Pasang Iklan Di Sini

Sunday, October 5, 2014

Kapan Induksi Harus Dilakukan?

Kapan Induksi Harus Dilakukan?

Induksi dilakukan untuk membantu proses melahirkan dengan menstimulasi kontraksi. Misalnya, kontraksi tidak teratur sehingga bayi tidak terdorong keluar dan mulut rahim tidak terbuka lebar. Padahal hal ini dibutuhkan sebagai jalan keluar bayi.
Namun, sebelum melakukan induksi, ada beberapa hal yang harus diperiksa. Yaitu, pengecekan pola kontraksi dan memeriksa seberapa jauh serviks menipis atau melebar. Selain itu, perhatikan seberapa jauh jarak bayi ke serviks dan hasil monitor detak jantung pada janin.
Bila memang tindakan induksi harus diambil, ibu akan diberikan obat yaitu oxytocin atau oksitosin melalui selang infus dengan dosisi yang sudah ditentukan dokter. Pemberian oksitosin akan ditambahkan sedikit demi sedikit hingga rahim kontraksi dan serviks terbuka dan cukup untuk jalan lahir. Hasil yang diharapkan dari induksi adalah munculnya 3 – 5 kontraksi setiap 10 menit.
Berikut ini adalah beberapa alasan medis lainnya yang mengharuskan ibu hamil menjalani induksi:
1. Kematian janin dalam rahim.
2. Hari perkiraan lahir (due date) sudah lewat dari 1 – 2 minggu
3. Kondisi ibu hamil sedang mengalami tekanan darah tinggi (hipertensi), infeksi, penyakit paru-paru, ketuban pecah terlalu awal, serta diabetes yang dapat membahayakan nyawa ibu dan bayi.

https://id.she.yahoo.com/kapan-induksi-harus-dilakukan-055508185.html

Anak Tantrum? Ini Yang Harus Dilakukan!

Anak Tantrum? Ini Yang Harus Dilakukan!

“Duh, anakku tantrum nih”
“Dia kalo nangis sampe guling-gulingan gini, sebel deh!”
“Kenapa sih nangis nggak jelas gitu?”
Mungkin banyak Mommies sudah pernah mendengar istilah tantrum. Simak penjelasan Mbak Irma Gustiana, psikolog keluarga yang bisa Mommies tanya secara langsung di thread live Q&A plus praktik di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia dan Klinik Rumah Hati, dan juga school counselor di beberapa sekolah TK-SD-SMP. Selain itu Mbak Irma juga adalah dosen di STIE Trisakti dan pengasuh Rubrik Psikologi Tabloid Wanita Indonesia.
Apa sih, sebenarnya tantrum?
Temper tantrum adalah kondisi di mana seorang anak kesulitan untuk mengontrol emosinya sehingga tampil dalam perilaku seperti menangis berlebihan, menjerit-jerit, berguling-guling,headbanging atau perilaku menyakiti diri sendiri. Dikutip Colorado State University Extension, R.J. Fetsch and B. Jacobson mengatakan bahwa tantrum biasanya terjadi pada usia 2 sampai 3 tahunketika anak-anak membentuk kesadaran diri.
Balita belum cukup memahami kata “aku” dan “keinginan dirinya” tetapi sangat mudah untuk tahu bagaimana memuaskan apa yang diinginkan. Tantrum adalah hasil dari energi tinggi dan kemampuan yang tidak mencukupi dalam mengungkapkan keinginan atau kebutuhan “dalam bentuk kata-kata”.Tantrum biasanya terjadi pada usia 2 dan 3 tahun, akan mulai menurun pada usia 4 tahun. Mereka biasanya mengalami ini dalam waktu satu tahun. 23 sampai 83 persen dari anak usia 2 hingga 4 tahun pernah mengalami temper tantrum.
tantrum-sequencetantrum-sequence
*gambar dari sini
Pemicunya apa, ya?
Biasanya perilaku anak yang tantrum dipicu pula oleh beberapa hal, misalkan pola pengasuhan yang kurang konsisten, terlalu dimanjakan dan semua serba diberikan sehingga ketika suatu saat ada aturan yang melarang maka emosinya akan sulit dikendalikan, orangtua yang protektif atau sebaliknya orangtua yang banyak larangan, ikatan emosi yang kurang lekat antara orangtua anak.
Penyebab umum lainnya termasuk karena rasa lapar atau lelah. Anak tantrum juga karena ia sedang berusaha untuk mencari perhatian orang yang ada disekitarnya. Dari pengalaman praktik saya, kebanyakan isu yang muncul dalam keluarga karena pola asuh yang tidak konsisten atau anak memang memiliki gangguan tumbuh kembang tertentu sehingga lebih sensitif terhadap stimulus di luar tubuhnya.
Apa yang harus dilakukan saat menghadapi anak tantrum?
Untuk menghadapi anak yang tantrum ada beberapa hal yang harus Mommies lakukan :
  • Berusaha untuk bersikap tenang, karena banyak sekali orangtua yang panik atau bahkan “senewen” ketika anaknya tantrum sehingga akan memperparah tantrum itu sendiri.
  • Terus lakukan kegiatan Mommies. Abaikan anak sampai dia lebih tenang dan tunjukkan aturan yang sudah disepakati bersama. Tetapi coba untuk mengawasi daerah sekitar anak, agar tidak ada benda-benda berbahaya yang dapat melukainya seperti perabotan rumah
  • Ketika ia memukul-mukul, segera pegang tangan yang ia gunakan untuk memukul tersebut. Berikan penjelasan kepadanya fungsi tangan bukan untuk memukul sambil tetap memegang tangan atau lakukan teknik mendekap
  • Dekaplah anak sampai ia tenang, Mommies harus lebih kuat daripada tenaganya. Carilah posisi duduk dan bersandar sehingga Mommies bisa menopang tubuhnya dengan posisi yang aman.
  • Cobalah untuk menemukan alasan kemarahan anak Anda.
  • Jangan menyerah pada kemarahan anak. Ketika orang tua menyerah, anak-anak belajar untuk menggunakan perilaku yang sama ketika mereka menginginkan sesuatu.
  • Hindari untuk membujuk anak dengan imbalan yang lain untuk menghentikan kemarahannya. Anak akan belajar untuk mendapatkan imbalan.
  • Arahkan perhatian anak pada sesuatu yang lain
  • Berikan pujian dan penghargaan perilaku bila tantrum telah selesai misalnya dengan acungan jempol, ciuman, pelukan, sticker atau makanan karena pastinya ia sangat lelah dengan tantrumnya.
Nah gimana, Mommies? Cukup jelas, kan, penjelasan Mbak Irma? Saya tau sih, it is easier said than done. Tapi, mencoba trik di atas nggak ada salahnya kok!

https://id.she.yahoo.com/anak-tantrum--ini-yang-harus-dilakukan-083945904.html

Kiat Sukses di Bisnis Online

Kiat Sukses di Bisnis Online

Tips Aman Belanja OnlineTips Aman Belanja Online


Perkembangan teknologi komunikasi, terutama berbasis internet, telah mendorong laju perekonomian. Sebab lewat dunia maya, kini banyak orang yang berlomba-lomba menjajakan bisnisnya. Baik berupa jasa maupun barang. Pada 2013 saja, bisnis online telah meraup pemasukan sekitar Rp 5,1 triliun.

Mudahnya bertransaksi lewat internet pun membuat jumlah pemain di pasar ini kian meningkat. Hingga persaingan semakin ketat. Lantas apa yang harus Anda lakukan agar bisnis online tetap berjalan sukses?

Menurut praktisi bisnis online Tasya Mustika Putri (24), kunci agar usaha Anda berjalan sukses adalah kemampuan meraih kepercayaan konsumen. Sebab dalam bisnis online, pembeli tak dapat berinteraksi langsung dengan penjual. Pun tak bisa melihat atau menyentuh barang yang Anda tawarkan. Karena itu, tampilan situs serta layanan yang Anda berikan harus mampu meyakinkan dan memuaskan pelanggan.

“Sebelum menjalankan bisnis online, Anda harus mengutamakan pelayanan dan kualitas dari produk,” ktaa Tasya ke Plasadana.com untuk Yahoo Indonesia, Kamis, 2 Oktober 2014. “Jika sudah menjalankan kedua poin itu, Anda akan dengan mudah mendapatkan kepercayaan dari konsumen.”

Memperoleh rasa percaya konsumen memang tidak mudah. Selain menjaga kualitas produk dan pelayanan, Anda juga mesti memberikan bukti nyata pada mereka. Misalnya dengan memamerkantestimonial atau rekomendasi para pelanggan. “Jangan malu atau segan untuk meminta testimonial dari pembeli. Lama kelamaan, tanpa diminta pun mereka akan dengan senang hati berbagitestimonial atas produk Anda,” ujar perempuan yang sudah berbisnis online sejak 2008 itu.

Anda perlu juga memerhatikan tampilan produk yang menarik. Seperti memajang foto produk dengan kualitas bagus, elegan, namun tidak mengubah keaslian warna serta bentuk produk. Dan jangan sampai Anda dengan sengaja memoles produk sebagus mungkin saat pemotretan. Padahal produk asli tak seindah di gambar. Jika sudah begini, pembeli akan merasa tertipu secara tak langsung. “Bisa-bisa mereka menjadi enggan untuk kembali membeli produk Anda,” kata dia.

Karena Anda menggeluti bisnis secara online, ada beberapa perintilan teknis yang harus mendapatkan perhatian. Seperti domain dan konfigurasi website yang Anda pilih. Kedua hal itu harus ramah untuk pembeli.

Tasya sendiri tidak terlalu rumit dalam memilih domain situs web untuk bisnisnya. Namun ia tetap harus rajin mempromosikan alamat situs melalui media sosial, misalnya Facebook atau Twitter. Dan yang terpenting, alamat situs mesti ramah dengan mesin pencari. “Atau meningkatkan SEO-nya,” kata dia.

Anda juga perlu memperhatikan perihal garansi produk. Konsumen tentu akan lebih memilih produk yang menawarkan garansi. Untuk yang satu ini, Tasya memberikan garansi tergantung dengan jenis produk. Bila barang elektronik, tentu lengkap dengan jaminan garansi. Namun jika berbisnis baju seperti Tasya, Anda tidak bisa langsung menawarkan garansi. Sebab pemesanan pakaian tergantung dengan ukuran yang biasa dipakai. “Karenanya, istilah make sure before you booked menjadi hal penting dalam dunia online shop,” kata Tasya.

https://id.she.yahoo.com/kiat-sukses-di-bisnis-online-073218529.html

Mulai Kapan Sebaiknya Belajar Bahasa Bilingual?

Mulai Kapan Sebaiknya Belajar Bahasa Bilingual?

photo-768x1024photo-768x1024Selama ini banyak sekali perbedaan pendapat dari para orangtua bahkan dari para ahli, mengenai apakah anak sudah harus diajarkan bahasa bilingual dari kecil atau tidak. Ada pendapat yang mengatakan bahwa apabila anak diajarkan bahasa bilingual dari kecil, anak akan menjadi bingung, tercampur-campur bahasanya, dan menjadi terlambat bicara.
Namun, bagi pihak yang pro, mereka mengatakan anak harus diajarkan bahasa kedua dari kecil agar mereka menjadi lebih fasih dan mudah memahaminya. Jadi, sebenarnya yang benar yang mana ya? Saya sendiri juga bingung Mommies…
Tapi untungnya saya berkesempatan mewawancara seorang dosen Fakultas Psikologi UI, ibu Dra. Mayke S. Tedjasaputra M, Si. Beliau merupakan dosen perkembangan anak dan pernah mengeluarkan buku bermain, mainan, dan permainan.
Simak hasil wawancara saya dengan beliau, ya!
Selama ini selalu ada perdebatan mengenai pembelajaran bahasa bilingual pada anak, ada yang mengatakan bahwa kalau diajarkan dari kecil anak akan menjadi bingung karena bahasanya menjadi tercampur-campur, ada juga yang mengatakan justru harus dimulai dari kecil agar lebih lancar.Sebenarnya pada usia berapakah anak sebaiknya mulai diajarkan bahasa bilingual?
Berdasarkan jurnal yang terakhir saya baca, ada 2 pendapat:
1. Ada pendapat yang mengatakan sejak bayi sudah dapat diajarkan bahasa bilingual. Misalnya anak dengan bapak orang Indonesia yang berbicara dengan Bahasa Indonesia dan ibunya orang Inggris yang berbicara dengan Bahasa Inggris. Jadi kedua orangtua tersebut sebaiknya menggunakan bahasanya masing-masing. Selain itu, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa sejak bayi, anak sudah dapat diajarkan 2 bahasa karena nanti di otak, akan terbentuk bagian masing-masing. Bahasa itu ada yang untuk memahami, ada yang untuk mengujarkan. Pusat bicara dan pusat pemahaman sama sekali tidak bisa dipisahkan karena saling berhubungan. Anak-anak itu mengerti dulu, nanti saat mencapai usia tertentu, mereka akan mulai bicara.
2. Tapi di sisi lain ada yang mengatakan kalau sebaiknya 1 bahasa, yaitu bahasa ibu dimantapkan dulu baru anak belajar bahasa lain. Namun, kalau diamati anak-anak di Indonesia itu banyak yang bilingual walaupun bilingualnya Jawa dengan Indonesia, misalnya. Anak-anak itu akan belajar bahasa dengan mudah, kenapa? Karena bahasa tersebut terpapar setiap hari, mereka mendengar lalu melihat secara langsung kegiatan atau benda yang dimaksudkannya. Misalnya, makan bahasa Indonesianya makan, atau bahasa Sundanya tuang. Jadi mereka tidak usah belajar bahasa secara formal seperti ikut kursus, tetapi anak akan mengerti bahasa itu dengan sendirinya. Tapi untuk anak-anak yang mengalami keterlambatan perkembangan bahasa, cara tersebut akan membingungkan.
Jadi ada kasus khusus untuk anak yang perkembangan bahasa dan bicaranya terlambat, mereka akan lebih sulit mengerti. Untuk kasus-kasus seperti itu, sebaiknya mereka dimantapkan 1 bahasa dulu baru bahasa lain. Selain itu, ada orang-orang sekarang yang menganggap bahasa asing itu sangat penting, sehingga menggunakan bahasa yang berbeda-beda di rumahnya, misalnya neneknya berbahasa Mandarin, ibunya berbahasa Inggris, ayahnya berbahasa Indonesia, mbaknya berbahasa Jawa, itu akan membingungkan karena anak tidak paham penggunaannya.
Jadi kembali ke anak-anak yang sudah paham banyak tetapi sulit untuk bicara, ada yang cepat, ada yang lambat. Jadi orangtua sebaiknya sensitif, memerhatikan apakah anaknya bingung atau tidak. Kalau anaknya bingung, sebaiknya tidak dipaksakan untuk belajar 2, apalagi 3 atau 4 bahasa. Bahwa mereka sering diajak bicara tidak apa-apa sehingga mereka dapat memungut bahasa itu dengan sendirinya.
Kemudian ada penelitian yang melihatnya dari sudut pandang perkembangan bahasa anak kecil, terutama pada masa pembentukkan (di bawah 2 tahun). Jadi kalau dilihat dari perkembangan bahasa dan bicaranya, anak itu memulai dari bahasa reseptif dulu kemudian berlanjut ke bahasa ujar. Pada saat berusia di bawah 2 tahun, anak baru dapat mengucapkan satu kata, kemudian pada saat berusia sekitar 2 tahun, mereka sudah dapat membentuk kalimat walaupun baru terdiri dari 3 kata.
Pada usia 2 tahun ini, awalnya mereka memasuki tahap telegraphic speech di mana mereka sudah dapat berbicara dengan kalimat yang terdiri dari 2 kata. Contohnya ketika mereka ingin minum susu mereka akan bilang “minta susu” bukan hanya “susu” saja. Jadi, kalau orangtua sudah dapat melihat dari awal jika anaknya bingung dalam membentuk kata-kata, sebaiknya 1 bahasa (bahasa ibu) yang dimantapkan dulu. Nah, yang menyedihkannya sekarang ini, orang-orang ngajarinnya bahasa Inggris dulu. Padahal ibunya belum tentu fasih, jadi anaknya dikirimkan ke sekolah yang menggunakan bahasa Inggris.

bilingual_kidsbilingual_kids
*Gambar dari sini
Metode apa yang sebaiknya digunakan untuk mengajarkan bahasa bilingual pada anak? Apakah melalui film, lagu, buku, diajarkan di sekolah, les, atau ada metode lainnya?
Intinya anak akan cepat belajar kalau learning by doing, dihadapkan pada situasi langsung. Nonton film boleh, tapi kan anak kecil nonton film juga harus dibatasi, setengah jam-1 jam paling lama. Anak cepat mengerti dari film karena ada pembicaraan dan ada asosiasi, tindakannya kelihatan langsung. Jadi, sebaiknya mereka diajarkan bahasanya kemudian langsung diajak melakukan, itu cara yang paling mudah bagi anak untuk dapat mengerti.
Saya nggak setuju kalau anak kecil udah disuruh-suruh les gitu, terutama yang di bawah 5 tahun. Kalau sudah 5 tahun dan orangtuanya tidak terlalu paham dan mereka ingin mengursuskan anaknya, boleh, tapi jangan yang metodenya formal. Contoh dari learning by doing, misalnya belajar dari lagu sambil gerak, itu anak akan lebih cepat mengerti dan nggak bosan.
Apakah anak sebaiknya dibimbing oleh orang dewasa dalam mempelajari bahasa bilingual atau dibiarkan belajar sendiri?
Anak bisa belajar dari film, biasanya mereka cepat lancar kalau belajar dari sana. Namun, sebaiknya jangan dilepas begitu saja sama orangtua, harus ada interaksi. Sebab banyak juga anak-anak yang kesannya fasih, aksennya juga seperti aksen Barat tetapi mereka mengucapkannya seperti memorizing, meniru, membeo, tanpa mengerti maknanya. Orangtua perlu tahu, bahwa dalam mengajarkan bahasa dan bicara, anak itu paham tidak dengan apa yang dibicarakan. Jadi jangan sekedar bicaranya lancar tapi nggak ada tujuannya, kontennya nggak sesuai dengan konteksnya.
Bagaimana dengan bahasa multilingual? Apakah memerlukan usia yang lebih besar untuk mempelajarinya atau sama saja dengan bahasa bilingual?
Ada anak yang memang sudah memiliki bakat bahasa multilingual, itu juga perlu perhatian dari orangtua bahwa mereka dapat melihat anaknya cepat dapat menangkap kata-kata dan mengujarkannya tanpa mengganggu pemahaman dan pengujaran bahasa lainnya. Untuk anak seperti itu, ya oke saja. Namun, kan lebih banyak anak yang perkembangannya normal, jadi tidak perlu ambisius lah, 2 bahasa saja cukup, tapi saya berpatokan sebaiknya 1 bahasa saja dulu, kalau sudah fasih baru diajarkan bahasa kedua. Keuntungan anak belajar bahasa dari kecil itu sebenarnya lebih ke aksen sih, tapi aksen itu juga tergantung dari aksen si pengajar dan orang di rumah.
Bagaimana cara memotivasi anak agar terus mempertahankan kedua bahasa tersebut dan tidak cepat bosan?
Anak itu akan bosan kalau ikut kursus yang formal, tapi kalau kursusnya itu learning by doing dengan fokusnya play, biasanya anak akan senang. Misalnya sambil membuat prakarya atau bermain bola, sambil istilah-istilahnya itu diajarkan. Tapi mereka nggak harus memorizing kata-kata, itu yang biasanya bikin anak bosen. Untuk masalah grammar, orang Barat aja baru jago grammar saat sudah hampir dewasa, jadi untuk anak-anak Indonesia tidak perlu diajarkan grammar banyak-banyak, nanti mereka lama-lama juga akan bisa. Spelling juga baru bisa lancar ketika mereka sudah terpapar dengan kegiatan menulis, untuk sekarang kan lebih ke conversation.
Bu Mayke juga memberi pesan tambahan untuk para Mommies nih!
  1. Jangan menganggap bahasa Indonesia itu sebagai bahasa kedua, anak-anak itu terlebih dulu harus menguasai bahasa Indonesia. Jangan sampai mereka asing dengan bahasanya sendiri.
  2. Memang dibutuhkan penguasaan bahasa asing di jaman sekarang, tapi jangan terlalu dipaksakan, lihat juga perkembangan anaknya.
Mudah-mudahan wawancara ini dapat membantu para Mommies yang masih suka bingung ya! :D

https://id.she.yahoo.com/mulai-kapan-sebaiknya-belajar-bahasa-bilingual-075654416.html

Resep Gulai Kepala Ikan Kakap

Resep Gulai Kepala Ikan Kakap

Bahan
2 potong kepala ikan kakap ukuran sedang
1 sendok makan air jeruk nipis
7 gelas santan dari 1 buah kelapa
2 batang serai
1½ ruas jari lengkuas, keprek
1 lembar daun kunyit
10 lembar daun jeruk, buang tulang daunnya
2 asam kandis
Garam

Ulek Halus
9 butir bawang merah
3 siung bawang putih
5 cabai merah besar
1½ ruas jari jahe
1½ ruas jari kunyit

Caranya :
Cuci bersih kepala ikan kakap, lumuri perasan jeruk nipis dan garam.  Diamkan selama 15 menit.
Masukkan bumbu halus ke santan bersama serai, lengkuas, daun kunyit, dan daun jeruk, hingga harum. Masak hingga tercium harum dan santan mendidih.
Masukkan kepala ikan dan asam kandis. Masak di atas api kecil hingga kepala ikan berubah warna dan santan berminyak. Beri garam, aduk rata. Cicipi.
Angkat.

https://id.she.yahoo.com/gulai-kepala-ikan-092822363.html

4 Cara Dorong Diri Sendiri Buat Kerja Keras

4 Cara Dorong Diri Sendiri Buat Kerja Keras

Tak semua pegawai merasa bersemangat saat berangkat ke kantor. Ada saja perasaan jenuh dan malas yang menganggu hingga membuat semangat tersebut berkurang saat bekerja.
Meski begitu, sebenarnya ada banyak hal yang bisa mendorong Anda agar lebih semangat dalam bekerja. Bahkan Anda bisa memotivasi diri sendiri tanpa bantuan orang lain.
Ingat, semangat untuk bekerja keras merupakan salah satu kunci untuk mencapai kesuksesan. Berikut empat cara memotivasi diri sendiri untuk bekerja keras seperti dikutip dari Business Insider, Jumat (3/10/2014):
1. Fokus pada Tujuan Berkarir
Salah satu cara termudah mendorong diri sendiri adalah dengan merasa yakin pekerjaan tidak akan terasa berat saat Anda bekerja keras. Fokus pada tujuan Anda akan membuat pekerjaan apapun terasa jauh lebih mudah.
Buatlah kerja keras sebagai sesuatu yang mudah dengan menganggapnya sebagai tantangan untuk ditaklukan.
2. Berkumpul dengan Rekan Kerja yang Bekerja Keras
Hindari rekan kerja yang senang mengeluh dan malas. Pastikan Anda berkumpul dengan rekan kerja yang senang bekerja keras serta membantu Anda.
Itu lantaran pikiran dan perilaku Anda juga sedikit banyak dipengaruhi rekan kerja lain.
3. Permudah Pekerjaan yang Ada
Buatlah pekerjaan menjadi mudah dengan membaginya ke dalam tugas-tugas kecil. Yang terpenting adalah mengerjakannya secara keseluruhan dan langkah tadi akan membantu Anda membuatnya menjadi lebih mudah.
4. Bersikap Positif
Kegagalan dapat menimpa siapa saja yang tidak yakin dirinya dapat meraih kesuksesan. Pastikan Anda selalu berpikir dan bersikap positif saat bekerja.
Jangan pernah melihat pegawai lain sukses dengan rendah diri. Tapi jadikan kesuksesan orang lain sebagai cambuk untuk diri sendiri agar gemilang dalam berkarir. (Sis/Ahm)

https://id.she.yahoo.com/4-cara-dorong-diri-sendiri-223019477.html

Sebab Orang Berperilaku Mesum di Tempat Umum

Sebab Orang Berperilaku Mesum di Tempat Umum

Kasus pelecehan seksual di kendaraan umum bukan merupakan hal baru. Sudah lusinan pencabulan yang menimpa penumpang kendaraan umum, terutama perempuan di kereta atau bus. Beberapa korban mendapatkan sentuhan kurang ajar, lainnya terpaksa melihat alat vital yang sengaja dipamerkan pelaku.
Pelecehan seksualPelecehan seksual

Menurut psikolog Fredrick Purba, orang yang melakukan pencabulan di ruang publik teridentifikasi mengalami gangguan psikologis. Dan masalah kejiwaan itu terbagi dua jenis: frotteurism sertaexhibitionism.

Frotteurism adalah perilaku seksual menyimpang untuk mencapai kepuasan seksual,” kata Bang Jeki, sapaan akrab Frederick, ke Plasadana.com untuk Yahoo Indonesia, Senin, 29 September 2014. 

Pelaku akan mencapai kepuasan setelah menggesekkan atau menempelkan alat kelamin ke tubuh orang lain, tanpa izin. Dan biasanya, aktivitas ini terjadi ketika korban sulit untuk memberi respon cepat, semisal di kendaraan umum atau tempat keramaian lain. 

“Jika bertemu orang seperti ini, Anda harus menunjukkan kuasa,” kata Bang Jeki. “Seperti berbalik badan lalu bentak si pelaku, memukul badan atau alat kelamin, dan berteriak melaporkan pada orang lain.”

Sedangkan exhibitionism adalah perilaku untuk mencapai kepuasan seksual dengan menunjukkan alat kelamin, seperti payudara, vagina, penis, dan bokong ke orang lain. Lagi-lagi terjadi di tempat umum dan tanpa seizin orang yang berhadapan dengannya.

Untuk kasus exhibitionism, Bang Jeki mengatakan, jarang terjadi di kendaraan umum. Pelaku cenderung melakukannya di taman atau jalan, tempat orang berlalu lalang. Bila menghadapi orang seperti ini, sebaiknya Anda lihai menguasai diri dan tidak memperlihatkan rasa kaget. 

“Lempar si pelaku dengan barang atau batu. Tapi jangan lempar ponsel Anda ya, mahal beli barunya nanti!” kata dia seraya tertawa. “Melemparkan barang atau memukul akan menjadi hukuman bagi pelaku.”

Menurut Bang Jeki, ada banyak penyebab orang melakukan pelecehan seksual di tempat umum. Namun ia merangkumnya menjadi tiga pemicu:

1.    Pengalaman traumatik seksual masa lalu.
Ini terjadi kala pelaku pernah menjadi korban perilaku seksual yang tak pantas. Sehingga sisi seksualitas pelaku tidak berkembang dengan normal dan mengekspresikannya secara tak wajar pula.

2.    Mengalami atau melihat perilaku seksual yang menyimpang, secara berulang.
Untuk penyebab yang satu ini, pelaku akan cenderung meniru perilaku itu hingga mendapatkan kepuasan. Misalnya seorang anak melihat anggota keluarga atau teman yang lebih tua menggesek-gesekkan maupun menunjukkan kelamin ke orang lain, lalu mendapatkan kepuasan atau pujian.

“Si anak akan terdorong melakukan hal yang sama untuk mendapatkan kepuasan atau pujian itu,” ujar Bang Jeki. “Saat ia secara berulang mendapatkannya, perilaku itu berubah menjadi kebiasaan.”

3.    Konsep diri (self concept) dan harga diri (self esteem) rendah.
Biasanya ini terjadi kala pelaku menjalin relasi romantis atau hubungan seksual dengan lawan jenis. Ketidakmampuan menjalin hubungan intim untuk mendapatkan pemuasan kebutuhan seksual menyebabkan ia memilih cara lain. Seperti menggesekkan atau memamerkan alat kelamin ke orang lain.

Agar pelaku sembuh dari gangguan seksual, ada beberapa bentuk penanganannya. Misalnya dengan terapi perilaku, khususnya cognitive-behaviour therapy (CBT). Penyembuhan ini dapat dilakukan oleh psikolog atau psikiater yang menguasai keterampilan CBT. Ada pula terapi kelompok, khususnya family therapy. “Di sini, bukan hanya pelaku yang mendapatkan intervensi, juga guna memberikan bantuan dan dukungan psikologis,” kata Bang Jeki.

Pelaku bisa pula mengikuti pelatihan peningkatan keterampilan sosial dan berelasi intim. Cara ini pun harus dilakukan dengan bimbingan psikolog atau terapis perilaku. Sementara pengobatan medis dengan obat penurun testoteron mampu mengurangi dorongan seks.

https://id.she.yahoo.com/sebab-orang-berperilaku-mesum-di-tempat-umum-071917608.html