Pasang Iklan Di Sini

Thursday, July 19, 2012

10 Paramita Jataka




Keripik singkong balado Ronides merupakan keripik yang dibuat dari singkong pilihan berkualitas tinggi sehingga menghasilkan keripik yang tipis dan renyah , digoreng dengan cara tersendiri dan diberi campuran ramuan bumbu berkualitas sehingga menghasilkan keripik singkong yang renyah & gurih serta kandungan airnya yang rendah membuat keripik singkong ronides dapat bertahan lama tanpa perlu menggunakan pengawet

Rasa balado dari keripik singkong ronides merupakan cita rasa tradisional yang disatukan dengan sentuhan modern sehingga menghasilkan cita rasa balado yang gurih dan ditambah dengan rasa pedas yang mengandung senyawa alami capsaicin mempunyai segudang manfaat yang berguna bagi kesehatan tubuh dan menambah kenikmatan keripik singkong Ronides untuk para penikmatnya.

Menurut webMD.com, sebuah penelitian di UCLA telah membuktikan bahwa capsaicin dapat dipakai untuk membantu pasien obesitas yang harus diet rendah kalori. Dari penelitian ini dibuktikkan bahwa capsaicin tidak hanya dapat meningkatkan level metabolisme tetapi juga dapat menambah jumlah kalori yang dibakar. Selain itu, capsaicin juga dapat mengontrol nafsu makan mereka sehingga dapat membantu menurunkan berat badan.(Dikutip dari gaya.tempo.co).

Senyawa capsaicin dapat meningkatkan nitric oxide yang dapat melindungi peradangan dan menurunkan tekanan darah. Dalam sebuah studi oleh American Chemical Society disebutkan bahwa capsaicin dapat membantu mengurangi penumpukan kolesterol sekaligus meningkatkan aliran darah dengan menghambat gen yang menyebabkan penyempitan arteri jantung. Selain itu, Menurut data dari American Cancer Society, beberapa makanan pedas terbukti mempunyai sifat penangkal kanker. Capsaicin telah terbukti memperlambat pertumbuhan sel-sel penyebab kanker prostat.(Dikutip dari Vemale.com)

Keripik singkong Ronides renyah, gurih, pedas, aman, banyak, murah, dan bermanfaat untuk kesehatan.

Ayo dicoba!!!
200 gram hanya 15 rb rupiah.
Pin: 5753690c
Email: ricky_kurniawan01@yahoo.com, ronides2015@yahoo.com

Follow Twitter dan Instagram kita ya @RonidesSnack
Welcome Reseller and Dropshipper

- Ronides - Special Product For Lovely Roniders


======================================================


Seorang calon Buddha sebelum menjadi Buddha dia harus menyempurnakan 10 jenis kebajikan atau yang sering disebut dengan 10 Paramita.
Demikian juga halnya dengan Sang Buddha Gotama yang sekarang dikenal, sebelum menjadi Samma Sambuddha, beliau sudah menyempurnakan 10 Paramita di kehidupan lampau sebagai syarat untuk menjadi seorang Buddha.

10 Paramita tesebut adalah:
1. Dana Paramita (Dana)
    Dalam Sasa Jataka diceritakan bahwa pada suatu ketika Bodhisatta terlahir sebagai seekor kelinci. Ia mempunyai 3 sahabat sejati yaitu seekor monyet, seekor anjing hutan, dan seekor berang berang, mereka hidup dengan rukun dan damai di dalam hutan. Diantara mereka, kelincilah yang paling bijaksana.
    Mereka biasanya mengembara mencari sesuatu untuk mereka makan, dan berkumpul setiap 10 hari untuk membicarakan hal-hal yang baik. Kelinci yang bijaksana selalu menasehati sahabat-sahabatnya dengan berkata: ' Menolong yang lain, memberikan dana, berbuat baik, berbudi luhur dan memperingati hari hari suci."
   Pada suatu hari, kelinci melihat bulan sedang purnama, lalu berkata: ' Sahabat-sahabatku yang baik, besok tepat bulan purnama. Marilah kita melaksanakan ajaran dan berusaha lebih baik lagi. Apabila ada seseorang meminta sesuatu dari kita, berikanlah apa yang kita miliki. Melaksanakan dana dengan sila adalah perbuatan baik yang amat mulia." Sahabat-sahabatnya setuju dengan pendapat kelinci yang bijaksana itu.

  Keesokan harinya mereka sudah mempersiapkan dirinya dengan baik, kelinci sudah mempunyai rumput untuk dimakan. Berang berang mempunyai beberapa ekor ikan yang ditemukan tergeletak di tanah. Monyet mempunyai sebuah mangga yang manis. Anjing mempunyai beberapa potong ikan kering dan sebuah labu.
Pada saat bulan purnama itu, mereka membahas ajaran untuk berbuat kebaikan. Kelinci dengan penuh ketulusan hati bertekad apabia ada seseorang yang datang kepadanya mencari makanan, dengan senang hati ia akan memberikan dagingnya sendiri.

  Apabila ada seseorang yang mempunyai tekad suci yang amat besar di dunia ini maka tempat duduk Dewa Sakka, Raja para Dewa akan terasa panas. Pada hari yang istimewa itu temapt duduk Dewa Sakka terasa panas karena kekuatan tekad suci kelinci itu. Dewa Sakka lalu dengan mata dewa-Nya melihat ke dunia dan beliau mengetahui sebab dari tempat duduknya yang terasa panas itu. Kemudian untuk menguji tekad suci kelinci itu, Dewa Sakka berubah menjadi seorang Brahmana. Pertama beliau menghampiri berang-berang dan duduk dihadapannya.
" Oh Brahmana, Mengapa anda datang kesini?" tanya berang-berang.

"O Sahabatku, seandainya aku dapat memperoleh makanan untuk dimakan, maka aku ingin melaksanakan Ajaran seperti kamu juga." Jawab Dewa Sakka.
Berang-Berang Amat Bahagia dan ingin memberikan ikan-ikan yang dimilikinya. Tetapi Dewa Sakka menolaknya dengan mengucapkan terima kasih.
Beliau lalu menghampiri anjing hutan dan yang uga ingin memberikan apa yang dimilikinya. Dewa Sakka juga mengucapkan terima kasih lalu menghampiri monyet yang juga ingin memberikan apa yang dimilikinya. Akhirnya beliau menghampiri kelinci yang bijak itu dan meminta sesuatu darinya

  Kelinci itu amat berbahagia dengan kesempatan emas yang ini. Apa yang diharapkannya tercapai. Dengan penuh rasa bahagia dia berkata:
  " O Brahmana, Anda amat baik hati datang kepadaku untuk mencari makanan. Aku akan mempersembahkan sesuatu yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Tolong kumpulanlah ranting-ranting kayu dan nyalakan api, lalu beritahukanlah aku bila sudah siap. Aku dengan senang hati akan melompat ke dalam kobaran api dan kupersembahkan hidupku kepadamu. Kalau dagingku sudah matang, silahkan anda makan dan laksanakanlah Ajaran."

  Seperti yang diminta kelinci itu, Dewa Sakka dengan kesaktiannya segera menciptakan tumpukkan ranting-ranting kayu dengan api yang sudah menyala, Beliau lalu memberitahukan kelinci. Hati kelinci itu diliputi oleh perasaan untuk tidak mementingkan dirinya sendiri, ia lalu menggoyang-goyangkan tubuhnya supaya kutu-kutu yang ada di bulu-bulunya tidak ikut terbakar., tanpa rasa takut ia lalu meloncat ke kobaran api yang menyala

  Pengorbanan yang luar biasa! Dengan bahagia ia mempersembahkan hidupnya! Kelinci, meskipun binatang, ia tidak memperdulikan dirinya sendiri tetapi ia juga memperhatikan kepentingan mahluk lain. Ketika ia mempersembahkan dirinya sendiri, ia juga ingin menyelamatkan kutu-kutu yang berada di bulu-bulu tubuhnya, yang selalu menghisap darahnya.

  Keajaiban terjadi! Kelinci yang gagah berani itu tidak terbakar, bahkan selembar bulu ditubuhnya tidak terbakar. Dewa Sakka dengan kesaktiannya mengambil kelinci itu dengan tangannya sendiri dan menyelamatkan hidupnya. Untuk Mengenang pengorbanan suci kelinci itu ke seluruh dunia, Dewa Sakka menggambar bentuk kelinci di bulan.

  Setelah mencapai penerangan sempurna, YMS Buddha berkata:
     
     "Melihat seseorang datang kepadaKu untuk mencari dana, Aku mempersembahkan hidupKu. Dalam persembahan ini tidak ada yang menandingiKu. Inilah penyempurnaan Dana ParamitaKu."


2. Sila Paramita (Kemoralan)
    Dalam Samkhapala Jataka (Cerita Tentang Ular), diceritakan bahwa pada suatu ketika Bodhisatta terlahir sebagai seorang raja ular bernama Samkhapala. Ia berdiam di alam Naga (Naga Loka). Karena ia tidak puas dengan kadaan kehidupannya, ia seringkali datang ke alam manusia untuk melaksanakan Ajaran / latihan melakukan kebaikan. Pada awal bulan dan bulan purnama, ia biasanya melaksanakan ajaran untuk berbuat kebaikan dan kembali ke alamnya keesokan harinya.

  Pada suatu hari ia melingkar di bukit semut dan berpikir:
  "Biarkanlah apabila ada manusia yang ingin menggunakan kulit, daging atau tulangku"

  Pada hari itu ada 16 pemburu dengan memegang tongkat di tangan mereka, kembali dari dalam hutan tanpa memperoleh hasil buruan.. Melihat raja ular melingkar dengan diam di bukit itu, mereka segera ingin . membunuh dan makan dagingnya. Pertama-tama mereka membuat ular itu lemah, dengan memukuli ular itu dengan tongkat dan senjata yang mereka bawa.. Raja ular tidak marah dan ia diam saja, sebenarnya ia dapat dengan mudah membunuh para pemburu itu, tetapi karena ia ingin melaksanakan ajaran kebaikan maka ia diam saja. Dengan resiko ia dapat mati dipukuli oleh para pemburu itu. dengan tenang a menerima pukulan yang amat menyakitkan itu, tanpa punya keinginan untuk melawan pukulan-pukulan para pemburu itu.Dengan menaruh kepalanya diatas ekornya yang melingkar, ia tetap diam membiarkan para pemburu terus memukuli dan melukainya.

  Para pemburu yang melihat raja ular itu sudah lemah, mengikatnya di sebuah batang bambu, lalu menggotong diatas pundak mereka untuk dibawa pulang. Ketika mereka meilhat kepala raja ular itu tekulai  ke bawah, mereka lalu mengikat kepala ular itu lalu menariknya ke atas dan mengikat dengan kuat leher ular itu ke bambu tersebut. Ikatan yang amat kuat membuat raja ular itu amat kesakitan, tetapi ia tidak nampak marah kepada pemburu yang telah menyakitnya itu.

  Di perjalanan pulang, seorang pedagang yang bernama Alara, yang membawa 500 kereta itu berpapasan dengan para pemburu yang sedang menggotong raja ulat itu. Ia melihat keadaan raja ular yang mengenaskan itu, dan terdorong oleh Cinta Kasihnya yang besar kepada mahluk hidup, ia lalu menghentikan para pemburu itu, lalu memberikan berbagai macam hadiah dan uang kepada mereka dan ia lalu menyelamatkan raja ular tersebut.

  Sesudah Penerangan Sempurna, YMS Buddha bersabda:
 
     "Meskipun Aku dipukul dengan tongkat dan senjata-senjata. Aku tidak marah kepada pemburu-pemburu itu. Inilah penyempurnaan kemoralanku."


3. Nekkhama Paramita (Pelepasan)
    Dalam Makhadewa Jataka ( Cerita Tentang Raja Makhadewa) diceritakan bahwa pada suatu ketika Bodhisatta terlahir sebagai anak tertua dari seorang raja bernama Makhadewa. Setelah ayahnya wafat, ia lalu menggantikan ayahnya menjadi raja, yang memerintah dengan adil dan bijaksana. Dari waktu ke waktu ia bertambah bijaksana, ia tidak suka dengan kesenangan-kesenangan duniawi karena ia menyadari bahwa semua itu adalah hampa. Keinginannya adalah meninggalkan kehidupan duniawi, memasuki kehidupan suci dan bermeditasi di dalam hutan.

  Pada suatu ketika ia bertanya kepada tukang cukurnya, apakah ia telah melihat selembar uban/rambut putih di kepalanya. Karena raja sudah mulai tua, maka rambutnya yang hitam berubah, ada sehelai uban/rambut putih di kepalanya. Tukang cukur yang melihatnya lalu memberitahukan kepada raja. Ketika raja ingin melihatnya, ia lalu mencabutnya dengan penjepit dari emas dan menaruhnya diatas telapak tangan raja. Ketika raja yang bijaksana itu melihat ada sehelai uban dikepalanya, ia lalu betekad : sekaranglah saatnya tiba untuk meninggalkan kehidupan duniawi karena ia sudah mulai menua.

  Raja lalu memanggil para menteri dan mengumpulakan rakyatnya, ia lalu berkata :
"Saudara-saudara dan rakyatku yang tercinta, aku telah melihat sehelai uban dikepalaku yang menandakan bahwa aku sudah mulai menua. Aku ingin memberitahukan bahwa aku ingin meninggalkan kehidupan duniawi dan memasuki kehidupan suci dengan bermeditasi di dalam hutan."

  Para menteri, rakyat dan keluarga kerajaan sangat tekejut dengan keputusan raja tetapi mereka tidak mampu untuk menghalangi tekad yang kuat Raja Makhadewa tersebut untuk meninggalkan kehidupan duniawi. Ratu dan anak-anaknya, para menteri dan rakyat kerajaan itu semuanya menangis mengiringi kepergian raja yang sudah menjadi pertapa. Ia meninggalkan istana dan berjalan sendiri menuju Himalaya dengan tenang tanpa ada ikatan kepada apapun juga

  Setelah Penerangan Sempurna, YMS Buddh aberkata:

     "Seperti setetes air liur, Aku melepaskan kerajaan yang Kumiliki. Dimaan pelepasan itu tanpa adanya keterikatan. Inilah Penyempurnaan Pelepasan Ku."


4. Panna Paramita (Kebijaksanaan)
  Dalam cerita Senaka Jataka (Cerita Tentang Pandit Senaka) , diceritakan bahwa suatu ketika Bodhisatta terlahir sebagai anak dari keluarga brahmana, bernama Senaka. Ia amat baik Budi dan bijaksana, selalu menasehati orang-orang disekitarna untuk berbuat baik juga memperhatikan kesejahteraan dan kehidupan spiritual mereka..
  
  Pada waktu itu, terdapat seorang brahmana tua yang kaya raya, ia mempuyai beribu-ribu uang emas. Ia menitipkan uangnya untuk disimpan pada satu keluarga kenalannya. Tetapi keluarga itu menggunakan uang milik brahmana tua itu seperti milik mereka sendiri, mereka lalu mengawinkan brahmana tua engan seorang gadis. Brahmana tua itu merasa gembira dengan pernikahannya ini. Mereka hidup bahagia untuk beberapa waktu lamanya.

  Tidak lama kemudian, istri brahmana tua itu menjadi jahat, ia ingin hidup bebas dan menyuruh suaminya itu pergi. Ia lalu menyiapkan nasi goreng dan tepung untuk bekal suaminya pergi. Brahmana tua itu mengambil nasi goreng dan tepung sebagai bekalnya diperjalanan dan memasukkannya ke dalam tasnya. Ia pergi meningglakan rumahnya berkelana dari satu tempat ke tempat lain meminta minta. Pada suatu hari dengan perut yang lapar ia beristirahat di bawah pohon dan membuka tas, mengambil bekal dan memakannya. Ia hanya makan sedikit dan membiarkan tasnya itu terbuka, ia lalu pergi menuju sungai untuk minum. Ternyata disekitar tempat itu ada seekor ular berbisa, yang mencium bau tepung lalu masuk ke dalam tas itu. Brahmana tua itu balik kembali dari sungai, ia tidak menyadari ada ular berbisa dalam tas, lalu menutup tas itu dan pergi.
  
  Ada 3 dewa yang mengetahui hal tersebut berkata : 
  "O Brahmana, kalau kamu pulang, istrimu mati, kalau kamu tetap dijalan maka kamu akan mati." 

  Dengan ketakutan brahmana tua itu tidak tahu apa yang harus dilakukannya, ia tidak mengerti arti dari kata-kata itu. Beruntunglah hal itu terjadi pada saat bulan purnama. Banyak orang berkumpul mendengarkan khotbah Pandit Senaka. Brahmana yang tua itu lalu memasuki ruangan tempat pertemuan dan duduk menangis dipojok ruangan. Pandi Senaka ynag melihat brahmana tua itu menangis dan dengan mata dewanya segera mengerti apa yang telah terjadi. Ia lalu meminta seseorang membawa tongkat yang panjang dan membuka tas itu. Dengan segera ular berbisa itu keluar dari dalam tas. Orang-orang lalu menggiring ular itu keluar ruangan tanpa melukainya, dan brahmana itu selamat atas kebijaksanaan Bodhisatta.

  Sesudah Penerangan Sempurna, Sang Buddha berkata:
  
     "Dengan memperhatikan kebijaksanaan Aku menyelamatkan brahmana. Dalam hal kebijaksanaaan tidak ada yang menyamaiKu. Inilah Penyempurnaan KebijaksaanKu."


5.Viriya Paramita (Semangat)
Berkenaan dengan penyempurnaan Viriya Paramita ini, ada 2 cerita yang berkaitan dengan  Calon Sang Buddha di masa lampau, yaitu cerita tentang seekor bajing dalam Kalandaka Jataka dan cerita tentang Janaka dalam Maha Janaka Jataka.

Kalandaka Jataka
   Dalam Jataka ini diceritakan bahwa ketika itu Bodhisatta terlahir sebagai seekor bajing yang mempunyai 3 anak yang masih kecil. Mereka hidup di sarangnya pada sebuah batang pohon di tepi laut.
   Pada suatu hari terjadilah badai yang amat besar, batang pohon tempat sarang bajing-bajing itu patah dan jatuh ke dalam laut. Anak-anak bajing yang masih kecil itu tidak dapat melarikan diri dan masuk ke dalam lautan, terapung-apung di batang pohon yang patah itu. Ayah bajing yang melihat anak-anaknya terapung-apung di lautan amat kebingungan, ia tidak tahu bagaimana caranya untuk menolong anak-anaknya itu. Ia lalu berpikir untuk mengosongkan lautan supaya anak-anaknya dapat keluar dari lautan. Lalu ia mengibas-ngibaskan ekornya dengan sekuat tenaga untuk mengosongkan lautan.
   Dewa Sakka, Raja para dewa memperhatikan apa yang dikerjakan oleh bajing itu, Beliau lalu menghampiri bajing itu dan bertanya apa yang sedang dikerjakannya.
   Si bajing berkata bahwa ia sedang mencoba untuk mengosongkan lautan untuk menyelamatkan anak-anaknya. Dewa Sakka lalu tertawa dan berkata:
    " O bajing, kamu tidak dapat melakukan hal itu. Bagaimana kamu dapat mengosongkan lautan. Jangan Bodoh."
   "Jangan bicara begitu Tuan. Lebih baik anda pergi saja. Saya harus kuat. Saya akan berusaha sekuat tenaga sampai saya berhasil.", kata bajng itu dengan penuh semangat.
   Dewa Sakka senang dengat semangat bajing yang membaja itu, beliau lalu mengambil anak-anak bajing dari dalam lautan dan menyerahkannya kepada ayahnya. Dengan penuh cinta ksih dan kekaguman yang luar biasa pada bajing itu, Dewa Sakka lalu mengusap lembut punggung bajing itu dengan ketiga jarinya. Lalu dipunggung bajing itu terdapat 3 garis memanjang dari kepala sampai ke ekornya di semua bajing, sebagai tanda dari usapan Dewa Sakka yang lembut dan penuh kasih itu.

Maha Janaka Jataka
dalam Jataka ini diceritakan bahwa pada masa yang lampau, Bodhisatta terlahir sebagai seorang pedagang yang bernama Janaka. Ia berdagang melintasi lautan untuk menjual barang dagangannya.

   Pada suatu ketika kapal yang ditumpanginya pecah di tengah lautan. Beberapa orang berusaha berenang, beberapa orang berdoa meminta pertolongan para dewa.tetapi Janaka yang penuh semangat ini menaiki tiang kapal dan loncat masuk ke dalam lautan, ia terapung apung dilautan dengan badan berlumuran dengan minyak di tengah lautan. Selama 7 hari lamanya ia terapung-apung di tenagh lautan dan tidak kelihatan tepi pantai. Pada hari kedelapan denagn tubuhnya yang lemah karena kelelahan dan kelaparan, di tengah lautan ia tetap berusaha untuk merenungkan ajaran-ajaran.

   Seorang dewi melihar dia berjuang untuk mempertahankan kehidupannya, muncul di hadapannya dan menawarkan sepiring makanan. Karena sudah ewat tengah hari dan ia tengah melatih diri untuk tidak makan setelah lewat tengah hari (Atthasila) meskipun ia telah tidak makan selama 7 hari, ia menolak makanan itu dengan engucapkan terima kasih. Untuk mengujinya lagi, dewi itu mengatakan hal-hal yang melemahkan semangatnya, dan mengatakan ia hanyalah melakukan tindakan yang bodoh dengan berenang terus-menerus karena tepi pantai tidak kelihatan. BOdhisatta itu mengatakan bahwa ia tidak peduli meskipun ia akan gagal, daripada tidak melakukan usaha apapun yang menunjukkan kemalasan. Dewi itu senang mendengar semangat dan tekad yang diucapkannya. Dewi lalu menolongnya keluar dari lautan dan mengantarkannya pulang ke rumah. Ia memperoleh hadiah dari percaya dirinya yang tinggi dan kekuatan semangatnya maka kesulitannya akan berlalu.

   Setelah Penerangan Sempurna, YMS Buddha berkata:
    
          "Di tengah lautan Aku tidak melihat pantai. Semua orang juga medapat celaka. Hanya pikiranku yang tenang. Inilah penyempurnaan semangatKu."


6.  Khanti Parami (Kesabaran)
   Dalam Khantivadi Jataka (Cerita Tentang Pertapa Khantivadi, diceritakan bahwa Bodhisatta terlahir sebagai seorang pertapa, yang bermeditasi di bawah sebuah pohon di taman kerajaan. Ia tinggal di sana atas undangan pejabat kerajaan.

   Pada suatu hari raja pergi ke taman bersama wanita-wanita penghibur. Dalam keadaan mabuk raja tertidur di pangkuan wanita penghibur kesayangannya. Ketika ia tertidur, wanita-waita penghibur yang lain pergi ke pertapa Khantivadi untu mendengarkan ajarannya. Pada saat raja terbangun, wanita-wanita penghibur itu tidak ada. Mendengar mereka ke pertapaan untuk mendengarkan ajaran, Raja amat marah. Ia menghampiri Pertapa Khantivadi yang tidak bersalah itu dan bertanya dengan suara keras:  "Apa yang kamu ajarkan , hai pertapa?" .

"Aku mengajarkan kesabaran, Yang Mulia" jawabpertapa itu. dengan tenang.
"Apakah kesabaran itu?"
"Kesabaran adalah tidak marah apabila kamu dianiaya atau dipukuli."
"Baiklah, aku akan menguji kesabaranmu", kata Raja. Ia lalu memerintahkan algojonya untuk melemparkan pertapa itu ke tanah dan memukulinya dengan cambuk. Pertapa yang suci itu dipukuli tanpa belas kasihan. Kulitnya penuh ddengan luka bekas cambukan , seluruh tubuhnya berdarah darah. tetapi pertapa yang melaksanakan ajaran untuk sabar itu, menahan sakit yang luar biasa itu dengan penuh kesabaran.

"Masihkah kamu melatih kesabaran, hai pertapa?"
"Ya, tentu saja, Yang Mulia"
  Raja lalu memerintahkan untuk memotong kedua tangan dan kakinya, dan bertanya kembali. Dengan penuh ketenangan, pertapa itu menjawab pertanyaan raja. Beliau lalu memerintahkan untuk memotong hidung dan kedua kupingnya. Tanpa belas kasihan algojo lalu memotong hidung dan kuping pertapa itu.

  Dengan tubuh yang telah terpotong-potong dan bersimbah dengan darah itu, Raja lalu bertanya lagi kepada pertapa itu:
"Apakah kamu tetap latihan kesabaran?" 
"Yang Mulia, janganlah berpikir bahwa kesabaranku terletak di kulit, di tangan, di kedua tangan atau kakiku, atau di hidung dan kedua kupingku. Kesabaranku berada di hati dan pikiranku. Dengan segala kekuatanmu, kamu dapat membuat tubuhku hancur. Tetapi pikiranku tidak akan pernah berubah.", pertapa itu menjawab pertanyaan raja dengan penuh ketenangan. Ia tidak punya keinginan untuk melawan raja, juga tidak terlihat marah saat ia memandang raja.
   Raja bertambah marah mendengar jawaban pertapa, ia lalu mengangkat kakinya dan menginjak dada pertapa yang tidak bersalah itu. Dengan segera darah menyembur dari mulut pertapa. Pejabat kerajaan yang mengundangnya, ketika mendengar kejadian itu, segera berlari menghampirinya. Dengan segera ia mengobati dan memohon untuk tidak mengutuk kerajaan. Pertapa yang penuh kasih itu bukannya mengutuk malah memberikan berkah kepada raja dengan berkata:
  "Ia yang telah memotong tangan, kaki, hidung dan kupingku semoga panjang umur! Seorang laki-laki seperti kami tidak akan marah."

   Setelah Penerangan Sempurna, YMS Buddha berkata:
          
            "Meskipun dipotong dengan kapak yang tajam seperti benda mati, Aku tidak marah kepada Raja Kasi.Inilah Penyempurnaan KesabaranKu."


7. Sacca Paramita
   Dalam Maha Sutasoma Jataka (Cerita Tentang Raja Maha Sutasoma) diceritakan bahwa ketika itu Bodhisatta terlahir sebagai Raja Sutasoma, beliau memerintah dengan adil dan bijaksana. Pada suatu waktu ada seorang laki-laki yang amat rakus yang bernama Porisada. Sebelumnya ia adalah seorang raja, tetapi karena tingkha lakunya yang buruk, yang suka makan daging manusia, ia diusir dari kerajaannya. Didalam hutan ia tinggal di bawah sebuah pohon, membunuh manusia yang dijumpainya dan memakan dagingnya. 
   Pada suatu hari, kakinya terluka, ia amat kesakitan. I bertemu dengan 3 mahluk halus di hutan tersebut dan ia berjanji kalau dapat menyembuhkan lukanya, ia akan mempersembahkan beratus-ratus Raja. Setelah ia berpuasa dan beristirahat, luka di kakinya sembuh sendiri. Tetapi ia berpikirkakinya sembuh karena kebaikan mahkluk halus itu. Karena itulah ia menangkap seratus orang dan seorang Raja, dan ia mulai mengatur untuk mempersembahkan semuanya kepada ke tiga mahluk halus di hutan itu.
   Tetapi mahluk halus di hutan itu tidak suka dengan persembahan manusia ini, dan untuk mencegahnya mereka lalu muncul dihadapan Raja tersebut dan memintanya untuk menangkap Raja Sutasoma untuk dipersembahkan.
   Porisada tidak punya waktu untuk menangkap Raja Sutasoma. Maka ia lalu pergi ke danau tempat Raja biasa mandi dan membersihkan tubuhnya. Setelah Raja selesai mandi, ia terkejut dengan Raungan Porisada yang datang menghampirinya dan segera memanggul Raja dipundaknya dan membawa Raja lari masuk ke dalam hutan. Raja tidak takut tetapi ia menyesal tidak dapat menepati janjinya. Dalam perjalanannya ke danau, ia bertemu dengan seorang brahmana dan ingin mendengarkan nasehat-nasehatnya. Ia meminta brahmana itu pergi ke istananya terlebih dahulu, dan kalau ia sudah selesai membersihkan tubuhnya, ia akan menyusul ke istana dan mendengarkan nasehat-nasehatnya. Raja Sutasoma mengingatkan janjinya itu kepada Porisada.
   Porisada mengijinkannya pergi dengan janji Raja akan kembali untuk dijadikan persembahan. Porisada tidak berniat membunuh Raja Sutasoma karena mereka bersahabat sejak masih kecil dan ia menghormatinya. Ia membiarkan Raja itu pergi dan tidak mengharapkan untuk datang kembali. Raja Sutasoma setelah mendengar nasehat-nasehat brahmana itu, teringat akan janjinya untuk balik kembali kepada Porisada. Pembantu Raja tidak mengijinkan beliau untuk balik kembali ke Porisada karena ia bisa dibunuh. Tetapi Bodhisatta adalah seorang raja yang selalu memegang janjinya. Ia lalu menyerahkan kerajaannya dan meninggalkan istana dengan diiringi dengan ratap tangis keluarga dan para pegawai istana.
   Ketika itu Porisada sedang menyiapkan api unggun untuk mempersembahkan orang-orang yang ditangkapnya kepada mahlku-mahluk halus di hutan itu. Raja Sutasoma segera menghampiri dan berdiri dihadapannya. Porisada kaget melihatnya dan ia lalu berkata:
   "Betapa bodohnya kamu ini! Aku melepaskanmu dengan harpan kamu tidak akan balik lagi. Kamu mengetahui dengan baik kalau kamu balik maka kamu akan mati. Mengapa kamu kembali?"
   "O Porisada dalam Pandanganmu aku telah melakukan perbuatan bodoh. tetapi aku memegang janjiku. Aku berjanji untuk datang kembali dan sekarang aku memenuhi janjiku itu. Aku menghargai janjiku lebih dari kehidupanku sendiri. Sekarang kamu dapat mempersembahkan ku."
   Porisada amat gembira mendengar teman lamanya berkata seperti itu. Ia ingin mendengar lebih banyak lagi kata-kata bijak yang keluar dari mulut Raja Sutasoma. Ia lalu duduk bersimpuh di kaki raja dan mendengarkan nasehat-nasehatnya. Raja Sutasoma lalu mengajarkan kebaikan-kebaikan kepada Porisada, kemudian kebaikan yang ada di hati Porisada muncul dan ia berubah. Ia menyadari atas segala kesalahannya. Ia lalu membatalkan niatnya itu mempersembahkan manusia, dan melepaskan seratus orang dan seorang raja yang ditangkapnya itu, mengembalikan ke daerah mereka masing-masing. Porisada lalu balik ke kerajaannya dan menjadi raja kembali, ia memerintah dengan adil dan bijaksana.

   Setelah Penerangan Sempurna, YMS Budha berkata:
      
         "Untuk memenuhi janjiKu, Aku mengorbankan kehidupanKu. Dan Aku menyelamatkan seratus orang dan seorang Raja. Inilah Penyempurnaan KebenaranKu."

8. Adhitana Paramita (Tekad)
   Dalam Mughapakkha atau Temiya Jataka (Cerita Tentang Pangeran Temiya) diceritakan bahwa pada saat itu Bodhisatta terlahir di keluarga kerajaan yang bernama Pangeran Temiya yang tekenal juga dengan nama Mughapakkha. Ketika ia berusia 1 bulan dan sedang digendong oleh ayahnya, ia mengetahui bahwa raja akan menghukum 4 pencuri. Meskipun masih bayi, ia mengetahui bahwa ayahnya akan mendapatkan karma buruk karena kepemimpinannya sebagai seorang raja yang menjatuhkan hukuman kepada keempat pencuri itu. Pada keesokan harinya, ketika ia sedang tidur diteras istana, ia teringat kembali dengan kehidupannya pada masa yang lampau. Ia mengetahui mengapa ia terlahir di alam yang kurang baik pada kehidupannya pada masa yang lampau karena ia melakukan karma buruk ketika ia memerintah sebagai seorang raja. Ia lalu betekad untuk keluar dari kerajaan. Dewi penjaga teras istana yang menjadi ibunya pada kelahirannya yang lampau menasehatinya :
"Anakku sayang, kamu dapat bertekad untuk berlaku seperti orang lumpuh meskipun tidak lumpuh. belaku seperti orang bodoh meskipun tidak bodoh dan berlaku sebagai orang tuli meskipun tidak tuli."

    Kedua orang tuanya yang baik hati selalu menemani dan merawatnya berkata:
"Anakku sayang, Temiya, kami tahu dengan baik kalau kamu ini tidaklah lumpuh, tidak bodoh dan tidak tuli. Karena muka, kuping dan kakimu tidak seperti orang cacat. Kami merindukan dan menyayangimu anakku. Janganlah mengecewakan kami. Jagalah nama baik keluarga kita."
    Tetapi tekad yang membaja dari Temiya membuatnya tetap berdiam diri. Ia berlaku seperti tidak mendengar perkataan kedua orang tuanya. Raja tidak dapat lagi menerima kenyataan ini. Ia lalu menjadi amat marah dan lalu memerintahkan untuk menyeret pangeran keluar dari pintu belakang istana dan menguburnya hidup-hidup. Ratu amat sedih dan berduka mendengar perintah raja pada hari ulang tahun Pangeran Temiya yang ke 16 ini. Ia lalu menghampiri Raja, mengingatkan dan memohon supaya Raja mau mengampuni Pangeran dan menunda pelaksanaan hukuman yang telah dijatuhkan selama 7 hari lamanya.
Denganamat sulit Ratu berusaha untuk menenangkan Raja dan juga membujuk anaknya supaya dalam 6 hari Pangeran Temiya mengubah perilakunya, tetapi Ratu gagal.

   Pada hari ke 6 Raja memerintah kepada kusir kudanya dengan berkata:
   "Besok kamu haru menyeret anak itu ke pekuburan.Gali lubang disana, pukul kepalanya dan kuburlah dia."
   Ratu yang malang tidak sanggup mendengar perintah raja itu, ia lalu mendatangi anaknyauntuk menyampaikan perintah Raja. Pangeran Temiya amat kaget mendegar berita duka itu, tetapi ia bahagia tekadnya yang kuat untuk diam selama 16 tahun telah berhasil . Ratu amat bersedih dan berduka. Kusir kuda tetap menyeret Pangeran meskipun dihalangi oleh Ratu yang menangis dan meratap-ratap karena kesedihan. Inilah waktu yang amat kritis bagi pangeran yang suci itu. Ia lalu berpikir tentang ibu yang amat dikasihinya :
   "Kalau aku tidak bicara sekarang maka ibuku amat sangat menderita. Tetapi kalau aku bicara, maka tekadku selama 16 tahun tidak ada artinya agi. Semoga dengan aku tetap diam membawa kebahagiaan untuk kedua orang tuaku."
   Dalam hal ini Bodhisatta lebih mempertahankan tekad yang kuat itu meskipun ia amat menyayangi ibunya. Kebuatan tekadnya yang kuat akan membawa kebahagiaan untuk semuanya. Kusir kuda itu lalu menyeret Pangeran dalam gerobak dan berhenti di dekat pekuburan. Ia lalu meninggalkan pangeran dan mulai menggali lubang. Seketika itu juga pangeran bangkit berdiri lalu berjalan mengampiri kusir kuda yang sedang menggali lubang , kusir itu sangat terkejut melihat Pangeran amat sehat dan gagah sekali. Pangeran Temiya lalu memutuskan untuk tetap tinggal di hutan. Kusir kuda lalu balik ke istana melaporkan apa yang telah tejadi kepada Raja dan Ratu. Pangeran lalu hidup sebagai seorang pertapa dan banyak orang yang menjadi pengikutnya.

    Setelah Penerangan Sempurna, YMS Buddha berkata:

        "Aku bukan tidak suka kepada ibu dan ayahKu, Bukan pula untuk kemenanganKu. Tetapi Aku lebih 'Mengetahui', karena itulah Aku ber 'Tekad'."


9. Metta Paramita (Cinta Kasih)
Berkaitan dengan penyempurnaan Metta Paramita, terdapat 2 cerita yang berkaitan dengan Calon sang Buddha di asa lampau yaitu Cula Dhammapala Jataka (Cerita Tentang Pangeran Dhammapala) dan Sama Jataka (Cerita Tentang Sama).

Cula Dhammapala Jataka
    Dalam Jataka ini diceritakan bahwa pada masa yang lampau, terdapatlah seorang raja bernama Maha Pratapa, Ratunya bernama Candra Devi. Ratu melahirkan seorang bayi laki-laki yang cakap, yang diberi nama Dhammapala. Bodhisattalah yang telahir sebagai Dhammapala.





No comments:

Post a Comment