengan system refluks lemah, di bawah tekanan pada suhu kamar.

4. Ekstraksi Berlawanan Arah (Counter Current)
Pada ekstraksi berlawanan arah, simplisia bergerak berlawanan arah dengan pelarut. Simplisia memasuki percolator bertemu dengan pelarut yang sudah diperkaya dan kemudian dipisahkan/ dikeluarkan , bertemu dengan pelarut segar. Ekstraktor kontinu yang banyak digunakan adalah ekstraktor baling baling, pada mana simplisia dan pelarut bergerak berlawanan arah , misalnya pada ekstraktor Carousel dan bentuk U. pada mana bahan ditutup dalam subunit percolator, bergerak dan diekstraksi pada pertemuan pelarut dengan berbagai tingkat kejenuhan. Pada ekstraktor baling baling ditemukan aliran kontinu berlawanan arah secara absolut, pada ekstraktor turbo atau sentrifus dicapai suatu alirankontinu berlawanan arah. Pada ekstraktor kontinu, parameter penting dan kritis adalah simplisia yang akan diekstraksi dan yang paling utama adalah ukuran partikel kecuali untuk ekstraktor yang dilengkapi dengan decanter, dimana umumnya kuantitas pelarut berjumlah besar dan selanjutnya diikuti penyaringan.
III. PEMEKATAN EKSTRAK
a. Aspek Umum
Sesudah dilakukan ekstraksi simplisia, akan dihasilkan larutan yang mengandung fraksi terlarut. Jika tahap selanjutnya bertujuan untuk mendapat komponen tertentu, lazimnya dilakukan proses pemekatan atau proses ekstraksi cair/cair.
Ekstrak tersebut kemungkinan:
1. Dipekatkan secara parsial atatu secara total
2. Dipekatkan  secara parsial atau diekstraksi menggunakan pelarut yang sesuai untuk dikonversi menjadi ekstrak yang dimurnikan
3. Dipekatkan secara parsial atatu diekstraksi menggunakan pelarut terpilih untuk isolasi bahan aktif tertentu
4. Diekstraksi langsung tanpa pemekatan, utuk isolasi produk tertentu.
b. Peralatan untuk pemekatan ekstrak
Di industry, untuk larutan berjumlah besar, salah satu alat konsentrator yang digunakan  secara luas, alat yang dikenal dengan nama konsentrator Robert. Konsentrator ini terdiri dari tabung konsentrator yang tersusun secara konsentrik. Tabung dipanaskan dengan uap air panas dari luar, dan larutan yang sedang dipekatkan melewati tabung. Dalam perjalanan melewati tabung, berlangsung evaporasi dan pelarut dipisahkan dari cairan dalam suatu ruang pemisah dan akan melewati suatu pendingin.
Konsentrator jenis baru yang banyak digunakan dalam pengolahan bahan alam adlaah konsentrator film menurun, lapis tipis atau plat. Evaporator Lapis Tipis dasarnya terdiri dari suatu batang silinder, dipanaskan dari luar, pada mana suatu rotar berputar.
Pada evaporator film, perubahan fasa terjadi pada lapisan sangat tipis caira. Volume larutan terlihat sangat kecil dank arena itu waktu keberadaan dalam alat sangat singkat. Bila beriperasi dalam keadaan vakum yang berarti dibutuhkan temperature evaporasi rendah, dalam hal ini dimungkinkan untuk mengolah produk yang peka terhadap panas.
Selain konsentrator film vertical ada pula model horizontal. Perbedaan anatar keduanya ada pada cara pengaturan aliran larutan melalui ruang evaporasi. Pada jenis vertical, kecepatan lewat larutan sebagian diatur oleh daya gravitasi, sedangkan pada jenis horizontal, ketebalan lapis tipis dan waktu tinggal dapat dikendalikan dengan cara mengatur jarak antara sekop rotar dan permukaan silinder yang dipanaskan. Jenis lain evaporasi sesuai untuk menguapkan zat termolabil adalah system pelat, pada mana suatu permukaan kontak panas akan membantu evaporasi.
IV. PEMURNIAN EKSTRAK
a. Tinjauan Umum
Pemurnian ekstrak adalah perlakuan ekstraksi cairan untuk menghilangkan residu simplisia atau bahan yang tidak diperlukan selama proses. Zat inert yang terekstraksi terutama pada proses maserasi panas, sering meningkatkan terjadinya flokulasi atau membentuk endapan pada proses pendinginan sehingga larutan menjadi keruh atau tidak homogeny.
Oleh karena sediaan farmasi tidak boleh mengandung partikel padat asing selain ekstrak, maka dalam hal ini harus dilakukan klarifikasi (penyaringan ). Aspek lain pemurnian ekstrak adalah pengurangan jumlah knadungan bakteri pencemar. Hal ini memerlukan penanganan khusus.
b. Peralatan untuk Klarifikasi ekstrak
2 jenis alat penyaring untuk klarifikasi ekstrak adalah: 1. Penyarng untuk penyaringan sederhana atau penyaring dengan tekanan dan 2. Separator (pemisah)  sentrifugal dan decanter (alat untuk dekantasi).
Alat untuk penyaringan ekstrak biasanya bekerja dengan menggunakan tekanan. Cairan ditekan menggunakan pompa memasuki suatu seri kompartemen penyaring yang sesuai untuk menangani bahan yang akan dihilangkan. Sistem penyaring ini digunakan,bila tidak ada rencana untuk bekerja secara kontinu., bila jumlah partikel tersuspensi kecil dam partikel padat sangat halus.
V. PENGERINGAN
Aspek Umum dan Deskripsi Peralatan
Menurut pengalaman, jika ekstrak kering dibuat secara benar maka ekstrak kering sangat sesuai untuk pembuatan sediaan farmasi. Bila produk terkontaminasi dapat disterilkan dengan penyinaran dengan sinar gamma. Hal ini akan sulit dilakukan pada larutan karena akan terjadi suatu seri reaksi radikal.
Ada beberapa macam alat untuk memperoleh ekstrak kering, mulai dari pengering vakum dingin (vaccum freeze dryers) untuk produk yang termolabil sampai alat pengering vakum tradisional. Yang aling luas digunakan saat ini adalah atomizer, dapat digunakan untuk produksi skala kecl dan skala besar. Atomizer menjadi alat pengering pilihan, terutama jika pelarut yang akan diuapkan adalah air.
Pengering cabinet bekerja secara tidak kontinu. Pada pengeringan bertekanan, bahan yang dikeringkan biasanya membentuk lapisan pada baki pengering yang disusun dalam lemari pengering atau melekat pada elemen ruang pengering, pada mana cairan pemanasan disirkulasikan. Temperature operasi biasanya berkisar antara 600 C-800 C. Pelarut yang diuapkan dieliminasi secara konveksi. Alat ini hanya bisa digunakan untuk zat yang stabil.

VI. STANDARDISASI EKSTRAK
Obat dari tanaman biasanya distandardisasikan berdasarkan 10 hal berikut:
1.   Pengujian makro dan mikroskopis untuk identitas
2.   Kemungkinan kromatografi tipis untuk pengujian identitas
3.   Pemeriksaan zat asing organic dan anorganik.
4.   Pennetuan susut pengeringan dan kandungan air
5.   Penentuan kadar abu
6.   Penentuan serat kasar
7.   Penentuan kadar komponen terekstraksi.
8.   Penentuan kadar bahan aktif (jika sudah diketahui)
9.   Penentuan cemaran mikroba dan tidak adanya bakteri pathogen
10. Pemeriksaan residu pestisida
Ekstrak Kering
Ekstrak kering adalah sediaan tanaman yang diperoleh dengan cara pemekatan dan pengeringan ekstrak cair sampai mencapai konsentrasi yang diingini menurut cara cara yang memenuhi syarat. Pengaturan biasanya dilakukan berdasarkan kandungan bahan aktif dengan cara penambahan bahan penambahn inert, ada 2 cara yang dapat dilakukan:
1. Ekstrak cair dipekatkan menurut cara/ metode yang diuraikan dalam farmakope, sampai diperoleh ekstrak kental dan kemudian ditimbang.
2. Ekstrak cair diuapkan sampai kering. Jika ekstrak berjumlah kecil, ekstrak digerus dengan bahan penambah. Bila jumlah ekstrak banyak, ekstrak harus digerus sehalus mungkin dan baru dicampur dengan bahan penambah yang sudah diperhitungkan untuk mendapatkan konsentrasi yang diinginkan.
Menurur Herfendel dan Lauder, ekstrak dan tingtur harus dipandang sebagai satu kesatuan bahan aktif obat yang akan digunakan untuk sediaan farmasi, bukan hanya melihat komponen individual bahan aktif aja. Akibatnya jika terjadi variasi yang sangat besar antara komponen bahan aktif dalam sediaan ekstrak dan tingtur, variasi kandungan bahan aktif harus berada dalam rentang nilai yang sempit
VI.  STABILISASI DAN STABILITAS
Stabilisasi sediaan fitofarmako merupakan paya untuk menjamin kualitas atau stabilitas tetap terjaga. Stabilitas berarti keadaan tidak terganggu/ terurai dari sediaan yang disimpan menurut cara penyimpanan atau cara penyimpanan spesifik dari karena kondisi transportasi
Metode stabilisasi.
a. Pengeringan
Gangguan secara fisika, kimia, dan mikrobiologi berlangsung dalam keadaan cair sehingga pengeringan sediaan fitofarmaka dan tetap membiarkan sediaan dalam keadaan kering adalah cara praktis yang terbaik. Sisa kelembaban dari ekstrak kering biasanya dibatasi sampai 5 % saja. Kadar kelembaban 3 % ternyata tidak praktis, karena ekstrak cenderung menarik air dari udara lingkungannya. Kesetimbangan residu kelembaban 6-7% akan dicapai ekstrak yang disimpan pada suhu kamar dan kelembaban suhu kamar. Gangguan fisika akan tercapai pada kondisi penyimpanan seperti diatas. Proses kimia seperti reaksi enzimatik terjadi jika kelembaban lebih kurang 10%. Gangguan mikrobiologi biasanya berupa perkembangbiakan bakteri yang ada dalam produk sehingga mencapai nilai batas yang tidak dapat diterima juga sangat tergantung pada kelembaban dalam produk. Ketergantungan pertumbuhan mikroba dikenal sebagai aw  (aw = tekanan uap air diatas substrat, tekanan uap air murni) atau aktivitas air
b. Stabilisasi Sediaan Cair
Gangguan berikut relative mudah dikenali:
Gangguan fisika seperti pembentukan sedimen, perubahan warna dan sebagainya. Gangguan karena pertumbuhan mikroba, dikenal karena terjadinya pembentukan “pellicle” jamur, terbentuknya kekeruhan atau terbentuknya sedimen, dapat sangat mudah mengganggu penampilan, rasa, dan bau sediaan. Gangguan kimia yang lain seperti penguraian hidrolitik, rasemisasi, oksidasi dan lainnya hanya dapat terdeteksi dengan alat kimia analitik (instrument) dan peeaksi kimia.
Alternatif untuk pengawetan sediaan cair adalah menggunakan pengawet sediaan farmasi yang lazim dengan catata: dietilpirokarboksilat sudah tidak diizinkan penggunaannya karena kemungkinan akan membentuk karsinogenik uretan dengan asam amino bebas atau amin dalam substrat.
FORMULASI EKSTRAK TANAMAN JADI BENTUK SEDIAAN
Sebelum dikembangkan untuk formulasi sediaan farmasi, ekstrak harus dilakukan perlakuan terlebih dahulu seperti menghilangkan lemak (defatting) dan inaktivasi enzim, dimana tujuan utamanya adalah:
1. Menghilangkan bahan tidak aktif berupa minyak dan lemak yang akan menghalangi untk mendapatkan / membuat ekstrak kering dan selanjutnya pembuatan sediaan farmasi berbentuk padat.
2. Menghentikan degradasi enzim bahan berkhasiat
Ekstrak tanaman dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok utama yaitu ekstrak total dan ekstrak yang dimurnikan. Terminologi total atau ekstrak tradisional menunjukkan ekstrak yang mengandung semua bahan terekstraksi yang diperoleh dengan penarikan menggunakan suatu pelarut; lazimnya air atau hidroalkohol. Ekstrak yang dimurnikan berarti ekstrak yang tidak mengandung zat zat yang tidak diperlukan dan tidak mempengaruhi aktivitas. Ekstrak yang dimurnikan kemungkinan diperoleh dengan cara menghilangkan zat inert menurut berbagai cara (menghilangkan lemak, dilewatkan melalui resin absorpsi) sesudah ekstraksi primer.
Terminologi zat inert terutama digunakan untuk resin, lemak, gula gula, semua bahan yang merupakan penghalang/penghambat utama dalam pembuatan sediaan farmasi, terutama bentuk sediaan padat, karena bersifat higroskopis, lengket, sehingga menimbulkan banyak masalah dalam formulasi.


I. PENGONTROLAN EKSTRAK
Masalah pengontrolan ekstrak ada 2 aspek: pengontrolan ekstrak sendiri dan pengontrolan ekstrak sebagai konstituen sediaan farmasi jadi (bentuk sediaan). Jenis pengujian yang dilakukan terhadap ekstrak yang pokok ada 4:
1. Untuk menentukan karakteristik fisik
2. Untuk standardisasi kualitatif
3. untuk pengotor potensial dan jumlah
4. cemaran mikroba total
Keempat jenis pengujian ini adalah relevan pada waktu formulasi menjadi bentuk sediaan.
Masalah lain yang penting dalam melakukan control suatu ekstrak adalah menentukan kandungan total mikroba aerobic. Walaupun belum ada ketentuan standar, tidak boleh terdapat mikroba pathogen dan jumlah bakteri total adalah103 – 104 per gram atau per ml.
II. BENTUK SEDIAAN
Untuk melakukan rasionalisasi dari pengembangan bentuk sediaan dari ekstrak tanaman, perlu pula diperhatikan: lebih baik menyusun suatu formulasi sediaan yang mudah dan sederhana, yang mengandung tiak lebih dari 2 atau 3 ekstrak. Hal lain yang perlu dihindari adalah memasukkan beberapa ekstrak yang menunjukkan jenis aktivitas farmakologi yang sama.
Pada umumnya semua bentuk sediaan dapat dibuat dari ekstrak
1. Bentuk sediaan padat seperti tablet, kapsul gelatin keras dan lunak, tablet salut gula, tablet effervescent, tablet hisap, tablet lepas lambat.
2. Bentuk sediaan cair seperti sirup, drop, larutan, atau suspense untuk kapsul gelatin lemak.
3. Bentuk sediaan untuk tujuan penggunaan local seperti krim, salep, gel, koliria, dan supositoria.
Formulasi injeksi yang mengandung ekstrak tidak direkomendasikan walaupun digunakan ekstrak dengan kekuatan tinggi karena ekstrak selalu mengandung beraneka produk sekunder yang sifat sifatnya tidak selalu diketahui secara pasti.
a. Pembuatan Sediaan Padat
Untuk pembuatan sediaan padat umumnya digunakan ekstrak padat dan pada umumnya sediaan padat kering tidak menimbulkan masalah stabilitas, praktis tidak terjadi penguraian karena hidrolisis, oksidasi, polimerisasi, dan lain sebagainya. Untuk sediaan yang dimasukkan ke dalam kapsul gelatin keras perlu diperhatikan persyaratan: Granul harus tidak higroskopis dan dapat mengalir bebas dengan baik.
b. Pembuatan Sediaan Cair
Esktrak cair, kental maupun kering dapat digunakan untuk membuat sediaan cair, seperti sirup, drop, larutan atau suspense untuk kapsul gelatin lunak. MAsalah utama dalam pengembangan sediaan cair yang mengandung ekstrak adalah masalah kelarutan dari ekstrak, yang harus diencerkan dalam larutan atau dilarutkan kembali jika berbentuk kering di dalam system pelarut sirup atau drop.
Stabilitas secara kimia maupun fisik sediaan cair juga dipengaruhi factor factor lain misalnya kemungkinan terjadinya fermentasi dan interferensi dari komponen lain produk akhir. Fenomena fermentasi dapat dikendalikan baik dengan penggunaan alcohol dalam konsentrasi yang tepat atau dengan cara penambahan pengawet yang sesuai. Kemungkinan terjadinya antaraksi secara konstituan lain merupakan sumber lain dari ketidak stabilan
c. Pembuatan sediaan untuk tujuan penggunaan local
Masalah yang perlu diperhatikan dalam pengembangan sediaan krim yang mengandung ekstrak:
1. Kandungan air yang tinggi dan bila pH tidak dikendalikan dengan baik, dapat menimbulkan hidrolisis, polimerisasi, rasemisasi, dan sebagainya.
2. Masalah stabilitas mikrobiologis
Ekstrak yang mengandung senyawa gula dan asam amino dapat memberikan peluang ideal untuk perkembangan mikroba.



















TUGAS TEKNOLOGI BAHAN ALAM
RINGKASAN



Nama: Ricky Kurniawan
NPM: 2010210226
Kelas: Senin



FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PANCASILA
JAKARTA
2012

No comments:

Post a Comment