Pasang Iklan Di Sini

Sunday, January 3, 2016

MANUSIA SAMPAH



MANUSIA SAMPAH

Kayappakopam rakkheyya, kayena samvuto siya
Kayaduccaritam hitva, kayena sucaritam care.

Janganlah menggunakan kekerasan fisik, sebagai lanjutan dari ledakan emosi.
Kendalikan perbuatan melalui badan jasmani, janganlah melakukan kejahatan dengan badan jasmani, berbuatlah kebajikan dengan badan jasmani.
(Dhammapada Kodha Vagga: 231)

Pandangan Umum

      Manusia sampah adalah manusia yang perilakunya jauh dari moralitas. Istilah lain adalah orang yang merosot moralnya. Mereka lebih cenderung selalu melakukan tindakan kejahatan kepada orang lain. Sifat buruk seperti menebar ketakutan kepada orang lain dikenal dengan sebutan “Terroris”. Teroris merupakan suatu kumpulan orang yang tidak bermoral dengan memiliki paham untuk menghancurkan orang lain demi mencapai tujuan yang diharapkan. Namun, kita hanya akan membahas secara global sifat buruk yang dimiliki manusia. Terkait dengan isi Dhammapada Kodha Vagga: 231, tidak sedikit orang apabila marah kekuatan fisik akan menjadi kekuatan untuk meluaokan emosinya. Hal itupun membuat orang lain menjadi takut, tidak nyaman bersahabat dengannya.

      Pandangan keliru itulah yang sangat berbahaya apabila tidak diakhiri. Buddha menjelaskan dalam Anguttara Nikaya I: 17; “Bagi seseorang yang berpandangan salah melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Ketiga hal itu pula akan dilakukan dengan pandangan, kehendak, hasrat, harapan, serta bentukan. Semua yang muncul adalah hal yang tidak dikehendaki dan membawa pada keinginan dan penderitaan, karena pandangan buruk tersebut.”

Pandangan Buddhis tentang Manusia

A.      Empat kondisi yang sulit diperoleh guna mencapai Dhamma

      Guru Agung pernah mengajarkan Dhamma, bahwa kehidupan manusia yang telah diperoleh saat ini adalah yang terbaik dan termulia. Sebab empat hal yang teramat jarang telah tercapai sekaligus. Buddha pernah menjelaskan hal ini dalam kitab komentar Dhammapada 182. Buddha menjelaskan tentang empat hal tersebut kepada Erakapatta sang Raja Naga, bahwa mereka yang terlahir menjadi seekor hewan tidak dapat mencapai tingkat kesucian Sottapatti. Empat kondisi itu adalah :
1.       Sangat sulit untuk menjadi manusia;
2.       Sangat sulit untuk bertahan hidup;
3.       Sangat sulit untuk mendengarkan Dhamma mulia untuk merealisasi Nibbana;
4.       Sangat sulit berada dalam Buddha Sasana.

B.      Tipe Manusia Menurut Dhamma

      Manusia berasal dari kata Mano yang memiliki pengertian pikiran, kesadaran atau dalam hal ini adalah batin dan Ussa memiliki pengertian yang telah maju atau berkembang dan maju. Manusia dalam pandangan agama Buddha dapat dibedakan menjadi empat tipe:

1.       Manusia binatang
Ciri khasnya manusia ini adalah dipenuhi dengan kebodohan batin (moha), tidak dapat membedakan amna yang baik dan buruk, pantas, tidak pantas. Tidak berbakti pada orangtua, keras hati, sombong, hanya menuruti hawa nafsu keinginan.

2.       Manusia setan
Ciri khasnya manusia ini adalah selalu diliputi oleh keserakahan (lobha), kikir, tidak pernah puas, hanya emmikirkan keuntungan diri sendiri, tidak mengenal kebaikan, senang memuaskan nafsu inderanya saja.

3.       Manusia seutuhnya
Ciri khasnya orang ini adlaah senang membantu orang lain yang menderita, tidak kikir, memiliki hiri dan ottapa, hidup yang berpedoman kepada Dhamma.

4.       Manusia Dewa
Manusia ini selalu suka membantu orang lain yang menderita , memiliki pengendalian diri (sila), metta, karuna, mudita, upekkha, panna yang sangat kuat.

C.      Manusia Sampah
Buddha menjelaskan tentang manuia sampah dalam Vasala-Sutta; Sutta Nipata , yaitu kepada Brahmana Aggika-Baradvaja salah satunya adalah:
(1.)  “Siapapun yang marah, niat buruk, berpikiran jahat, dan iri hati, pandangan salah, tipu muslihat, dialah disebut sampah.”
(2.)  “Siapapun yang merusak atau agresif (suka menyerang) di kota dan didesa dikenal sebagai perusak atau penjahat yang kejam, dialah disebut sampah.”
(3.)  “Siapapun yang tidak menyokong ayah atau ibunya, yang sudah tua dan lemah, padahal dia hidup dalam keadaan berkecukupan, dial ah disebut sampah.”

      Buddha menjelaskan dalam Dhamma bahwa seseorang yang ingin hidup bahagia, selayaknya menjaga jasmani, ucapan, dan pikirannya sepanjang siang dan malam, maka kebahagiaan akan selalu menyertai mereka yang melakukannya.

Ceramah Dhamma oleh : Bhikkhu Atthadiro tanggal 3 Januari 2016
Sumber : Berita Dhammacakka No. 1191

No comments:

Post a Comment